iDAN

28 Disember 2007

CATATAN AKHIR TAHUN 2007 (Delima Merkah)


Situasi Buruh Migran Indonesia di Luar Negeri
28 Desember 2007
Jurnalnet.com: Kekerasan adalah Keseharian dari Hidup Buruh Migran Indonesia yang Bekerja di Luar Negeri, Hentikan Menjadikan Buruh Migran Indonesia Sebagai Obyek Kekerasan!!

Tahun 2007 merupakan tahun yang berlimpah masalah bagi buruh migrant Indonesia di luar negeri. Hal ini sangat ironis karena sebenarnya tahun 2007 bisa dipandang sebagai titik tolak baru perkembangan pemenuhan HAM buruh migrant Indonesia dengan dibentuknya Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri (BNP2TKI). Melalui Perpres No 8 Tahun 2006, Moh Jumhur Hidayat ditetapkan sebagai Kepala BNP2TKI sejak 12 Januari 2007 dan BNP2TKI mulai bekerja efektif sejak Maret 2007.

Tidak berselang lama, tepatnya 13 Januari 2007, Negara-negara anggota ASEAN menyatakan sikap politiknya untuk perlindungan buruh migrant di kawasan regional Asia Tenggara dengan menandatangani Cebu Declaration on The Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers.

Hadirnya BNP2TKI dan ditandatanganinya Cebu Declaration on the Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers tidak mampu menghantarkan buruh migran Indonesia untuk meraih keadilan. Keadilan dan pemenuhan hak asasi manusia bagi buruh migran Indonesia masih sangat jauh untuk di capai. Kekerasan senantiasa menjadi bagian integral dari kehidupan dan keseharian buruh migran Indonesia selama bekerja di luar negeri, bahkan tidak jarang yang berujung pada kematian.

Berikut adalah gambaran peliknya persoalan buruh migran Indonesia sepanjang tahun 2007:

1. Kematian buruh migran Indonesia mencapai 206 orang, 114 diantaranya adalah perempuan (55%) dan 90 orang laki-laki (44%) serta 2 orang tidak diketahui (1%). Kematian tertinggi terjadi di Malaysia, yaitu 71 orang (35%), Taiwan 36 orang (19%), Saudi Arabia 31 orang (15%), Korea Selatan 18 orang (9%), Singapura 15 orang (7%), Yordania 12 orang ( 6%) dan beberapa Negara lainnya seperti Hongkong, Kuwait, Jepang, Brunei Darussalam, Mesir, dll. Penyebab-penyebab kematian buruh migrant tersebut adalah kecelakaan kerja 25%, sakit 24%, kematian misterius 24%, jatuh dari ketinggian 13%, kekerasan 11%, dan bunuh diri 4%.

2. Sebanyak 303 warga Negara Indonesia terancam hukuman mati di luar negeri, 297 di Malaysia, 4 orang di Saudi Arabia, 1 orang di Singapura, dan 1 orang di Mesir. Dari sejumlah orang yang terancam hukuman mati tersebut, 8 orang diantaranya sudah dijatuhi vonis hukuman mati di Malaysia. Dan hal yang sama juga menimpa Siti Zaenab, Nur Makin Sobri, dan Hafidl Bin Kholil Sulam yang juga telah dijatuhi vonis hukuman mati di Saudi Arabia. Sementara Adi Bin Asnawi (Malaysia) dan Barokah (Singapura) telah dibebaskan dari ancaman hukuman mati.

3. Kekerasan yang menimpa buruh migran Indonesia sepanjang tahun 2007 banyak menimpa perempuan. Dari 144 orang yang mengalami kekerasan, 129 diantaranya adalah perempuan (89,6%) dan 15 orang laki-laki (10,4%). Bahkan tidak jarang kasus kekerasan yang berujung pada kematian.

Dari kasus-kasus yang telah terjadi, proses hukumnya seringkali tidak ada titik terang keadilan untuk buruh migran. Seperti kasus Ceriyati (17 Juni 2007), hingga kini kasus Ceriyati belum diproses di pengadilan dan masih mengalami kemandegan di tingkat penyidikan, sementara majikan Ceriyati bisa menghirup udara dengan bebas atas jaminan sejumlah uang.

Kasus kekerasan lainnya yang tak kunjung tuntas adalah kasus penyiksaan yang menimpa 4 PRT migrant Indonesia di Saudi Arabia, yakni Siti Tarwiyah, Susmiyati, Tari dan Rumini (3-4 Agustus 2007), hingga kini Kerajaan Saudi Arabia masih belum menunjukkan keseriusannya untuk segera melanjutkan proses hukumnya ke mahkamah.

4. Trafficking atau perdagangan manusia senantiasa berhimpitan dengan praktek penempatan buruh migran Indonesia ke luar negeri. Terbongkarnya sindikat trafficking di beberapa Negara tujuan buruh migran Indonesia menjadi bukti yang nyata betapa trafficking adalah ancaman nyata bagi setiap buruh migran Indonesia.

Sindikat trafficking buruh migran ke Timur Tengah seringkali menghantarkan buruh migrant Indonesia terjebak di beberapa Negara konflik seperti Irak, Lebanon dan Israel. Saat ini masih ada sekitar 70an orang yang terjebak di Irak, setelah 4 orang dipulangkan ke Indonesia, yaitu Elly Anita, Darniyati, Castini dan Siti Julaihah. Selain itu, sekitar 600an orang ditangkap di Saudi Arabia karena persoalan dokumen keimigrasian, namun sebenarnya mereka adalah korban trafficking dengan modus operandi umroh dan haji.

Tidak hanya itu, trafficking dengan modus operandi magang kerja juga banyak menimbulkan korban, seidaknya 45 mahasiswa The Bandung Hotel School yang sebenarnya statusnya magang namun dipekerjakan sebagai karyawan hotel dengan gaji rendah dan akhirnya dipulangkan paksa oleh Malaysia karena di duga menyalahi aturan keimigrasian.

5. Terminal 3 sepanjang tahun 2007 masih belum lepas dari berbagai persoalan. Ada step kemajuan dengan ditetapkannya penghapusan retribusi Rp 25.000 bagi setiap buruh migrant yang melewati Terminal 3, namun hal ini tidak berdampak signifikan pada berkurangnya persoalan di Terminal 3.

Menurut monitoring Migrant CARE, sepanjang bulan Juli - Desember 2007, ada 111 persoalan yang meliputi 53% masalah di luar negeri, 30% masalah dengan birokrasi di Terminal 3 dan 17% pungutan liar. Sebagai contoh:

(1) Rokeni Wati Bt Rohidi (asal Indramayu) dia harus membayar cargo di Terminal sebesar Rp 850.000 untuk bawaan seberat 56 Kg, padahal dia sudah membayar 125 Dinnar di Yordania.

