iDAN

09 Ogos 2010

PANDUAN PUASA RAMADAN

Oleh: Ustadz Abu Rasyid

MUQADDIMAH

Artinya: Diriwayatkan dari Anas ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Apabila ada sesuatu dari urusan duniamu, maka kamu lebih tahu tentang hal itu. Jika ada urusan dienmu, maka akulah tempat kembalinya ( ikuti aku ). ( H.R Ahmad).

Artinya : Dirwayatkan dari 'Aisyah ra : Rasulullah saw. telah bersabda : Barangsiapa melakukan perbuatan yang bukan perintah kami, maka ia tertolak ( tidak diterima). Dan dalam riwayat lain: Barangsiapa yang mengada-adakan dalam perintah kami ini yang bukan dari padanya, maka ia tertolak. Sementara dalam riwayat lain : Barangsiapa yang berbuat sesuatu urusan yang lain daripada perintah kami, maka ia tertolak.
(HR.Ahmad. Bukhary dan Abu Dawud).

Kandungan dua hadits shahih di atas menerangkan dengan jelas dan tegas bahwa segala perbuatan, amalan-amalan yang hubungannya dengan dien/syari'at terutama dalam masalah ubudiyah wajib menurut panduan dan petunjuk yang telah digariskan oleh Rasulullah saw. Tidak boleh ditambah dan/atau dikurangi meskipun menurut fikiran seolah-olah lebih baik. Diantara cara syaitan menggoda ummat Islam ialah membisikkan suatu tambahan dalam urusan Dien. Sayangnya, perkara ini dianggap soal sepele, enteng dan remeh. Padahal perbuatan seperti itu adalah merupakan suatu kerusakan yang amat fatal dan berbahaya.

Sabda Rasul saw. :

"Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, katanya : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. berkhutbah kepada manusia pada waktu haji Wada' . Maka beliau bersabda : Sesungguhnya Syaithan telah berputus asa ( dalam berusaha ) agar ia disembah di bumimu ini. Tetapi ia ridha apabila (bisikannya) ditaati dalam hal selain itu; yakni suatu amalan yang kamu anggap remeh dari amalan-amalan kamu, berhati-hatilah kamu sekalian. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untukmu , yangjika kamu berpegang kepadanya niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya. Yaitu: Kitab Allah dan sunnah NabiNya. " ( HR. Hakim ).

Dengan demikian dapat difahami bagaimana Rasulullah saw. mengingatkan kita agar selalu waspada terhadap provokasi setan untuk beramal dengan menyalahi tuntunan Nabi sekalipun hal itu nampak remeh. "Diriwayatkan dari Ghudwahaif bin Al-Harits ra: ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw. : Setiap suatu kaum mengadakan Bid'ah, pasti saat itu diangkat (dihilangkan ) sunnah semisalnya. Maka berpegang teguh kepda sunnah itu lebih baik daripada mengadakan bid'ah" ( HR. Ahmad ).

Jadi, ketika amalan bid'ah ditimbulkan betapapun kecilnya, maka pada saat yang sama Sunnah telah dimusnahkan. Pada akhirnya lama kelamaan yang nampak dalam dien ini hanyalah perkara bid'ah sedangkan yang Sunnah dan original telah tertutup. Pada saat itulah ummat Islam akan menjadi lemah dan dikuasai musuh.

Insya Allah tak lama lagi kita akan menyambut kedatangan Ramadan,dalam bulan yang penuh berkat ini kita diwajibkan menjalankan ibadah puasa Ramadan

sebulan penuh , yang mana hal tersebut merupakan salah satu bagian dari rukun Islam. Karenanya hal tersebut amat penting. Berkaitan dengan hal diatas, maka kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat menunaikan ibadah puasa ini sesempurna mungkin , benar-benar bebas dari bid'ah sesuai dengan panduan yang telah digariskan oleh Rasulullah saw.

Untuk keperluan itulah dalam risalah yang sederhana ini diterangkan beberapa hal yang berkaitan dengan amaliah puasa Ramadan, zakat fithrah, dan Shalat 'Ied

berdasarkan Nash-nash yang Shariih ( jelas ). Dalil - dalil dan KESIMPULAN dibuat agar mudah difahami antara hubungan amal dengan dalilnya. Dan -tak ada gading yang tak retak- kata pepatah, sudah barang tentu risalah ini sangat jauh dari sempurna, untuk menuju kesempurnaannya bantuan dari pemakai amat diharapkan. Semoga risalah ini diterima oleh Allah sebagai Amal Shalih yang bermanfaat terutama di akhirat nanti. Amien.

I. MASYRU'IYAT DAN MATLAMAT PUASA RAMADAN.

1. "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa "( QS Al-Baqarah : 183 ).

2. "Bulan Ramadan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil ), karena itu barangsiapa diantara kamu menyaksikan (masuknya bulan ini ), maka hendaklah ia puasa... " ( Al-Baqarah : 185).

3. " Telah bersabda Rasulullah saw. : Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad ituadalah

utusan Allah. Mendirikan Shalat Mengeluarkan Zakat puasa di bulan Ramadan Menunaikan haji ke Ka'bah. ( HR.Bukhari Muslim ).

4. "Diriwayatkan dari Thalhah bin ' Ubaidillah ra. : bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi saw. : ia berkata : Wahai Rasulullah beritakan

kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda : puasa Ramadan. Lalu orang itu bertanya lagi : Adakah puasa lain yang diwajibkan atas

diriku ?. Beliau bersabda : tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah. ".

KESIMPULAN : Dari ayat-ayat dan hadits-hadits diatas, kita dapat mengambil pelajaran :

1. puasa Ramadan hukumnya Fardu ‘Ain ( dalil 1, 2, 3 dan 4 ).

2. puasa Ramadan disyari'atkan bertujuan untuk menyempurnakan ketaqwaan (dalil no 1).


II. KEUTAMAAN BULAN RAMADAN DAN KEUTAMAAN BERAMAL DIDALAMNYA

1. Artinya : Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra: Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pernah bersabda : Ketika datang bulan Ramadan: Sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu Jannah dibuka, pintu Neraka ditutup, Setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya ( tidak beramal baik didalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini). ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

2. "Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata : Aku berada di tempat 'Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi saw. ketika Utbah

melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadan ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda tentang bulan Ramadan: Di bulan Ramadan ditutup seluruh pintu Neraka, dibuka seluruh pintu Jannah, dan dalam bulan ini Setan dibelenggu. Selanjutnya ia berkata : Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru : Wahai orang yang selalu mencari/ beramal kebaikan bergembiralah anda, dan wahai orang-orang yang mencari/berbuat kejelekan berhentilah ( dari perbuatan jahat) . Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadan." (Riwayat Ahmad dan Nasai )

3. " Diriwayatkan dari Abi Hurairah ra. Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Shalat Lima waktu, Shalat Jum'at sampai Shalat Jum'at berikutnya, puasa Ramadan sampai puasa Ramadan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat diantara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi." ( H.R.Muslim)

4. "Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: puasa dan Qur'an itu memintakan syafa’at seseorang hamba di hari

Kiamat nanti. puasa berkata : Wahai Rabbku,aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya di siang hari, maka berilah aku hak untuk

memintakan syafa'at baginya. Dan berkata pula AL-Qur'an : Wahai Rabbku aku telah mencegah dia tidur di malam hari ( karena membacaku ), maka berilah aku

hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memmintakan syafaat." ( H.R. Ahmad, Hadits Hasan).

5. "Diriwayatkan dari Sahal bin Sa'ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : bahwa sesungguhnya bagi Jannah itu ada sebuah pintu yang disebut " Rayyaan".

Pada hari kiamat dikatakan : Dimana orang yang puasa? ( untuk masuk Jannah melalui pintu itu), jika yang terakhir diantara mereka sudah memasuki pintu itu,

maka ditutuplah pintu itu." (HR. Bukhary Muslim).