(2) Rahma Bt Sakka (Sulsel) juga mengalami hal yang sama dimana dia harus membayar cargo sebesar Rp 1.712.000 di Terminal 3 dan sesampainya di Sulsel dia harus membayar lagi cargo sebesar Rp 200.000. Tidak hanya itu Rahma juga dikenai Rp 400.000 untuk biaya keterlambatan tiket.

(3) Tuti Hani asal Purwakarta, harus membayar cargo sebesar Rp. 1.650.000 untuk dua kardus barang. (4) Yani asal Bandung harus membayar Rp 500.000 (di luar biaya tiket travel) untuk biaya keamanan selama perjalanan Jakarta – Bandung dimana travel berhenti 10 kali di 10 pos polisi dan setiap pos harus membayar Rp 50.000.

6. Deportasi merupakan persoalan yang rutin terjadi dan menimpa buruh migrant Indonesia tidak berdokumen. Di Malaysia deportasi terjadi secara regular dimana setiap minggu ratusan (400-500) buruh migran Indonesia di deportasi melalui 11 pelabuhan di seluruh Indonesia. Di Saudi Arabia, 40.000 buruh migran Indonesia juga ternacam di deporatsi pada akhir Mei 2007 dan 22.116 orang telah dipulangkan ke Indonesia sampai akhir Desember 2007. Selain itu ratusan buruh migrant Indonesia tidak berdokumen juga senantiasa terancam di deportasi dari Amerika Sertikat.


Pada hampir penghujung tahun 2007, tepatnya 20 November 2007, sepuluh petinggi negara-negara di kawasan Asia Tenggara menandatangani dokumen ASEAN Charter (Piagam ASEAN). Namun ASEAN Charter mengabaikan persoalan penegakan hak asasi buruh migran di kawasan Asia Tenggara.

Tak ada secuil kalimatpun dalam ASEAN Charter yang mengakui peran signifikan buruh migran dan komitmen untuk perlindungan buruh migran di kawasan Asia Tenggara. Padahal, gerak kemakmuran negara-negara anggota ASEAN banyak disumbang dari proses migrasi buruh migran. ASEAN Charter bukanlah jalan untuk mencapai keadilan bagi buruh migran.

Peliknya berbagai persoalan diatas karena ditopang dengan buruknya kebijakan mengenai buruh migran baik di tingakt nasional dan regional. Seperti MoU Indonesia – Malaysia tentang penempatan pekerja rumah yang dinilai berpotensi terhadap terjadinya pelanggaran HAM buruh migrant, dan hingga kini MoU tersebut tidak kunjung diamandemen.

Dari beberapa catatan buram tentang situasi buruh migran Indonesia sepanjang tahun 2007 tersebut, Migrant CARE merekomendasikan beberapa hal pokok sebagai sebuah agenda untuk perbaikan kinerja Pemerintah RI untuk perlindungan buruh migran Indonesia pada atahun 2008:

- Pemerintah RI harus segera melakukan evaluasi terhadap kinerja BNP2TKI

- Pemerintah RI harus segera melakukan amandemen terhadap berbagai peraturan yang terbukti tidak efektif untuk menjamin pemenuhan HAM buruh migran Indonesia, antara lain UU No 39 tahun 2004 tentang PPTKILN, MoU Indonesia-Malaysia tentang penempatan PRT migran.

- Pemerintah RI harus segera meratifikasi konvensi internasional tentang perlindungan terhadap buruh migrant dan anggota keluarganya



12 Januari 2004
Pemerintah Indonesia mengumumkan nama kepala BNP2TKI ,sesuai dengan mandat Perpres No 8 Tahun 2006, yaitu Moh. Jumhur Hidayat (representasi dari Gaspermindo/Gabungan Serikat Pekerja Merdeka Indonesia). Di lihat dari rekam jejak aktivitasnya, M. Jumhur Hidayat selama ini dikenal sebagai tokoh dari serikat buruh (meski sama sekali tidak pernah bersentuhan langsung dengan persolan buruh migrant) sekaligus tokoh dari partai politik. Latar belakang dan pengalaman yang dimiliki M. Jumhur Hidayat memicu kekhawatiran bahwa BNP2TKI tidak akan menjadi wadah reformasi untuk perlindungan buruh migran.


13 Januari 2007
"Cebu Declaration on The Protection and Promotion of the Rights of Migrant Workers" ditandatangani oleh anggota ASEAN di Cebu Philippnines. Dokumen ini dikhawatirkan akan hanya menjadi dokumen semata dan tidak ada komitmen politik dari segenap petinggi ASEAN dan juga proses monitoring dan evaluasi dari masyarakat sipil. Dalam konteks Indonesia, dokumen ini harus menjadi momen benah diri untuk evaluasi kebijakan penempatan buruh migrant Indonesia. Dengan dokumen ini, Indonesia juga bisa mendesak adanya peninjauan kembali MoU dengan RI-Malaysia yang menurut penilaian UN Special Rapporteur on the Human Rights of Migrants Prof George Bustamante merupakan instrument bilateral yang melanggar HAM buruh migran Indonesia.


22 Januari 2007
Buruh Migran Indonesia yang bernama Eem (30 Th) asal Kampung Leuwengdatar Desa Pakuon Cianjur Jawa Barat disiksa majikan di Damam Arab Saudi hingga Depresi.


24 Januari 2007
19 Buruh migrant Indonesia terancam hukuman mati di luar negeri. Masalah ancaman hukuman mati terhadap buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri merupakan masalah krusial yang tak pernah diselesaiakan secara sistematik dalam mekanisme perlindungan buruh migran Indonesia.


7 Pebruari 2007
Sebanyak 4 Buruh Migran Indonesia menghadapi ancaman hukuman mati di Malaysia, mereka adalah Aida Sukardi, Erik Bin Kartim, Wahyudi bin Boinen dan Halimah Bin Sihombing. Aida Sukardi di tuduh melakukan pembunuhan terhadap majikannya Mok Lan apada tanggal 30 Desember 2002. Kasus ini dilimpahkan ke pengadilan pada tanggal 4 Januari 2007. Sdangkan tiga orang lainnya di tuduh membunuh rekan kerjanya. Migrant CARE menyerukan kepada pemerintah Malaysia dan Indonesia untuk menghentikan praktek pemidanaan dengan metode hukuman mati.


1 Maret 2007
Eka Yuanita (PRT migrant asal Blitar) meninggal di Taiwan. 14 April 2007 jenazah baru dipulangkan ke Indonesia


8 April 2007
Eni Ismawati Binti Darno (17 Th) diperkosa majikannya Lucky alias Cu, pemerkosaan terjadi dikediaman Lucky di Pesiaran 45 Johor Baru.


1 Mei 2007
-> Peringatan Hari Buruh Sedunia

-> Tahun 2007 adalah tahun berkabung bagi buruh migrant Indonesia. Baru memasuki bulan kelima pada tahun 2007 ini, tercatat sedikitnya 43 buruh migrant Indonesia meninggal dunia sia-sia di luar negeri. Banyak kejanggalan yang ditemukan dalam kematian buruh migrant. Animah Bt Jari, dalam berita kematian yang berasal dari Kuwait Animah diberitakan meninggal akibat TBC tetapi karena keraguan dari pihak keluarga dan ada bekas-bekas luka ditubuhnya maka jenazah Animah Bt. Jari di Otopsi ulang dan hasil yang dikeluarkan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta bahwa penyebab kematian Animah Bt. Jari adalah murni kekerasan.


25 Mei 2007
Sebanyak 40.000 buruh migrant Indonesia tidak berdokumen terancam di deportasi dari Saudi Arabia


8 Juni 2007
Wati, PRT migrant Indonesia asal Purwakarta di siksa majikan di Saudi Arabia, pukulan dan tendangan selalu mendarat ditubuhnya hingga badannya susut 20 Kg.


17 Juni 2007
Ceriyati (PRT migrant asal Brebes) yang bekerja pada Ivone Siew menggemparkan Malaysia. Ceriyati nekat kabur dari lt 15 rumah majikan melalui jendela dengan menggunakan potongan-potongan kain. Upaya melarikan diri yang dipilih Ceriyati adalah untuk menyelamatkan nyawa akibat perilaku majikan yang setiap hari menyiksa Ceriyati hingga penuh bekas luka di seluruh tubuh. Namun proses hukum di Malaysia senantiasa tidak memenuhi rasa keadilan bagi Ceriyati, pada tanggal 26 Juni 2007, Majikan Ceriyati dibebaskan dari tahanan karena membayar uang jaminan. Hingga hari ini belum ada progress dalam proses hukumnya. Migrant CARE mendesak Pemerintah RI untuk melancarakan nota protes diplomatic ke pemerintah Malaysia atas perkembangan pengusutan kasus Ceriyati yang tidak fair dan cenderung merugikan Ceriyati.


17 Juni 2007
BNP2TKI menghapuskan pungutan Rp 25.000 di Terminal III. Ironisnya, kebijakan menghapuskan pungutan tersebut tidak dibarengi dengan tersedianya APBN yang akan digunakan untuk mengcover biaya operasional di Terminal III yang selama ini menggunakan kumpulan dari pungutan Rp 25.000. Hal ini berpotensi untuk menimbulkan pungli yang baru.


20 Juni 2007
Siti Kurniatin (26) dan Lilis (27), dua PRT migran asal Semarang Jawa Tengah kabur dari rumah majikan karena kerap kali mendapat siksaan dari majikan, lilis ditemukan dalam keadaan muka bengkak dibawah mata kiri, dada,kaki dan seluruh anggota badan. Siti Kurniatin jatuh dari lantai III karena mencoba melarikan diri dari majikannya karena dirampas kebebasannya.

28 Juni 2007
Malaysia menolak Mencabut Pasal Penyanderaan Paspor dalam MoU, hal ini terjadi dalam pertemuan bilateral Working Group RI-Malaysia di Surabaya


16 Juli 2007
Indah Wijayanti, PRT migrant asal Lampung Utara terancam hukuman mati di Malaysia berdasar pasal 302 Kanun Keseksaan Malaysia. Indah Wijayanti (18 tahun) di dakwa bersekongkol bersama suami majikannya dan seorang PRT migrant lainnya melakukan pembunuhan terhadap Kek Huey Lian pada tanggal 3 Juli 2007. Menurut keterangan Shaun Tan, pengacara Indah Wijayanti, untuk sementara Indah ditahan di penjara Wanita Kajang, sementara dua terdakwa lainnya dibebaskan dengan uang jaminan.


18 Juli 2007
Nuraini PRT migran Indonesia asal Brebes Jawa Tengah bekerja di Malaysia diperkosa dan gaji tidak dibayar selama bekerja.

27 Juli 2007
Sebanyak 45 Mahasiswa TBHS menjadi korban trafficking di Malaysia


3-4 Agustus 2007
Ada 4 PRT migrant Indonesia menjadi korban penyiksaan majikan (7 0rang) secara keji selama 2 hari 2 malam secara berturut-turut, 2 orang meninggal seketika (Susmiyati dan Siti Tarwiyah), jenazahnya baru dipulangkan ke Indonesia pada tanggal 29 September 2007. Sedangkan 2 orang lainnya (Rumini dan Tari) mengalami luka parah dan hingga saat ini masih berada di KBRI Riyadh Saudi Arabia.


14 Agustus 2007
Kunarsih (PRT migrant asal Demak Jateng) meninggal dunia akibat penyiksaan majikan di Malaysia. Kunarsih baru bekerja selama 4 bulan pada Goo Eng Keng

15 Agustus 2007
Trimo, TKI asal Ponorogo Jawa Timur bekerja di Malaysia dianiaya teman majikan hingga meninggal di Malaysia.

16 Agustus 2007
Parsiti, PRT migran Indonesia asal Wonosobo Jawa Tengah menggelantung di lantai 17 apartemen majikan karena sering dianiaya majikan di Malaysia.


25 Agustus 2007
Sulati, PRT migran Indonesia dianiaya majikan di Amerika Serikat, majikannya yang bernama Rozinah seorang berkebangsaan Malaysia.

29 Agustus 2007
Nurlela (23 Th) PRT migrant Indonesia asal Kampung Cigadog, Sagaranten, Sukabumi Jawa Barat disiksa majikan di Saudi Arabia hingga mengalami patah tulang dan betis bengkak dan terdapat luka di pergelangan kaki akibat rantai yang membelenggu.


3 September 2007
Maryati (38 Th) PRT migrant Indonesia asal Palembang disiksa majikan dengan dipukuli seluruh tubuhnya dengan rotan.


6 September 2007
Elly Anita (PRT migran asal Jember Jatim terjebak di Irak)

8 September 2007
72 TKI tertahan di Camp Militer Amerika Serikat di Irak

8 September 2007
Seorang Buruh Migran Indonesia usia 22 tahun diperkosa 12 orang di Malaysia

11 September 2007
Heni Indriyani, PRT migran Indonesia asal Lampung dianiaya majikan di Malaysia

17 September 2007
Seorang PRT migran Indonesia dalam kondisi kritis akibat penyiksaan kedua majikannya,PRT tersebut dijemur setiap hari dibawah terik matahari setelah itu dipukuli dengan batang besi hingga giginya lepas dan bibirnya sobek.