6. Rasulullah saw. bersabda : Barangsiapa puasa Ramadan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang ( HR.Bukhary

Muslim).

KESIMPULAN : Kesemua Hadits di atas memberi pelajaran kepada kita, tentang keutamaan bulan Ramadan dan keutamaan beramal didalamnya, diantaranya :

1. Bulan Ramadan adalah:

  • Bulan yang penuh Barakah.
  • Pada bulan ini pintu Jannah dibuka dan pintu neraka ditutup.
  • Pada bulan ini Setan-Setan dibelenggu.
  • Dalam bulan ini ada satu malam yang keutamaan beramal didalamnya lebih baik daripada beramal seribu bulan di bulan lain, yakni malam LAILATUL QADR.
  • Pada bulan ini setiap hari ada malaikat yang menyeru menasehati siapa yang berbuat baik agar bergembira dan yang berbuat ma'shiyat agar menahan diri. (dalil 1 & 2).

2. Keutamaan beramal di bulan Ramadan antara lain :

  • Amal itu dapat menutup dosa-dosa kecil antara setelah Ramadan yang lewat sampai dengan Ramadan berikutnya.
  • Menjadikan bulan Ramadan memintakan syafaa't.
  • Khusus bagi yang puasa disediakan pintu khusus yang bernama Rayyaan untuk memasuki Jannah. ( dalil 3, 4, 5 dan 6).

III. CARA MENETAPKAN AWAL DAN AKHIR BULAN

1. "Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. beliau berkata : Manusia sama melihat Hilal (bulan sabit), maka akupun mengabarkan hal itu kepada Rasululullah saw. Saya

katakan : sesungguhnya saya telah melihat Hilal. Maka beliau saw. puasa dan memerintahkan semua orang agar puasa." ( H.R Abu Dawud, Al-Hakim dan Ibnu Hibban).(Hadits Shahih).

2. "Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Mulailah puasa karena melihat ru'yah dan berbukalah ( akhirilah puasa

Ramadan ) dengan melihat ru'yah. Apabila awan menutupi pandanganmu, maka sempurnakanlah bulan Sya'ban selama Tiga Puluh hari. "( HR. Bukhary Muslim).

KESIMPULAN

  • Menetapkan awal dan akhir bulan Ramadan dengan melihat ru'yah, meskipun bersumber dari laporan seseorang, yag penting adil ( dapat dipercaya ).
  • Jika bulan sabit ( Hilal ) tidak terlihat karena tertutup awan, misalnya, maka bilangan bulan Sya'ban digenapkan menjadi Tiga Puluh hari. ( dalil 1 dan 2).
  • Pada dasarnya ru'yah yang dilihat oleh penduduk di suatu negara, berlaku untuk seluruh dunia. Hal ini akan berlaku jika Khilafah ' Ala Minhaajinnabiy sudah tegak ( dalil 2 ).
  • Selama khilafah belum tegak, untuk menghindarkan meluasnya perbedaan pendapat ummat Islam tentang hal ini, sebaiknya ummat Islam mengikuti ru'yah yag nampak di negeri masing-masing. ( ini hanya pendapat sebagian ulama).

IV. RUKUN PUASA

1. "... dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, kemudian

sempurnakanlah puasa itu sampai malam...( AL-Baqarah :187).

2. "Adiy bin Hatim berkata : Ketika turun ayat ; artinya (...hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam...), lalu aku mengambil seutas benang hitam dan seutas benang putih, lalu kedua utas benang itu akau simpan dibawah bantalku. Maka pada waktu malam saya amati, tetapi tidak tampak jelas, maka saya pergi menemui Rasulullah saw. Dan saya ceritakan hal ini kepada beliau. Beliapun bersabda: Yang dimaksud adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar). " ( H.R. Bukhary Muslim).

3. "Allah Ta'ala berfirman : " Dan tidaklah mereka disuruh, kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untukNya " ( Al-Bayyinah :5)

4. "Rasulullah saw. bersabda : Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan." ( H.R Bukhary dan Muslim).

5. "Diriwayatkan dari Hafshah , ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. : Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadan) sejak malam, maka tidak ada puasa

baginya ." (HR. Abu Dawud) Hadits Shahih.

KESIMPULAN:

Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahawa rukun puasa Ramadan adalah sebagai berikut :

a. Berniat sejak malam hari ( dalil 3,4 dan 5).

b. Menahan makan, minum, koitus (Jima') dengan isteri di siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ( Maghrib), ( dalil 1 dan 2).

V. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADAN.

1. "Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa. " (Al-Baqarah : 183)

2. "Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata : Sesungguhnya nabi saw telah bersabda : telah diangkat pena ( kewajiban syar'i/ taklif) dari tiga golongan .

- Dari orang gila sehingga dia sembuh - dari orang tidur sehingga bangun - dari anak-anak sampai ia bermimpi / dewasa." ( H.R. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

KESIMPULAN

Keterangan di atas mengajarkan kepada kita bahwa : yang diwajibkan puasa Ramadan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah

baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

VI. YANG DILARANG PUASA

1. "Diriwayatkan dari 'Aisyah ra. ia berkata : Disaat kami haidh di masa Rasulullah saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak

diperintah mengqadha Shalat "( H.R Bukhary Muslim).

KESIMPULAN

Keterangan di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

VII. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADAN

1. "(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadan yang padanya diturunkan Al-Qur'an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi

keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang

menyaksikan anak bulan Ramadan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia puasa di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia

berbuka, kemudian wajiblah ia puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki

kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadan), dan

supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur." ( Al-Baqarah:185.)

2. "Diriwayatkan dari Mu'adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka DIA turunkan ayat ( dalam surat

AL-Baqarah : 183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain ( AL-Baqarah : 185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah ( keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi oran yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa. " ( HR. Ahmad, Abu Dawud, AL-Baihaqi dengan sanad shahih).

3. "Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy : Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya ? Maka beliau bersabda :

hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta'ala, maka barangsiapa yang menggunakannya maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya " ( H.R.Muslim)

4. "Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudry ra. ia berkata : Kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa. Selanjutnya ia

berkata : Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada ditempat yang dekat dengan musuh kalian,

dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka diantara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian,maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kamipun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa ." ( H.R Ahmad, Muslim dan Abu Dawud).

5. "Diriwayatkan dari Sa'id Al-Khudry ra. ia berkata : Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. di bulan Ramadan. Diantara kami ada

yang puasa dan diantara kami ada yang berbuka . Yang puasa tidak mencela yang berbuka ,dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka,maka hal ini juga baik"

(HR. Ahmad dan Muslim)

6. "Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat , tetapi mereka tetap

puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu

sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda : mereka itu adalah durhaka." (HR.Tirmidzy).

7. "Ucapan Ibnu Abbas : wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup

membayar fidyah memberi makan orang miskin " ( Riwayat Abu Dawud ). Shahih

8. "Diriwayatkan dari Nafi' dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya ( tentang puasa Ramadan ), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka

ia menjawab : Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa ." (Riwayat Baihaqi) Shahih.

9. "Diriwayatkan dari Sa'id bin Abi 'Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata : Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang

menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadan. Beliau berkata : Keduanya boleh berbuka (tidak puasa ) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa" (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syaratMuslim , kitab AL-irwa jilid IV hal 19).

KESIMPULAN: Pelajaran yang dapat diambil dari keterangan di atas adalah : Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadan, tetapi wajib mengqadha di bulan lain, mereka itu ialah :

  1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
  2. Orang yang bepergian ( Musafir ). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.

Orang Mu'min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:

  1. Umurnya sangat tua dan lemah.
  2. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.
  3. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
  4. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
  5. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan. ( dalil 2,7,8 dan 9).