22 September 2007
Kristi Gama Santara, PRT migran asal Cianjur Jawa Barat nekat meloncat dari gedung lantai 4 karena tidak tahan disiksa oleh agen, tubuhnya lumpuh dan depresi berat

29 September 2007
Siti Tarwiyah dan Susmiyati 2 PRT migran Indonesia yang meninggal akibat penganiayaan majikan di Saudi Arabia jenazahnya di pulangkan ke Indonesia


1 Oktober 2007
Dalam hari-hari terakhir ini, RELA telah bertindak melampaui batas. Istri seorang diplomat Indonesia ditangkap dan RELA juga mengobrak-abrik asrama mahasiswa Indonesia. Dalam minggu kemarin, terungkap 2 kasus perkosaan yang dilakukan oleh anggota polisi Malaysia dan anggota RELA terhadap buruh migran perempuan asal Indonesia yang sedang hamil. Buruh migran tersebut diidentifikasi berasal dari Lampung. Kasus perkosaan oleh RELA ini bukan hanya dilakukan kali ini saja. Dalam tahun ini Migrant CARE juga mengadvokasi kasus serupa yang dialami buruh migran perempuan asal Nusa Tenggara Barat. Namun demikian hingga saat ini kasus-kasus kekerasan dan perkosaan yang dilakukan RELA tidak pernah difollow-up oleh Pemerintah Malaysia bahkan cenderung untuk mengabaikannya. Pemerintah Indonesia juga sangat lamban untuk menuntut Pemerintah Malaysia memproses tindakan criminal yang dilakukan oleh RELA dan juga aparat Malaysia lainnya.

Untuk itu, Migrant CARE mendesak kepada Pemerintah Indonesia untuk pro-aktif dalam menuntut Pemerintah Malaysia membubarkan RELA

8 Oktober 2007
Sapnah Bt Said (22 Th) PRT migran Indonesia asal Karawang Jawa Barat disiksa majikan di Yordania, diberangkatkan oleh PT. Elkarim Makmur Sentosa.


20 Oktober 2007
Redi Martin, Buruh Migran Indonesia asal Cilacap Jawa Tengah bekerja di Malaysia, meninggal akibat di keroyok warga sipil diberangkatkan oleh PT. Tenaga Sejahtera Wirasta

24 Oktober 2007
Victoria Usnaat (18) PRT migran Indonesia asal NTT dianiaya majikan selama sebulan, tangan dan punggungnya disetrika, dipaksa minum air sabun dan air rendaman kaus kaki yang sudah berbau busuk dan disiram larutan kimia.

13 November 2007
Zusniyati Kholifah, PRT migrant Indonesia asal Temanggung Jawa Tengah meninggal akibat jatuh dari Apartemen di Malaysia.

19 November 2007
Dedah, PRT Migran Indonesia asal Sukabumi Jawa Barat disiksa majikan di Yordania, diberangkatkan oleh PT. Bagus Bersaudara.

20 November 2007
Piagam ASEAN (ASEAN Charter) ditandatangani, namun piagam ini mengabaikan persolan penegakan hak asasi buruh migran di kawasan Asia Tenggara. Tidak ada klausul dalam piagam ASEAN yang mengakui peran signifikan buruh migrant dan komitmen untuk perlindungan buruh migran. Padalah gerak kemakmuran Negara-negara anggota ASEAN banyak disumbang dari proses migrasi buruh migran. ASEAN charter bukanlah jalan untuk mencapai keadilan bagi buruh migran.

27 November 2007
Khoirullisan, seorang ABK asal Brebes dikabarkan hilang sejak 2 April 2007

28 November 2007
Sebanyak 28 ABK Indonesia hilang akibat tenggelamnya kapal Mezannine di perairan utara Taiwan pada tanggal 27 November 2007

28 November 2007
Barokah, Buruh Migran Indonesia asal Kendal Jawa Tengah di Vonis penjara seumur hidup


29 November 2007
Laelatul Mukarromah (PRT migran asal Desa Sidak Kaya Kec. Gandrung Mangu, Cilacap) terungkap kehilangan sebagian jari tengahnya akibat di potong oleh majikannya di Kampung Lumut, Sungai Mau Brunai Darussalam pada bulan Maret 2007. Majikan Laelatul, Kartini kalap karena menilai Laelatul memotong rumput terlalu lama dan kemudian menggunakan gunting pemotong rumput yang dipakai Laelatul untuk menggunting jari Laelatul hingga putus. Selain itu, majikannya juga menarik rambut Laelatul serta memotongnya.

5 Desember 2007
Castini , Siti Julaiha dan Aan Fatonah PRT migran Indonesia yang disekap di Irak dipulangkan ke Indonesia


7 Desember 2007
Sebanyak 600 WNI dengan Visa umroh dan overstay ditangkap di Mekah Saudi Arabia oleh Aparat Keamanan dan terancam deportasi. Sepanjang Januari-Desember 2007, Saudi Arabia telah mendeportasi 22.116 buruh migrant Indonesia tidak berdokumen

23 Desember 2007
Nanang Rahmawati, PRT migrant Indonesia asal Jakarta di sekap selama 4 hari tanpa makanan di pusat perniagaan sutera utama Johor Bahru.


Jakarta , 27 Desember 2007
Anis Hidayah (Executive Director
Wahyu Susilo (Policy Analyst)

[Wahyu Susilo, Jakarta]

11 Oktober 2007

Kelodak si Todak Episod 6 (Singgahsana)

Depan Kiri Faizal & Wan, Belakang kerusi 2 Penyair iDANRADZi, Man & Ijan, Kerusi 3 Nik,Hatmi & Ketereh, Belakang Abuya Rusdi.

Telahan aku amat benar, sekitar jam 3:00 petang barulah tujuh rakanku yang lain sampai. Air amat surut ketika itu. Tentunya mereka terkejut lantaran tak ada ikan besar yang kami dapat. Banyak umpan yang mereka bawa. Dua jenis udang & umpun². Air yang berkelodak memang payah menjanjikan ikan yang bergred tinggi. Jika ada pun mungkin ikan semilang & ikan ikan duri.

Aku lihat Abuya banyak membantu mengikat mata pancing untuk Wan,Nik & Ketereh.Yang lain nampak memang mahir bab ikat mengikat ini.

Banyak juga mereka dapat ikan semilang.

" Sedap nanti kita buat masak asam pedas! " Fairuz bersuara.

Aku sekadar mendapat peluh, kail masih tak melekat umpan. Lalu aku membiarkan saja mata kail linyai dibawa arus & memerhati gelagat rakan². Mentari makin rebah diselimut senja. Air beransur pasang. Aku masih menyelitkan harapan agar ada ikan² besar sudi bertandang ke persekitaran kelong. Hari makin suram, rintik hujan mula menitis.

Fairuz mula memasak masakan malam, janjinya tadi mahu memasak gulai asam pedas; pastinya sesedap lalu. Ketereh memang rajin menolong Fairuz. Angin yang kuat lantaran bermesra dengan hujan renyai membuatkan payah nasi mahu empuk. Aku lihat Ketereh & Fairuz memindahkan dapur sebelah kamarku yang terlindung dari desah angin.

Aku menghulur Nusantara kepada Ijan; teringin mahu menimba keilmuan sifunya.

" Ijan ... kau ingat kenapa ikan tak banyak? "

" Berbedalah abg iDAN kelong dengan bot, jika bot kita pergi mencari lubuk ikan dari ujam ke ujam...di Kelong kita hanya menanti kot kalau ada ikan yang datang, kita yang mencari ikan dengan ikan mencari umpan kita memang berbeda. "

Aku mendengar penjelasan Ijan, memang ada benar katanya. Hari makin gelap. Aku turun ke tangga kelong untuk mengambil wuduk. Air makin jernih. Aku nampak Hatmi begitu tekun memancing di sisi tangga. Mengadap laut luas. Neon dari hotel Port Dickson nampak cantik dalam mendung senja merangkak gelap.