VIII HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA

1. "...dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar ), kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam..." ( Al-Baqarah : 187).

2. "Dari Abu Hurairah ra.: bahwa sesungguhnya nabi saw. telah bersabda : Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum " (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama'ah kecuali An-Nasai).

3. Dari Abu Hurairah ra. bahwa sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Barang siapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa - maka tidak wajib qadha ( puasanya tetap sah ), sedang barang siapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha ( puasanya batal ). ( H.R : Abu Daud dan At-Tirmidziy )

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata : Disaat kami berhaidh ( datang bulan ) dimasa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya

dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

5. Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barang siapa yang tidak berniat untuk puasa ( Ramadan ) sejak malam, maka tidak ada

puasa baginya. ( H.R : Abu Daud ) hadits shahih.

6. Telah bersabda Rasulullah saw: Bahwa sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (di siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa ( Ramadan ), maka Rasulullah saw bersabda : Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan ? Ia menjawab : Tidak. Rasulullah saw bersabda : Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Beliau

bersabda lagi : Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin ? Lelaki itu menjawab : Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya : dimana orang yang bertanya tadi ? ambilah

kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya : Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah ? Demi Allah tidak ada diantara

sudut-sudutnya ( Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda :

Ambillah untuk memberi makan keluargamu. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

KESIMPULAN

Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas menerangkan kepada kita bahwa hal-hal yang dapat membatalkan puasa ( Ramadan ) ialah sbb :

  • Sengaja makan dan minum di siang hari. Bila terlupa makan dan minum di siang hari, maka tidak membatalkan puasa. ( dalil : 2 )
  • Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa. ( dalil :3 )
  • Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka. (dalil : 5 dan 6 )
  • Dengan sengaja menyetubuhi istri di siang hari Ramadan, ini disamping puasanya batal ia terkena hukum yang berupa : memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin.( dalil : 7 )
  • Datang bulan di siang hari Ramadan ( sebelum waktu masuk Maghrib ).( dalil : 4 )

IX. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU IBADAH PUASA.

1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi. (H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya : Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas. ( H.R : Ahmad, Malik dan Abu Daud )

3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa. (H.R : Al-Bukhary ) .

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium ( istrinya ) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh ) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya. ( H.R : Al-Jama'ah kecuali Nasa'i) hadits shahih.

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj : Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata : Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu ? Maka ia menjawab : Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa. ( H.R : Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim ).

6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda : Apabila kamu beristinsyaaq ( menghisap air ke hidung )

keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. ( H.R :Ashhabus Sunan )

7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya ( Ahmad dan Al-Bukhary ).

KESIMPULAN

Hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa hal-hal tersebut di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa :

  1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
  2. Menta'khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh. (dalil : 1 )
  3. Berbekam pada siang hari. ( dalil : 3 )
  4. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari.( dalil 4 dan 5 )
  5. Beristinsyak ( menghirup air kedalam hidung )terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya. ( dalil : 6 )
  6. Disuntik di siang hari.
  7. Mencicipi makanan asal tidak ditelan.(dalil :7)

ADAB-ADAB PUASA RAMADAN.

1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang

matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad : Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda : Manusia ( ummat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan

(menyegerakan) berbuka. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk. ( H.R : Abu Daud dan Al-Hakiem )

4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Apabila salah seorang diantara kamu puasa hendaklah berbuka dengan

kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih. ( H.R : Ahmad dan At-Tirmidzi )

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar : Adalah Nabi saw. selesai berbuka Beliau berdo'a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala

tetap ada Insya Allah. ( H.R : Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan )

6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu ( yang sudah terhidang ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah. (H.R : Al-Bukhary )

8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma'di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda : Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah. ( H.R : An-Nasa'i )

9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit t berkata : Kami bersahur bersama Rasulullah saw. kemudian kami bangkit untuk menunaikan shalat ( Shubuh ). saya berkata :

Berapa saat jarak antara keduanya ( antara waktu sahur dan waktu Shubuh )?Ia berkata : Selama orang membaca limapuluh ayat. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata : Adalah para sahabat Muhammad saw. adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur. ( H.R : Al-Baihaqi )

11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia

menyelesaikan hajatnya ( makan/minum sahur )daripadanya. (H.R : Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem )

12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata : Shalat telah di'iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra. beliau bertanya : Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah ? Beliau r.a menjawab : ya, lalu ia meminumnya. ( H.R Ibnu Jarir )

13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata :Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan ketika

Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadan untuk mentadaruskan beliau saw. al-qur'an dan benar-benar Rasulullah saw. lebih dermawan tentang kebajikan( cepat berbuat kebaikan ) daripada angin yang dikirim.(HR Al-Bukhary )

14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam ) di bulan Ramadan tanpa memerintahkan

secara wajib, maka beliau bersabda : Barang siapa yang shalat malam di bulan Ramadan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu. ( H.R : Jama'ah )

15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir ( bulan Ramadan ) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah ) dan membangunkan istrinya ( agar beribadah ) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya ). ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata : Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir ( di bulan Ramadan ) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya. ( H.R : Muslim )

17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan

Ramadan ? maka ia menjawab : Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka'at baik di bulan Ramadan maupun di bulan lainnya, caranya :

Beliau shalat empat raka'at jangan tanya baik dan panjangnya, kemudian shalat lagi empat raka'at jangan ditanya baik dan panjangnya, kemudian shalat tiga

raka’at. ( H.R : Al-Bukhary,Muslim dan lainnya )

18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka'at yang ringan,

kemudian shalat delapan raka'at, kemudian shalat witir. ( H.R : Muslim )

19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata : Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata : Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam ? Maka

Rasulullah r. menjawab : Shalat malam itu dua raka'at dua raka'at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka'at. ( H.R : Jama'ah)

20. Dari Aisyah ra. ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau ( bermakmum di belakang ), lalu

beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum dibelakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka

berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda : Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang

menghalangi aku untuk keluar kepada kalian ( untuk mengimami shalat ) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadan. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

21. Dari Ubay bin Ka'ab t. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca : Sabihisma Rabbikal A'la )dan ( Qul ya ayyuhal kafirun)

dan (Qulhu wallahu ahad ). ( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i dan Ibnu Majah )

22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali t. ia berkata : Rasulullah saw. telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam qunut witir : ( artinya ) Ya

Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri

kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang

telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. ( H.R : Ahmad, Abu Daud, Annasa'i, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah )

23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda :Barang siapa yang shalat malam menepati lailatul qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu. ( H.R :Jama'ah )

24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda : berusahalah untuk mencari lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir. (H.R : Muslim )

25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata : Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa lailatul qadar pada malam kedua puluh tujuh, maka

Rasulullah saw. bersabda : Sayapun bermimpi seperti mimpimu, ( ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia ( lailatul qadar ) pada malam-malam ganjil. ( H.R : Muslim )

26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat tuan bila saya mengetahui lailatul qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu ? Beliau bersabda : Bacalah ( artinya ) Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku. (H.R : At-Tirmidzi dan Ahmad)

27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw mengamalkan i'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadan sampai beliau diwafatkan

oleh Allah Azza wa Jalla. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

28. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila hendak beri'tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat

i'tikafnya.......... ( H.R :Jama'ah kecuali At-Tirmidzi )

29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Adalah Rasulullah saw. apabila beri'tikaf , beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia ( buang air, mandi dll...) ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim )

30. Allah ta'ala berfirman : ( artinya ) Janganlah kalian mencampuri mereka( istri-istri kalian ) sedang kalian dalam keadaan i'tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan di dekati...( Al-Baqarah : 187 )

31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Telah bersabda Rasulullah saw: Setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku

dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji , jangan

berteriak-teriak ( pertengkaran ), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan : " sesungguhnya saya sedang puasa" . Demi jiwa Muhammad yang ada di tanganNya sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi disisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, apabila ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan apabila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya. ( H.R : Al-Bukhary dan Muslim)

32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata : Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda : Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan

kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat ( untuk menerima ) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya. ( H.R: Jama'ah Kecuali Muslim ) Maksudnya

Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.

33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan : Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji

bersama kami ? Ia menjawab : Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya ) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi : Umrah di bulan Ramadan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku. ( H.R :Muslim)

34. Rasulullah sw. bersabda : Apabila datang bulan Ramadan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadan ) setingkat dengan haji. ( H.R : Muslim)

KESIMPULAN

Ayat dan hadits-hadits tersebut di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadan kita perlu melaksanakan adab-adab sbb :

1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib. ( dalil: 6 ) Sunnah berbuka adalah sbb :

  1. Disegerakan yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat. ( dalil: 2,3 dan 4 )
  2. Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu. ( dalil : 6 )
  3. Setelah berbuka berdo'a dengan do'a sbb : Artinya : Telah hilang rasa haus, dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap wujud insya Allah. ( dalil: 5 )

2. Makan sahur. ( dalil : 7 dan 8 ) Adab-adab sahur :

a. Dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh. (dalil 9 dan 10 )

b. Apabila pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur

karena sudah masuk waktu Shubuh. ( dalil 11 dan 12 ) * Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi'in.

3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-qur'an ( dalil : 13 )

4. Menegakkan shalat malam / shalat Tarawih dengan berjama'ah. Dan shalat Tarawih ini lebih digiatkan lagi pada sepuluh malam terakhir( 20 hb. sampai akhir Ramadan). (dalil : 14,15 dan 16 ) Cara shalat Tarawih adalah :

  1. Dengan berjama'ah. ( dalil : 19 )
  2. Tidak lebih dari sebelas raka'at yakni salam tiap dua raka'at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka'at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka'at. ( dalil : 17 )
  3. Dibuka dengan dua raka'at yang ringan. ( dalil : 18)
  4. Bacaan dalam witir : Raka'at pertama : Sabihisma Rabbika. Roka't kedua : Qul yaa ayyuhal kafirun. Raka'at ketiga : Qulhuwallahu ahad. ( dalil : 21 )
  5. Membaca do'a qunut dalam shalat witir. ( dalil 22 )

5. Berusaha menepati lailatul qadar pada sepuluh malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati lailatul qadar hendaklah lebih giat

beribadah dan membaca : Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku. ( dalil : 25 dan 26 )

6. Mengerjakan i'tikaf pada sepuluh malam terakhir. (dalil : 27 )

Cara i'tikaf :

a. Setelah shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i'tikaf di masjid. ( dalil 28 )

b. Tidak keluar dari tempat i'tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak. ( dalil : 29 )

c. Tidak mencampuri istri dimasa i'tikaf. ( dalil : 30)

7. Mengerjakan umrah. ( dalil : 33 dan 34 )

8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran. (dalil : 31 dan 32 )

Maraji’ (Daftar Pustaka):

1. Al-Qur’anul Kariem

2. Tafsir Aththabariy.

3. Tafsir Ibnu Katsier.

4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani.

5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq.

6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.

07 Ogos 2010

Tanya sesuatu ke hadrat Pengunjung


Mungkin ada kalangan pengunjung blog ini yang perasan, aku telah pun menulis blog sejak tahun 2000 lagi, yang aktif sekitar tahun 2005 ke atas. Pada saat awalnya aku banyak menulis puisi di Melayu.com & beberapa situs di Indon; banyak puisi tu tersimpan di dalam e-melku, tak semua dapat kupaparkan di laman sesawang.

Malahan mungkin ramai tak tahu aku punyai blog yang lain selain blog ini.

1. Aku terfikir mahu membukukan tulisanku yang aku rasakan menarik tetapi sukar juga mencari penerbit yang sudi menerbitkannya. Masalah besarnya pasaran terbuka lebih berminat dengan novel & kurang peminatnya dalam genre puisi atau pun catatan pengalaman peribadi seseorang.

2. Aku ada rakan yang boleh membantu menerbitkan buku cara sendiri, seyogia pasti kosnya agak mahal & aku tertanya-tanya siapakah yang akan beli bukuku. Maka aku terfikir ramai kalangan kita suka dengan kisah misteri pun kisah rumah tangga. Petua, masakan & banyak lagi yang aku telah kumpul di blogku. Aku sedang mengutip bahan yang ada dalam blogku & mengolah semula agar sesuai dibaca buat semua. Buat masa ini baru mencecah ke halaman 200 lebih, termasuk gambar. Semuanya kisah misteri, memancing & puisi yang aku rasakan menarik.

3. Jika sesiapa yang berminat nak beli koleksi yang aku telah kumpul mungkin senang dengan adanya alat komunikasi kini, melalui talian terus atau aku boleh memasukkan ianya ke dalam CD atau DVD. Kos membuat sebuah CD atau DVD tak semahal mana, rasanya lagi menarik jika dapat aku mengolahnya menjadi satu catatan kenangan yang siap ada gambar rona & multimedia. Sekitar RM10 pun pastinya telah cukup bagi kos olahan & penghantaran.

4. Satu yang aku risau, apakah jualan begini menjadi kesalahan; kut! masuk lokaplah pula!. Kena berlesen. Rasanya dengan cara begini mudah untuk kita merapatkan hubungan pun ianya lebih kekal & dapat menjadi satu koleksi buat generasi kita jika difikirkan bahan yang saya tulis elok dijadikan panduan.

5. Siapa yang berminat iyer!.


6. Atau kekalkan saja aku menulis. Masalahnya aku makin rabun & makin kurang upaya@kreatif menulis sejak sakit kronik ini.

06 Ogos 2010

Faktor Kelemahan Umat Islam (Agama)


Di dalam kekuatan hebat dan tanah yang meluas ini, faktor-faktor merungkai mula meresap ke dalam kehidupan umat al-Quran ini. Faktor ini membesar dan berkembang sedikit demi sedikit sehingga akhirnya telah merobek Daulah Islam ini dengan hancurnya pusat kerajaan Islam pada kurun ke 6 Hijrah di tangan Tartar. Sekali lagi ianya berlaku pada kurun 14 Hijrah (Kejatuhan Khalifah Othmaniah). Peristiwa ini meninggalkan kesan yang amat buruk. Umat Islam bertaburan dan negara Islam menjadi negeri-negeri kecil. Faktor-faktor yang menjadikan demikian:

1-Perpecahan politik, asabiyyah (fanatik), berebut pangkat dan kepemimpinan. Sedangkan Islam telah memberi amaran keras dalam masalah ini. Islam telah mengingatkan supaya menjauhkan diri dari kepimpinan. Islam berulang kali menarik perhatian umatnya bahawa inilah faktor yang merosak dan menghancurkan mana-mana rakyat dan negara. Allah berfirman, maksudnya; “…dan janganlan kamu bertelagah, nescaya kamu akan gagal dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (al Anfal :46). Disamping itu Islam juga sangat berpesan supaya ikhlas kerana Allah semata-mata dalam percakapan, perbuatan dan hindarkan dari suka kemasyhuran dan pujian.

2-Perbezaan pandangan dalam agama dan mazhab, menyeleweng dari agama yang sepatutnya aqidah dan amalan tetapi bertukar menjadi cakap-cakap dan istilah kaku yang mati. Kecuaian terhadap kitab Allah, sunnah Rasulullah saw, jumud dan fanatik terhadap pendapat dan kata-kata seseorang, suka bertengkar dan berdebat sedangkan semua perkara ini ditegah oleh Islam. Rasulullah saw bersabda, maksudnya “Tidak sesat sesuatu kaum itu selepas mereka mendapat hidayat kecuali oleh kerana mereka suka bertengkar”.