Senjakala & loceng ... mana ikan ni!

Angin basah menyimbah muka dingin & amat cepat mengeringkan air wudukku. Aku membentang sejadah di kamarku. Kedengaran di sebelah kamarku suara Ketereh sembahyang begitu lantang. Teringin untuk berjemaah dengan dia tapi terhalang lantaran sebahagian dari rakan² nampak berleka sahaja. Atau aku tak nampak lantaran makin kegelapan kian membataskan pandangan. Wan makin bersungut, risau sangat Abg Nan tak datang-datang berkali-kali mereka cuba hidupkan enjin yang di letakkan di dalam tandas tidak berjaya. Tiada minyak tentunya.

Lepas syolat aku memastikan umpan di mata kail yang aku hanyutkan, udang yang dibeli oleh Abuya nampaknya habis dicuri anak² ikan; aku menukar umpan dengan umpun² & melontar sejauh mungkin umpan ke arah pandai. Umpun liat sikit. Aku melekatkan loceng agar sempat dirembat jika umpan dipagut ikan...

" Isk gelapnya... dah 8:00 malam lebih ni.. mana Abg Nan ini sudah lupakan kita ke!..." Tak habis lagi sungut si Wan.

- bersambung!

Kelodak si Todak Episod 5

Posted on 11.10.2007 at 11:56 AM

30 Mei 2007

Ngail@di.Desa (Sastera)

bakong lubuk lama sepat & puyu
bagaikan berenang jauh di sepi desa
tak sabar rasanya merentas pokok paku
mencantas rempiang menaut haruan
menahan bubu & membakar buah getah
atau isi kelapa buat pemanggil limbat
di jaringan bubu
atau mengutip buah ceri bagi umpan
si ikan lampam
atau membakar sarang kerengga
mencuri anaknya sebagai umpan di paya

di desa sana terlalu banyak tasik
untuk diteroka percuma
di kota ini semuanya berbayar
di kolam ikannya dapat diduga
di tasik kita ghairah meneka spesis apa
di laut terkadang gelombang menghalang kita
memang tak puas turun ke laut
tapi tidak boleh saban kali ke sana
bajetnya bukan sedikit
wang besar hasilnya besar

namun aku amat rindu untuk
ngail di kampungku
redup nyaman
bukanlah ikan sasaran utamanya
sayogia impirasi meresap ke diri.

iDAN
BKK & Jenaris
30 Mei 07

Posted on 5.30.2007 at 1:22 AM

10 Mei 2007

Kelodak si Todak Episod 5 (Singgahsana)

Makin dibaling umpan makin ikan bagaikan lari. Peluh kian membasahi baju T aku. Aku bingkas meluru ke kamar aku, mencari baju T yang lebih nipis. Panas. Aku mencapai Nusantara, termenung memerhati ombak laut. Putih berlari-lari mengejar hujan bakau. Nampak nelayan memasang jaring di persisiran pantai.

" Apakah jaring yang memagari kelong ini membuatkan semua ikan lari! .." Desus hatiku.

Aku lihat Fairuz juga makin rimas, impian aku mahu menaikkan anak-anak kembung, anak selar atau sebarangan ikan boleh dibuat umpan bagi malam nanti nampaknya gagal.

Aku teringat akan ikan kembung yang kami beli di Bangi pagi tadi. Mungkin ikan di Kelong Lukut ini suka makan daging kembung. Aku menggunakan pancing antikku si ABU Cardinal 757. Memasang umpan daging kembung; berbaling jauh-jauh mengikut arus laut; batu yang aku gunakan saiz agak besar agar tidak hanyut dek arus. Harapanku ada penghuni di laut Lukut ini akan meragut umpanku.

Air makin surut, air makin keruh. Fairuz & aku memang kecewa. Sesekali Abuya Rusdi & rakan aku yang masih di Serdang telefon. Fairuz bising berkata;

" Jangan ganggu tengah naikkan ikan gelama besar ni!... " Bergurauan Fairuz sebenarnya.

" Siapa telefon tu?.." Aku bertanya.

" Ijan! "

Hari kian petang. Aku kian melupakan joranku; Penatlah amat. Aku mencari makanan lantaran terasa lapar, Fairuz ada membawa mee goreng dari rumah. Ada sedikit untuk aku makan. Habis aku makan; memang lapar sangat. Aku mencongak waktu. Jika mereka bertolak dari Serdang sekitar 1:00 tengah hari. Pasti sampai sekitar 2:00 petang. Sepatutnya mestilah dalam jam 3:00 petang mereka akan sampai.

Dengan Abuya Rusdi memang aku biasa memancing di Tasik Tejut. Dengan Ijan memang aku tak biasa. Apatah lagi dengan Faizal, Wan, Nik & Hatmi. Ketereh asalnya orang Kelantan, adalah rakan jurnal & aku kerap berbual kosong dengan dia di makmal. Cumanya sejak kebelakangan ini dia makin ramai rakan senegerinya berhijrah ke fakultiku. Faham-faham sahajalah jika orang Kelantan berjumpa dengan rakan seKelantan. Kita yang tak pandai bercakap dengan lograt mereka memang tak ada can mahu mencelah berborak.

Ketereh kira baru nak belajar memancing. Raman kira biasa. Abuya, Ijan, Faizal memang sudah dikira sifu. Seharusnya memancing dengan sifu-sifu inilah aku harapkan akan dapat menimba ilmu mereka agar menjadi hanyirnya joran.


Pelangi atau Langit Minum, jangan tunjuk dengan jari nanti jari jadi kudung!!!

Bila sahaja air semakin keruh, memang tiada langsung tangkapan ikan. Amat berbeda dengan kelong yang besar. Fairuz pernah memancing di kelong yang lebih besar agak ke tengah laut. Tentunya tak ada masalah air pasang surut. Mungkin apa yang aku baca tentang pengalaman mereka yang memancing di Kelong Lukut ini adalah di kelung besar. Banyak ikan kembung & selar katanya. Bermain dengan apollo pun katanya sudah cukup seronok. Tidak ada masalah umpan ikan segar jika memancing di Kelong Lukut.

Aku memandang ke arah jeti Lukut, kot-kot ada bot laju akan membawa tujuh orang lagi teman memancingku. Harapanku dengan kehadiran mereka pasti akan ada serunya ikan datang menghampiri kelong. Manalah tahu kalau-kalau ada kalangan teman memancingku ini menuntut ilmu dengan arwah Pak Abu. Sebut tentang ilmu memancing Pak Abu aku memang amat trauma. Sebut saja mahu makan ikan apa, seru saja akan datanglah ikan yang kepingin dipancing. Yang aku tak pernah dengar diserunya ialah Ikan Duyung. Semangat Ikan Duyung tentunya payah diseru oleh arwah Pak Abu. Jika tidak pasti ramai kalangan teruna di kampungku berkahwin dengan ikan duyung.