3-Tenggelam dalam pelbagai kemewahan dan kenikmatan, suka berhiburan dan keseronokan. Ianya berlaku begitu dahsyat pada pemerintah-pemerintah Islam lebih dari apa yang berlaku kepada pemerintah bukan Islam. Padahal mereka telah membaca firman Allah, maksudnya; “Dan jika kami hendak membinasakan negeri, maka kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu. Maka sudah sepatutnya berlaku terhadapnya ketentuan kami dan kemudian kami hancurkan negeri itu sehancurhancurnya”. (al Isra’:16)

4-Peralihan kuasa dan pimpinan kepada bukan Arab; samada kepada Farsi, Dailam (suku Kurd), Mamalik, Turki dll. Kebanyakan mereka ini tidak pernah merasa kemanisan Islam yang sebenar. Hati-hati mereka tidak dapat disinari oleh cahaya al-Quran disebabkan kesukaran memahami maksud-maksudnya. Sedangkan mereka telah membaca firman Allah, maksudnya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaan mu orang- orang yang di luar kalangan mu (kerana) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagi mu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepada mu ayat-ayat (Kami) jika kamu mahu memahaminya”. (Al Imran :118)

5-Mengabaikan ilmu-ilmu teknologi dan sains sebaliknya menghabiskan masa dengan teori falsafah dan ilmu-ilmu khayal yang mandul. Sedangkan Islam mengesa mereka supaya mengkaji, menyelidik segala rahsia-rahsia kejadian, meneroka di muka bumi dan berfikir tentang makhluk Allah sebagaimana firman Allah, maksudnya; “Katakanlah, perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi”. (Yunus:101). Masyarakat lain sehingga mereka ketinggalan dalam persiapan dan persediaan yang mana akhirnya mereka telah dicakup sekali gus. Al-Quran telah memerintahkan mereka supaya sentiasa berwaspada dan jangan lalai. Ia mensifatkan orang-orang yang lalai dan cuai tak ubah seperti binatang bahkan lebih sesat dari itu. Firman Allah, maksudnya; “Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak di pergunakannnya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakan untuk mendengar (ayat- ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang- orang yang lalai” (al-A’raf:179).

6-Terpedaya dengan tipu muslihat musuh yang manis di bibir. Mereka merasa kagum dengan carakerja dan kemewahan hidup kuffar musuh. Mereka terburu-buru meniru kuffar tanpa mengira baik buruk. Sedangkan al-Quran sangat menegah muslimin dari meniru atau menyerupai kuffar. Al-Quran terus terang memerintah supaya tidak menyerupai kuffar dan perlunya memelihara ciri-ciri identiti Islam. Firman Allah, maksudnya; “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang al Kitab nescaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman” (aL-Imran:100). Di ayat yang lain, maksudnya; “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu taati orang-orang itu nescaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran) lalu kamu menjadi orang yang rugi” (aL-Imran:149)

Risalah Antara Semalam & Hari Ini – Syeikh Hassan al-Banna

iDAN: Hiburan adalah senjata orang kafir dalam memerangi kita ummah Islam. Sedar tak sedar kita menjadi lalai sehingga terleka dengan suruhan agama.

Jika mahu berhibur biarlah ada batasnya & jangan sesekali meninggalkan perintah Allah terutama Rukun Islam termasuk solat 5 waktu.

Rukun Islam ada lima (5) perkara :

(1) Mengucap dua kalimah syahadat
(2) Sembahyang lima waktu
(3) Berpuasa sebulan dalam bulan Ramadan
(4) Menunaikan haji ke Baitullah (Mekah)
(5) Menunaikan zakat

Mengucap mungkin mudah, puasa pun mungkin boleh dilakukan; Haji kita tidak selalunya sempurna, zakat kita sering terabai pun sembahyang asyik terbabas. Jika ini berlaku perbanyakkanlah membaiki diri, bermunajat & meminta keampunan ke hadrat Ilahi agar dikuatkan iman sesama kita.

05 Ogos 2010

Ular (Singgahsana)

Sejak kebelakangan ini aku asyik mimpikan ular, orang tua pernah berkata kalau mimpi dipatuk ular alamat nak berkahwin. Kalau anak dara akan pasti akan ada orang masuk meminang. Takkan sudah tua-tua begini aku nak kahwin. Aku tidak pernah pun punyai kekasih hati selain isteri sendiri.
Maka apa sebenarnya firasat mimpiku ini.

03 Ogos 2010

PJJ4 Isteri kerja jauh dipulau suami(Agama)


SAYA sudah bersuami tetapi tinggal berasingan. Saya bekerja di pantai timur manakala suami bekerja di ibu kota.

Suami seorang yang panas baran dan ego. Kadang-kadang apabila dia menyedari kesalahan saya, dia memulaukan saya berhari-hari, langsung tidak menegur saya, malah tidak akan memandang dan menghubungi saya, seolah-olah saya tidak wujud.

Sejak berkahwin, suami tidak pernah memberikan wang belanja, tidak pernah menyediakan keperluan saya, bahkan langsung tidak peduli perasaan saya.

Keperluan saya seperti rumah, makan dan pakaian adalah atas saya sendiri.

Dia tidak mengeluarkan perbelanjaan untuk keperluan itu.

Suami enggan ke tempat saya dan hanya saya yang kerap ke ibu kota.

Saya pernah menegur suami serta mengajak dia berbincang, tetapi hanya sia-sia kerana dia akan memulaukan saya dan marah.

Katanya, saya isteri tidak bertanggungjawab. Saya buntu dan sangat terasa dengan sikap suami.

Suami juga enggan memiliki anak, kecuali dengan syarat saya bertukar ke ibu kota. Saya berusaha untuk bertukar, tetapi proses ini memakan masa.

NOR ZALFARITA,
Terengganu

PERKAHWINAN hendaklah dibina atas dasar kasih sayang (mawwadah dan rahmah) antara suami isteri (al-Rum (30): 21).

Apabila berumah tangga pasangan hendaklah hidup bersama agar perasaan sayang bertambah sepanjang masa. Ia juga masa untuk lebih mengenali isi hati suami isteri.

Jelas dalam Islam bahawa seorang isteri yang sah berhak mendapat nafkah daripada suaminya.

Isteri tidak berhak mendapat nafkah apabila dia nusyuz (derhaka) dengan tidak menurut kemahuan suami tanpa sebab yang sah.

Sepatutnya hal di atas tidak berlaku kepada anda. Suami hendaklah melayan isteri dengan sebaik mungkin.

Setiap suami hendaklah ingat pesan Rasulullah s.a.w ketika haji wida yang antara lain bermaksud: "...Wahai manusia sebagaimana kamu mempunyai hak atas isteri kamu, mereka juga mempunyai hak ke atas kamu. Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu, maka mereka juga berhak diberikan makan dan pakaian, dalam suasana kasih sayang. Layanilah wanita kamu dengan baik dan berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu kamu yang setia. "Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina..."

Dalam menyelesaikan masalah anda berdua, ada baiknya berbincang dengan ibu bapa dan keluarga. Semoga mereka dapat memberi nasihat yang baik sebelum mengambil langkah lain.

Harian Metro

30 Julai 2010

Sotong Kemaman ♥ 4 (Singgahsana)


Fairuz

Aku pun tak ingat telah berapa kali turun ke laut dalam bersama Farus & Fareez ini. Bagai biasanya bab menjinakkan ikan besar kami serahkan kepada mereka berdua; Mereka banyak belajar memancing ikan besar dari rakan di Forum Pancing. Antaranya termasuk Che Wan; aku hanya sekali dapat mengikuti trip Che Wan ini.