" Bilalah aku dapat menuntut ilmu mengail yang diturunkan oleh arwah Pak Abu kepada Nu-C, pengerasnya setahu aku taklah mahal sangat!, Nu-C masih dapat ditemui di UPM, dengar khabarnya dia masih aktif mengail... " Desus hatiku.

- bersambung!

Kelodak si Todak 4

Posted on 5.10.2007 at 5:08 PM

29 Januari 2007

Pautan Hati 5 Kuali Gergasi (Delima Merkah)

Jamil bangun membawa pinggan & cawannya ke singki.

" Letakkan saja di sebelah tu bang " Juriah bersuara tanpa memandang Jamil.

Serentak itu Syafik, Raman & Mira terkedek-kedek mengikut Jamil yang telah pun duduk di balai memasak belakang rumah bersama dengan 555nya. Ada beberapa pokok Sukun di belakang rumah mak mertuanya. Agak tinggi, tentunya payah ingin mengait buahnya. Dahan Sukun memang rapuh. Nampak ada galah PVC yang agak panjang bersambung. Emmm kalau galah buluh mahu tak terangkat jika sepanjang galah PVC. Pohon Malinjo dekat bilik air nampak lebat buahnya. Kerepek Malinjo biarpun pahit tapi banyak khasiatnya. Setakad sebalang Kerepek malinjo memang tak sedar habisnya jika sudah mula leka memakannya sambil menonton TV.

" Paman Amil.. bila nak mulakan kerja membasuh kita? " Mira bersuara mengejutkan lamunan Jamil. Nampak tak sabarnya Mira. Syafik & Raman sudah mula menolak-nolak periuk ke sisi di dinding supaya dekat dengan paip air.

" Mira, Syafik .. Raman sabarlah dulu, paman tengah merokok ni, kejap nantilah, makanan kat perut pun belum turun betul!! " Tiga orang cucu Wak Suratman ini macam tak dengar sahaja. Seluar sukan Mira sudah nampak basah, berebut paip dengan Raman.

" Syafik! suruh Raman & Mira siram periuk & kuali, biar keraknya kembang " Jamil lihat ada sebahagian periuk masih tidak direndam. Huh! boleh tahan banyaknya periuk belanga, kuali & pinggang mangkuk kena dibasuh. Entah jam berapalah akan siapnya. Tak apa, kena buat pelahan-pelahan. Nasiblah semalam jadi Raja Sehari, hari ini kena dera.

" Syafik mari sini kejap? "

" Ada apa hal Paman... "

" Paman Rosman tu, Paman tak nampak pun sejak sarapan tadi! "

" Syafik tahu mana dia lepak, ngapa nak Syafik panggil dia ke? "

" Ishh.. janganlah, Paman orang baru di rumah ni, tak baik ganggu dia "



Kedengaran ayam jantan Wak Jamiah berkokok, mabuk minum brandi ke apa ayam jantan Wak Jamiah ini, mentari sudah menyala pun tak pandai berhenti berkokok. Berkokok pagi kata orang tua, tak jadi masalah, ayam bukankah katanya dapat melihat Malaikat. Mesti tegur Malaikat lalu. Jika berkokok senja kata orang tua mesti ada perkara yang tak baik akan berlaku. Zina atau anak luar nikah akan lahir. Ish.. simpang dek Malikat 44;


Terlebih makan tempe kot si Romlie itu!, tempe buat lode taruh cili pedas-pedas...

Masalah Rosman, huh takut nak dengar! Dia teringat sungutan Wak Jamiah pasal anak bungsunya si Rosman. Tak habis-habis buat kerenah. Paling dia risau takut kemalangan dengan RXZnya. Gila dengan motorsikalnya. Ghaib memanjang, memang payah lekat di rumah. Dia berdoa agar jangan sampai anaknya bungsunya jadi Mat Rempit.

" Paman Amil... tenguk Abg Raman ni, belum lagi Mira mula buat kerja sudah basah seluar Mira ni.. nanti Mira sejuk .. demam cam mana?.. "

" Baguslah.. tak boleh makan ABC! " Raman bergurau.

Nampak Kak Julia tersenyum saja dari pintu dapur melihat anak daranya sudah mula basah. Mira ini macam anak mami sikit. Ayahnya entah darah darah Khan mana. Tersenyum Kak Maimun isteri abg Paiman yang pendiam nampak bertudung cantik di belakang Kak Julia. Dari wajah Kak Maimun memang terbayang perbagai rahsia. Payah bagi Jamil menyingkapnya. Anak Kak Maimun yang sulung Munirah mirip wajah ibunya putih cantik, baru darjah empat, Kak Maimun ada darah Minang itu yang nampak lembut & tak banyak cakap, tak fasih berbahasa jawa; dua lagi anaknya memang wajah jawa jati ikut ayahnya Abg Paiman. Raman biarpun wajah macam ayahnya tapi nampak sopan budaknya. Adik Raman si Romlie isk!... baru lima tahun, punyalah lasak mengalahkan komando. Jika bertembung dengan Mira kira sepupunyalah... asyik bercakaran. Nasib dia tak datang menolong, kalau ada pasti bakal ribut@repot. Terlebih makan tempe kot si Romlie itu!, jika ngacau siap Jamil sudah teragak nak serkup dia dengan periuk besar itu!.

Jamil nampak Mira menghalau ayam Wak Jamiah; ayam Nyainya asyik mencuri kerak nasi dalam periuk. Lagi dihalau lagilah riuhnya ayam kampung!. Mengalahkan nak bertelur.

" Okeylah!... jom kita bertiga mulakan operasi! ... Syafik, Raman tolong Paman angkat kuali ini. Mira bersedia jadi ahli bomba .. siram air! jika Paman laung 994 .. siram sampai padam!" Sambil membuang puntung 555. Mira tersenyum; Jamil tegang urat belakang mengangkat beban, memang berat kualinya. Ziana Zain pun muat berendam di dalamnya. Emmm tambah hitamlah dikau Ziana Zain, jika berendam dalam kuali ini.

" Hai.. orang-orang kampung!... Tak ada lagikah yang lebih besar sang kuali di Kampung Tasik Naga ini. Agaknya khazanah purba gergasi dari Tasik Chini dijumpai oleh penduduk kampung ini untuk buat kenduri.. nanya aku nak membasuhnya! " Sungut Jamil si Pengantin Baru dalam hati. Inai di jari pudarlah nanti.

- bersambung

Capaian Berkait

Pautan Hati 4

Posted on 29.1.2007 at 9:46 AM

24 Januari 2007

Pautan Hati 4 Gangguan SMS (Delima Merkah)

( Ada yang bertanya apa maksud Delima Merkah? , Saya mengategorikan kisah benar yang diolah serta ditokok-tambah agar menjadi ceritera yang menarik dengan istilah Delima Merkah )

Sedang dia asyik mengelamun, terdengar nada dering SMS. Bukan bunyi nada dering telefom bimbitnya. Dia nampak tas tangan Juriah terbuka di rak katil pengantin.

" Perlukah aku membukanya? " Desah hatinya.

" Tak baik!, jika ditahu Juriah aku membaca SMS dia, takut pula aku dituduh terlampau ambil tahu ... cuba menyekat kebebasan dia.." Suara hati dalam diri.

" Tapi bukankah dia telah mutlak jadi isteriku, salahkah aku mencemburui isteriku aku sendiri " Desah hati cemas Jamil.

" Ishh baru nikah dah ada sikap cemburu buta?.. kawallah sikit Jamil " Suara hati dalam diri memujuk.



Jamil hampir habis bercengkerama dengan usapan lembut beracun 555. Teringat akan kuali besar, periuk besar & banyak lagi pinggang mangkuk tidak bercuci. Dia terbayang wajah Syafik anak sulung Kak Julia, baru tingkatan satu tapi memang boleh diharap. Anak abg Paiman yang nombor dua si Raman biarpun baru darjah dua tapi cukup rajin dalam bab main air. Harapan Jamil jika ada berdua orang menolong ringan sikit kerja dia untuk membasuh nanti. Jam di dinding masih awal. Anak saudaranya masih ada yang tidur cuma sebahagian terdengar suara mereka di anjung menonton TV. Jamil kian melupakan SMS Juriah. Menghidupkan nyawa sebatang lagi 555.

Dia terbayang akan wajah ibunya di kampung. Wak Suminah. Orang kampung memanggil ibunya begitu. Seorang ibu yang amat baik, tak pandai nak marahkan anak. Tidak pernah bersuara meninggi. Ibunya yang mencarikan jodoh. Ibu Juriah yang kini adalah Mak Mertua, adalah kenalan lama ibunya. Jamil sememangnya tidak pernah bercinta. Juriahlah bagaikan cinta pertama dia. Dia berharap dapat memilik cinta Juriah setelah berkahwin.

" Abang sarapan sudah siap, tak mahu sarapankah? " Emmm ada ayat negatif ujungnya.

" Kejap! lepas abang tukar pakaian ini abg turun "

Ayat negatif; kerap terjadi ayat yang begitu. Seharusnya ayatnya berbunyi begini.

" Abang sarapan sudah siap, jom kita bersarapan bersama! " Bukankah sedap bunyi ayat begitu. Jika suami yang pasif memang tak jadi soal, bagaimana pula jika suami yang keegonya yang nyata tinggi pasti akan timbul pula ayat balikan yang mengeruhkan keadaan.

Bila Jamil melangkah ke ruang dapur, telah berkumpul semua keluarga mertuanya. Wak Suratman telah meneguk kopi, cucu-cucunya telah bersila menjamah juadah. Jamil duduk di sebelah Syafik. Juriah menghulurkan pinggan kepada Jamil. Jamil menyeduk lontong & mengisi kuah lode ke pinggangnya. Masih ada rendang daging kenduri semalam. Syafik di sebelahnya makan bihun goreng digaul dengan kuah kacang.

" Syafik & Raman nanti lepas sarapan tolong Paman Jamil basuh periuk kat belakang tu..! " Wak Suratman memecah kesunyian. Jamil tersengeh, jangkaannya memang tepat, anak saudara Juriah pasti akan menolong dia nanti.

" Baiklah Yaie.., tapi lepas siap semua Paman Jamil kenalah belanja kami minum ABC " Bergurau.

" Alaa... tak jadi masalah, nanti Paman mesti belanja punya " Jamil tersengeh lagi.

" Mira nak tolong boleh tak Yaie..! " Anak bungsu Julia mencelah, bualan Atoknya.

" Mira tu memang hantu ABC, bukan larat buat kerja ... nanti main air saja " Raman bersuara. Mira monyok.

" Yaie tak kisah, lagi ramai tolong lagi Paman Jamil tak penat nanti, setahu Yaie Raman yang suka main air! " Mira rasa terbela, tersenyum!.

" Mira tolong tenguk-tenguk kami pun tak apa, nak tolong basuh pun bagus juga, Paman tak kan nak tinggalkan Mira jika kami nak minum ABC nanti. " Jamil senyum kepada Mira. Juriah memerhati sahaja dari jauh.

Jamil telah habis sepinggan lontong taruh rendang & mencapai goreng sukun. Meneguk kopi O emmm sedapnya. Dia baru perasan akan Abang Paiman. Mana dia iyer!.

" Apak mana Abang Paiman? "

" Biasalah Jamil, abg ipar kau tu kalau sarapan mana boleh lekang dengan kawan dia kat kedai kopi tu! "

Kak Julia buat tak dengar sahaja. Dia masih menjamu selera sebelah emaknya. Juriah telah bangun membasuh pinggan mangkuk di singki.

Capaian Berkait

Pautan Hati 3

Posted on 24.1.2007 at 9:58 AM

17 Januari 2007

Pautan Hati 3... Pakatan ( Delima Merkah )


1:41 pagi 1/17/2007

Dinihari

Jamil nampak Pak Mertuanya membeluk kapcai jenis Hondanya ke simpang rumahnya. Daun pisang nampak melambai-lambai. Depan rumah Juriah sememangnya banyak pokok pisang, ada beberapa batang pokok kelapa dan mempelam. Mentari nampak tersenyum di gigi langit. Iswara hitam yang dipandu oleh Jamil diletaknya di rendangnya pokok mempelam. Kemah Dia terus masuk ke rumah melalui pintu dapur. Biasalah bila rumah dua tingkat, jarang pintu utama di anjung rumah digunakan.

" Assalamualaikum! "

" Mualaikumsalam... baru balik dari surau ke Jamil? "

" Iyer mak!, Juriah mana mak! "

" Entah... lepas mandi dia masuk ke biliknya, tak keluar-keluar pergilah Jamil jenguk " Nampak Wak Jamiah begitu sibuk, Jamil perasan Kak Julia bersama pun ada. Isteri Abang Paiman Kak Maimun nampaknya memotong sayur bersama anak sulungnya Munirah. Semua wajah serentak memandang Jamil. Bisu tanpa suara. Dia memerhati kot nampak Wak Suratman & Abang Paiman. Tak nampak mereka.

Jamil terus ke biliknya di tingkat atas. Anak saudaranya masih bergelimpangan tidur.

" Assalamualaikum Juriah " Jamil melihat Juriah sedang mengeringkan rambut di meja solek.

Tak berapa dengar Juriah menjawab salam.

Jamil melihat ada beberapa hadiah telah terbuka. Dalam samar lampu tidur di mencapai beberapa pembalut hadiah. Nampak banyak hadiah pinggan mangkuk. Di membaca beberapa tulisan di kad hadiah. Kebanyakkannya nama perempuan, tentunya kawan Julia. Cuma ada satu kad, tulisannya tak berapa jelas, Roslah atau Roslan. Dari pembalut warna biru ada lambang hati.