Jika anda suka nak lihat pengalaman sifu pancing sila klik ke sini http://wamildin.multiply.com
banyak tips memancing yang Che Wan kasi; dia memang jenis tak pernah kedekut ilmu & petua menjinakkan ikan besar.

Huh! satu demi satu kami terlepas ikan besar. Aku nampak Fareez makin muram lantaran tiap kali kailnya disambar ikan besar asyik putus talinya. Fairuz pun sama. Dua beradik ini tewas di pengairan Kemaman.

Aku mendengar sungutan pak Dol bilamana dia memantau perambut yang Fareez & Fairuz gunakan.

Fareez

"Padanlah.. tak cukup kasr ni perembutnya; tali keluli sebagai perambut di pengairan Kemaman kena kasar lagi.." huh! maksudnya ikan tenggiri, haruan tasik atau apa jua jenis ikan besar memang memerlukan perambut yang besar. Tips yang amat bagus untuk mereka yang turun di laut dalam sekitar Kemaman. Kena sediakan perembut kasar. Mungkin Fareez ada cadangan saiz berapa perambut yang boleh digunapakai.

Aku sekadar memancing secara orang OKU, asyik duduk sahaja di dinding bot. Sesekali aku memasang umpan di mata Apollo yang agak kasar. Jarang aku kecewa tiap kali mata kail aku umpankan ke dasar laut. Dari banyak mata Apollo yang aku taruh umpan pasti akan berbuah hasil tak ikan termenong ikan Uji Rashid. Ikan di Kemaman lapar sentiasa; baik sotong atau isi ikan kembung segar diragut belaka.

Mentari makin meninggi, aku terasa amat lambat masa berlalu. Perut telah keroncong, aku perhatikan tak ada siapa ke dapur memasak.

"Kita nak masak gulai apa hari ini?" Pak Dol bersuara. Aku lihat dia mula menanak nasi. Dia basuh dengan air laut sahaja. Mungkin jimatkan air tawar; tentunya basuhan terakhir baru guna air tawar. Huh! janji ada juadah untuk dimakan.

"Saya suka ikan termenong masak asam pedas!" aku bersuara dengan dendangan perut kosongku. Payah orang sakit diabetes ini asyik teringat makan sahaja.

"Nanti saya tenguk ada tak bahannya" Pak Dol mencari bahan yang ada, nampaknya dia hanya boleh masak kari. Kari pun karilah!. Di laut ketika memancing masak apa pun sedap. Sebabnya ikan baru naik manis belaka.

impianku aku akan dapat candat sotong
sebesar ini nanti


Aku dongak ke langit; cuaca nampaknya cerah & laut nampak tenang sahaja. Kebiruan air laut amat teruja untuk hati melukis indah. Rasa tak puas melihat riak air laut, buih tata rona menari & camar mandi sekeliling bot kami. Sesekali anak ikan todak melompat manja. Mata kail dilempar ke dasar laut semakin dibawa arus; Guna batu saiz 12 pun hanyut dibawanya. Siapa sangka laut di atasnya tenang tetapi arus di dasarnya amat deras. Sesekali ada bot yang melintasi kami menunjukkan hasil tangkapan.

"Itu betul-betul lauk!" Pak Dol bersuara, memang besar banget ikan tenggiri di Kemaman; aku pasti memang kumpulan ikan tenggiri yang meragut umpan Fareez banyak kali; tapi tiada rezeki; asyik terlepas sahaja.

Kebanyakan joran telah dinaikkan; arus deras ikan pun tak teringin mengintai umpan kami. Masing-masing bersantai menunggu Pak Dol menjemput kami makan besar!. Ikan manis-manis yang beranak di karang laut Kemaman.

- bersambung

29 Julai 2010

Perkahwinan Jarak Jauh 3 (Singgahsana)


Yang ini sengaja aku menguji kesetiaan pasangan PJJ yang mana, pada awal cit-cat kami dia mengatakan dia reda suaminya meninggalkan dia jauh bertugas di negara orang. Dia mengatakan telah lebih dari 4 bulan suaminya tak balik ke rumah. Malahan katanya sudah hampir setahun. Mereka menggunakan alam maya@internet sebagai wadah melepaskan rindu. Begitu juga dengan anak-anaknya telah biasa melepaskan kerinduan terhadap ayahnya di skrin monitor komputer.

Nama rakan saya ini telah saya tukar, tujuan saya sengaja cuba menyungkil isi hatinya sekadar menduga; apakah benar-benar dia seorang yang reda & setia. Tidak sepi. Dia punyai 3 cahaya mata semua masih amat kecil. Terbukti dia tegas dengan pendiriannya & menerima PJJ ini dengan hati yang terbuka. Dia seorang isteri yang amat setia dengan perkahwinannya. Kita harap dia menjadi contoh bagaimana cekal & tabahnya dia melayari hidup dengan PJJ. Agar Allah SWT sentiasa melindungi keluarganya, pun biarlah jangka waktu PJJnya akan cepat dipendekkan Hidup kena diteruskan jua.

Saya
jiwa & hak kasih sayang terhadap anak-anak perlu selalu dibendung.

2:16am Wanie
Apakah u ada masalah dengan anak2
bukan semua org mcm famaly u

2:16amSaya
tak adalah
keluarga kami okey! saja
sebab sy kata tadi sy macam Wanie dulu
reda dengan perkahwinan jarak jauh (PJJ)

2:17amWanie
bukan semua wanita macam isteri u yg mengejar duit

2:17amSaya
apa pula kena mengena pula dengan isteri sy
kami sama-sama berkerja... berkerja tak semestinya mengejar duit
kerja itu di dalam agama kita bukankah satu ibadah.
Islam tak melarang pun isteri keluar bekerja

2:17amWanie
so suami saya kerja jauh2 apakah sekali pun
tu urusan saya dengan suami

2:17amSaya
sy cuma kata kahwin cara PJJ ini memang sy tak setuju
tu sahaja.. abis tu suami Wanie kerja jauh itu
bukankah sama dengan isteri sy ...
tak baik dikatakan mengajar duit!
jika itu fahaman Wanie kena dibetulkan:

ke luar negara tu sampai tinggalkan isteri bertahun-tahun
saya kurang setuju
sebaiknya biarlah isteri ada bersama di rantau orang

(his! bunyi ayat ini macam merobek hati)

tak tahulah... kita memang asyik tertipu dengan duniawi sebenarnya

2:19amWanie
susah kalau nak cakap dengan org yg tidak mengenali kami anak beranak

tp memang dah tugas dia

2:19amSaya
emmm! tugas
kita memang jenis reda
berkorban demi tugasan atau kerjaya
kerja mencari rezeki memang satu ibadah.. (galak saya ulang)
memang itu yang kita rasa ketika terpaksa dapat arahan berjarak jauh
tapi diam-diam tak sedar kita bagai dipergunakan
membuatkan hak anak-anak kita terabai

2:19amWanie
susah nak cakap kalau org yg xdapat memahami
anak2 tidak terabai

2:20amSaya
biar pun satu hari nanti Wanie & suami manjadi jutawan lantaran bertugas jauh
tapi mana mungkin mengembalikan kasih sayang anak yang telah kita abaikan ketika kita berjauhan begini...

2:20amWanie
walau ayah mereka jauh tapi tiap malam mereka boleh lihat ayah mereka di internet

2:20amSaya
takkan sama anak-anak yang sentiasa terdidik baik dengan ibu ayah yang sentiasa
tinggal sebumbung… mana sama lihat ayah di skrin monitor komputer!... dengan ayah di depan mata.

2:21amWanie
mcm mana kita nak mengukur kasih sayang anak2 tu

2:21amSaya
kalau anak Wanie pun reda macam Wanie
pun mereka jadi anak yang baik nanti.. okey!
memang itu harapan kita
tapi kita tetap langgar cara keluarga Islam sebenar...
rumah tangga sakinah yg Islam impikan

malahan lagi naif bila besar nanti mereka persoalkan tindakan kita
memilih cara berumah tangga PJJ
kut mereka ikut cara kita menggabaikan cucu kita pula!

berjauhan itu sy rasa amat payah
untuk kita mengukur kasih sayang terhadap anak-anak
anak-anak kena selalu dibelai ibu ayah terutama ketika
mereka masih di alam kanak-kanak.

2:21amWanie
adakah dengan tinggal sebumbung tu anak2 akan tercurah kasih sayang

2:21amSaya
itu isu lain... tapi lebih jelas & mudah dari kasih sayang jarak jauh
yang bagaikan fatamorgana.. entah sampai entah tidak kasih sayang kita.

2:21amWanie
adakah kita duduk sebumbung boleh menjamin kebahagian

2:21amSaya
memanglah ada yang tak jadi baik biar pun duduk sebumbung
bergaduh siang malam... perang tak habis-habis!
malahan duduk sebumbung bukan sampai 4 bulan
4 hari pun boleh bercerai-berai...

isu Wanie ni lain… menjarak-jarakkan hubungan kasih sayang
di mata kasar kita kata okey! reda tapi mana mungkin kita dapat
menepis kesepian.. di hati kita, di hati anak-anak!.. itu isunya.

2:22amWanie
adakah tinggal sebumbung tu anak akan jadi baik n warak
adakah tinggal sebumbung tu isteri tidak berlaku curang

2:22amSaya
samalah adakah PJJ itu pasti suami di sana okey!
isteri di sini tidak kesepian…
kasih sayang di jiwa anak-anak sentiasa diladeni.
kita bukan hidup lama pun....

2:22amWanie
adakah tinggal sebumbung tu suami pasti jadi baik

2:22amSaya
jika dia sebumbung dengan kita
setidak-tidaknya kita sentiasa mendapat perlindungannya
nampak jelas baik buruknya...

emmm! belum mati pun dah nak berjauh dengan anak-anak
ok! tunggu umur macam sy bila anak dah temui jodoh
baru Wanie faham kut!

mengantuk amatlah Wanie tu tenguk jam tu 2:22 pagi
mohlah kita tidur!

Asalammulaikum....

2:23amWanie
kita tidak perlu menginjak usia tua untuk memahami erti sebuah kehidupan!.

2:23amSaya
Wanie; kita semakin tua sebenarnya! Lewat usia akan menyedarkan kita betapa kita ini menjadi amat rugi. Apatah lagi ketika melepaskan anak kita untuk hidup sendiri berumah tangga. Itu sudah satu tuntutan kehidupan, namun jauh dalam sudut hati pasti terasa kita akan bertambah sepi.

Masa dia seharusnya bersama kita; kita memilih jalan berjauhan dengannya; sedangkan kehidupan ini kita yang menentukan! Kita boleh berhijrah memilih jalan sendiri daripada mengikut majikan yang bajingan yang tidak memikirkan masalah PJJ pekerjanya yang terpaksa berhijrah setelah kekal lama & bahagia di persekitarannya yang sedia ada.

(Wanie seorang yang amat tabah; biar pun aku sengaja cuba terjah hatinya dengan pertanyaan kontras dia begitu menjagai keredaannya di dalam menangani dilema PJJ. Wanie tidak pun terasa sepi bagai aku yang di ambang Warga Emas ini. Anak-anakku kini hanya tinggal dua orang di rumah. Afiz telah pun punyai hidup sendiri. Aziq di asrama. Berapa tahun sangatlah mereka rapat dengan aku; bilamana dalam menempuh bidang kerjaya tak kurang 3 kali kami dalam dilema PJJ. Itu pun tak pernah aku tinggalkan mereka lebih dari 3 bulan.)

Cumanya tenguk jam tu 2:23 pagi Wanie masih berjaga malam lantaran hanya ketika itulah suaminya dapat bercit-cat dengannya.

Anak siapa ini ditinggalkan?

28 Julai 2010

Perkahwinan Jarak Jauh 2 (Singgahsana)

Di blog lamaku Easyjournal banyak aku menulis masalah Perkahwinan Jarak Jauh (PJJ) ini. Entah apakan jadinya blog yang itu; telah berbulan aku tak dapat akses kalau boleh memang aku mahu pindahkan ke server yang ini. Banyak juga tulisanku yang rasanya bermanfaat untuk tatapan semua.

"Kalau boleh anak Apak tak mahu kerja di dua bidang ini; Ketenteraan@Askar & Polis!" aku masih ingat pesanan arwah Apak kepada kami. Hingga kini aku tidak dapat menangkap kenapa arwah Apak tak suka anak-anaknya berkerja di bidang ini.

Pernah berlaku dia aku lihat amat marah dengan anak saudara Abg Jaapor lantaran mengizinkan anaknya menjadi askar. Aku lihat Abg Jaapor tunduk tak menjawab. Macam-macam bebelannya lantaran dia memang benci amat bidang ini.

Aku pernah mendengar cerita semasa arwah Apak dikerah menjadi askar di zaman British; Home Guard/AC - Bekas tentera anak watan yang dilantik khas menjaga keselamatan daerah sendiri ketika zaman British. Arwah Apak lari dari tugasnya. Bukan minat & bidang kerjaya yang sesuai dengan dirinya. Arwah Mak kata dia menyorok di siling rumah. Tak hairan semua orang kampung menggelar arwah Apak Mat Sesh; selalu sahaja mengamuk lantaran naik seh. Maka itu nama Lorong ke rumah aku dinamakan Lorong Sesh sempena nama arwah Apak.

"Kalau anak kita mati ketika masuk hujan nak cari kominis, berapa sangat ganjaran yang kita dapat!, kita yang terpaksa menjaga menantu & cucu. Pencen askar banyak mana sangat!" zaman dulu memang pencen askar amat kecik.

"Dah tu bila adanya selalu di rumah, asyik kena tukar sana sini, anak pun tak kenal ayah!". memang benar, sering askar ini ditugaskan merata. Tau-tau nun ditukar ke Sabah atau Sarawak; amat susah nak bercuti jika ada kenduri kendara saudara mara. Sering pula tak boleh bawa keluarga bersama. Zaman dulu tak banyak rumah kerajaan untuk menampung keluarga parajurit ini.

Samalah anggota Polis, sampai kini aku lihat si Noi adikku (lain emak satu ayah) yang berkahwin dengan anggota Polis masih berstatus PJJ; suami entah bila balik ke rumah jarak antara mereka ratusan kilometer. Gaji anggota Polis hanya kini baru baru dinaikkan agak lumayan; dengan ganjaran yang amat minima maka bagaimana mahu menampung belanja anak-anak terpaksa isteri berkerja untuk menampung kehidupan untuk lebih selesa. Bila isteri telah berkerja bukan mudah untuk bertukar tempat berkerja. Terpaksa memilih berumah tangga secara PJJ.

Kita sebagai suami isteri memang reda sahaja demi mahukan ekonomi yang lebih stabil & kukuh. Tetapi sedar tak sedar pasti anak-anak menjadi mangsa. Kasih sayang terhadap anak-anak takkan sama dapat dicurahkan dengan pasangan biasa yang tinggal sebumbung.

Selalunya pasangan PJJ akan berkata kalau tinggal sebumbung pun tak semestinya dapat dicurahkan sepenuhnya kasih sayang dengan anak-anak. Memang kita sering berfikiran begini apabila kita sendiri telah tersepit dengan situasi PJJ ini. Jarang kita ambik iktibar bagaimana keluarga Rasulullah, lihat rumahnya Rasulullah kita, baginda ramai isteri pun buat rumah yang rapat agar menjadi rumah tangga yang sakinah. Sedangkan kita satu bini nak rumah dua berasingan.


- bersambung!

Resipi rumahtangga bahagia (Delima Merkah)

Apakah itu rumah tangga???



adakah.... anda melihat gambar seperti di atas...dalam rumah mesti ada tangga..kah! kah! kah!
Sekarang saya nk ceritera pasal resipi rumah tangga bahagia..Hummm...mcm mana tu??
Mulakan resipi...jeng! jeng!



Seorang chef ingin mengerjakan kewajipannya..... ;)

Bahan-bahannya:
2 kg penuh pegangan teguh kepada Allah dan ajaran Islam serta berpandukan al-Quran & Sunnah.
1 kg rasa cinta dan kasih sayang yg sentiasa membara.
1 kg rasa kesyukuran dan ketakwaan
4 cawan rasa tanggungjawab
3 cawan daya penambat hati (menggoda, daya tarikan termasuk penawar dan pelembut hati)
2 cawan penuh puji-pujian, kemesraan dan gurau senda.
2 cawan pati kemanusiaan.
2 cawan keyakinan diri masing-masing, dorongan dan sokongan.
1 cawan rasa kepuasan.
1 cawan budi bahasa.
1 cawan perasaan timbang rasa.
1 cawan tolak ansur dan toleransi atas segala kesilapan dan kelemahan 2 pihak.
2 gelas ucapan terima kasih utk disiram selalu.
1 sukatan peruntukan kewangan yg mencukupi.
2 orang anak kecil sekurang-kurangnya.
4 cawan penuh pengucapan maafkan daku (ini juga sangat penting utk kita jadikan amalan diet kita)
Secubit campur tangan mertua
Curahkan kerjasama yg perlu dan persediaan kerja
berpasangan dan perkongsian.

Cara membuat atau mengamalkannya:
1. Kita adun dgn cermat semua bahan-bahan di atas dan asingkan rasa cemburu, curiga, sikap mengkritik, sikap marah dan sakit hati.
2. Isikan dengan bunga-bunga cinta yg segar dan panaskan dgn bara api kesetiaan dan kejujuran.
3. Hiaskan dgn dua org anak kecil dan bolehlah ditambah mengikut selera dan kemampuan diri masing-masing.

Peringatan: Jangan sekali-kali dihidangkan dgn sikap dingin dan lidah yg berbisa. Makanan kalau sesedap mana pun jika dihidangkan dgn sikap dingin akan menjadi hambar. Hiaskan dgn senyuman manis penuh kasih sayang. Sesekali bawalah hidangan ini utk menikmati bersama di tempat peranginan ketika berbulan madu dahulu agar kemanisannya tetap kekal. Seperti juga masakan, kita mesti menaruh serbuk perasa. Serbuk perasa resepi perkahwinan bahagia ialah keimanan, kesabaran dan kesungguhan kita utk mencapai kebahagiaan tidak kira berapa besar pun pancaroba yg melanda.

selamat mencuba............. !


nah! ambik rasa saya yg buat ! :D

27 Julai 2010

Kahwin Jarak Jauh (Singgahsana)

Jiwa anak kita amat kuat membekung kenangan
aku masih ingat bagaimana sedihnya kehilangan arwah emaka
ketika itu usiaku baru 5 tahun
dua minggu arwah Emak lari dengan Cik Peah
hingga ke ambang Warga Emas ianya masih kekal di ingatan.
Kita sekarang tegar meninggalkan anak-anak lantaran kononnya tugasan
terkadang dua minggu, dua bulan malah ada yang lebih dari dua tahun

Tak dapat tidak sering kita katakan demi kerjaya atau tugasan pasangan kita, maka kita terpaksa memilih Perkahwinan Jarak Jauh (PJJ). Biar pun ini sekadar jangka mangsa yang sekejap tetapi saya amat ingin mendengar pendapat para pelayar blog ini; apakah ianya wajar & perkara biasa demi tuntutan kehidupan.

Sedangkan jika kita pandai menuju arah hidup; menyusun agenda rumah tangga, terlalu banyak pilihan lain. Salah satu berhijrah kerjaya. Pertimbangkan betul-betul apakah tindakan majikan kita ini betul & tepat atau sekadar mereka mahu memajukan organisasi mereka. Apakah berbaloi ganjaran yang kita miliki sampaikan terpaksa meninggalkan anak berbulan-bulan atau pun bertahun.

Sedar tak sedar ramai majikan sekadar memhambaabdikan kita secara moden. Bila tenaga kita tidak diperlukan kita akan dijentik bagaikan tahi cicak belaka.

Lagi sedih jika suami atau isteri kita ditugaskan untuk ke luar negara dalam jangka waktu yang lama; lebih dari empat bulan sebagai tempoh taklik yang kita lafazkan; yang kita berjanji tidak akan meninggalkan isteri kita. 4 bulan ini adalah tempoh yang agama kita sarankan.

Kenapa mesti tak boleh bawa pasangan; nampak ianya macam jihat atau fisabilillah; seperti berkhidmat di Palestin & atau negara Islam yang berperang kini. Padahal semua ini mainan politik barat. Malahan jiran terdekat dengan negara ini pun endah tak endah,

Jika kita melihat filem barat sering mereka paparkan perjuangan yang tak selesai ini; askar barat bukan sedikit yang terkorban. Apa sebenarnya erti peperangan ini. Orang Islam pengecut, orang Islam bersatu; Pejuang Berani Mati sampai kita terus mati. Agar mereka diterima sebagai para Syuhada mati Syahid. Yang kaya raya seperti Arab Saudi yang seharusnya berkorban buat jiran mereka pun bagaikan boneka Negara Barat. Kita yang kurang segala menyabung nyawa demi kedaulatan negara orang; sedangkan negara sendiri pun dijajah secara senyap.

Berjihat sebenar bukan berperang sahaja; berkerja mengutip sampah untuk sara hidup anak isteri jua satu jihat. Memerangi maksiat jua jihat. Memelihara kasih sayang dengan hubungan intim anak isteri, suami & jiran tetangga jua satu jihat.

Maka itu saya berkeyakinan kita masih ada pilihan untuk menolak Perkahwinan Jarak Jauh ini. Semua terletak pada diri kita; apatah lagi bilamana kita makin tua & perlukan berihat. Aku memikirkan masalah ini lantaran telah pun menempohnya sejak lama. Tapi aku tak pernah sampai empat bulan! berjarak masih di negara sendiri.

Di mana-mana negeri di Malaysia, taklik yang diucapkan secara langsung selepas akad nikah berbunyi lebih kurang begini.


"Bahawa adalah saya (nama suami) dengan ini bertaklik iaitu manakala saya tinggalkan isteri saya (nama isteri) selama 4 bulan atau lebih dengan sengaja atau paksa atau saya atau wakil saya tiada memberi nafkah yang wajib kepadanya selama masa yang tersebut pada hal ia taat kepada saya atau saya menyakiti tubuh badannya atau saya tidak mengambil tahu mengenainya selama 4 bulan atau lebih atau (nama isteri) kemudian ia mengadu kepada mana-mana kadi/hakim Syarak jika disabitkan oleh kadi/hakim Syarak ini akan aduannya maka gugurlah talak saya dan dan tiap-tiap kali saya rujuk akan isteri saya tersebut tanpa redanya maka gugurlah pula satu talak lagi."


Cukupkah kita reda lalu kita lupa akan ajaran agama Islam atas tuntutan Keluarga Islam yang Allah SWT mahu kita laksanakan. Demi kompeni kita, tugasan kita; atau majikan kita yang gerladangan yang tak pun memikir masalah PJJ ini. Kita kata kita reda tetapi bagaimana masalah jiwa anak-anak kita. Apakah sepadan kita lepaskan kerinduan mereka di skrin komputer semata.

- bersambung nak antar Anif kejap!