" Dah sembahyang ke Juriah "

" Mengapa abang bertanya? "

Jamil tak menjawabnya. Jika jawabpun mesti akan keluar jawapan bodoh. Jamil perasan ada satu kotak muzik di meja solek, malam tadi dia perasan tak ada kotak muzik itu. Nampak macam baru. Jamil malas nak bertanya, tapi memang cantik. Dia membuka baju melayunya & mencari kemeja T. Petang semalam dia pesanan masih banyak periuk & kuali besar tidak berbasuh. Ramai kalangan rakan dia bercerita, sesetengah kampung memang periuk besar atau kuali masak mesti mereka perkenakan pengantin. Biarpun mereka kenduri, memasak secara gotong-royong, bab basuh periuk & kuali besar sering dikenakan pengantin yang membasuh.

Jamil berbaring di tilam empuk, tilam pengantin. Dia penat sebenarnya, sayogia malam tadi dia tak cukup tidur, amat mengantuk entah berapa malam dia memang lewat sangat tidur. Dia mengelamun teringat akan 555 dia, tapi pasti Juriah bising tak tahan asapnya. Tak baik pula awal pagi ada ayat yang tak elok keluar dari mulut Juriah. Jamil matikan saja ingat dia kepada 555.

Ahad nanti akan dibuat majlis kenduri kahwin di kampungnya pula. Seingat Jamil penduduk Desa Pinggiran Teluk, memang bagus bermuafakat tiap kali kenduri. Dia pun rajin bersama bergotong royong memasak & mengemas segala kelengkapan kenduri. Ketua pakatan mereka selalunya akan berpesan agar jangan ada timbul rasa tak puas tuan rumah.

" Kenduri kahwin ini memang satu kerja besar, belanjanya buka sedikit, jadi kita hendaklah berkerjasama & jangan timbul desas desus setelah habis kenduri. Tuan rumah ini adalah ibarat keluarga kita saudara mara kita... " Panjanglah nasihat ketua pakatan, selalunya seminggu sebelum kenduri kahwin sememang ada majlis pakatan selasur@balai, melantik ketua mengagihkan kerja; bahagian memasak, hidangan, penanggah, pembantu tuan rumah menyambut tetamu, membasuh & perbagai lagi. Masalah membasuh selalu sangat ketua pakatan akan mengingatkan.

" Jangan sampai ada barangan masakan kita tidak dikemas & dibasuh semua, sampaikan jadi bebanan tuan rumah. Bagi saya tak elok kita nak dera pengantin baru membasuh benda yang seberat itu, Kita beramai kalau membasuh periuk yang besar bersama sememangnya tak jadi bebanan.."

Jamil hampir terlena, hayalan dia terganggu bilamana Juriah membuka pintu & terus ke dapur. Jamil bangun & mendekati tingkap yang telah dibuka Juriah. Dia mencapai kotak 555.

- bersambung

Capaian Berkait

Pautan Hati 4

Pautan Hati 2

16 Januari 2007

Lembaga hitam kacau Mawi ( Cerita Ceritera )

Oleh Nazarali Saeril

KUALA LUMPUR: Selepas menjadi juara Akademi Fantasia 3 (AF3) dan bergelar bintang paling popular, Mawi bukan saja menghadapi pelbagai kontroversi, malah sering mengalami gangguan makhluk halus.

“Saya pernah ditekup mulut dan ditarik kaki oleh lembaga perempuan lengkap berpakaian dan bertudung merah ketika berbaring untuk tidur.

“Ketika itu, saya mengalami kesukaran untuk bernafas dan ia menyebabkan saya terjaga beberapa kali daripada tidur,” kata Mawi kepada Harian Metro, semalam.

Anak kelahiran Felda Taib Andak, Kulai, Johor itu mengakui gangguan berkenaan menyebabkannya gelisah dan bimbang untuk tidur kerana takut berlaku perkara tidak diingini.

“Gangguan lembaga wanita berpakaian merah itu hanya berlaku sekali tetapi saya menganggap ia yang paling menakutkan.

“Selain itu, hampir setiap malam saya diganggu pelbagai lembaga hitam dan mengerikan ketika cuba tidur. Ada kalanya seolah-olah benar-benar berlaku tetapi saya anggap ia mainan tidur saja,” katanya.

Menurut Mawi, apa yang menghairankan, gangguan itu bukan saja berlaku di kediamannya di ibu kota tetapi ia seolah-olah mengejarnya ke mana-mana lokasi yang dituju untuk tugasan atau persembahan.

Walaupun tidak menganggapnya perkara serius, Mawi sentiasa berhati-hati kerana bimbang mungkin ada pihak kurang senang dengannya atau kariernya yang sedang di kemuncak.

“Saya menyedari mula mengalami gangguan berkenaan sejak mula menceburkan diri dalam bidang nyanyian tiga tahun lalu.

“Sehingga kini, ia masih lagi ada tetapi tidak sehebat seperti ketika pembabitan awal saya dalam bidang ini,” katanya.

Mawi bagaimanapun tidak mahu berprasangka buruk terhadap mana-mana pihak berikutan kejadian menakutkan itu kerana menurutnya, ia boleh berlaku kepada sesiapa saja.

Dia kini tidak mahu terlalu memikirkan perkara itu kerana lebih baik fokusnya ditumpukan dalam mengembangkan kerjayanya.

“Saya tidak pernah disantau atau dibuat orang oleh pihak tertentu menggunakan ilmu hitam dan sebagainya.

“Namun, untuk mengelakkan kejadian seperti itu, saya ada mengamalkan bacaan ayat suci tertentu kerana percaya hanya Allah s.w.t yang mampu melindungi hamba-Nya,” katanya.

Kata Mawi, dia tetap percayakan perkara ghaib tetapi tidak menganggap ia lebih berkuasa daripada Allah s.w.t.

“Walaupun diganggu perkara ghaib, saya tetap akan berdoa memohon perlindungan dan bertawakal kepada Allah S.W.T kerana Dia lebih berkuasa,” katanya.


iDAN Menulis

Pengalaman Mawi sememangnya bukan dongengan. Kejadiani sihir & perbagai lagi perkara misteri memang ujud sejak dulu. Pastinya lantaran ada yang mempunyai sifat dendam yang cuba menggunakan Ilmu Hitam untuk menduga kekuatan diri Mawi, Mawi kena bersabar dalam menangani semua ini.

Dalam rancangan Sebalik Malam TV3 ada menceritakan pengalaman artis lain yang diganggu oleh perbagai perkara ghaib. Sememang benar kata Mawi, dia tetap percayakan perkara ghaib tetapi tidak menganggap ia lebih berkuasa daripada Allah s.w.t. Sejarah banyak membuktikan kekuatan ilmu sihir yang terkadang tidak dapat diterima akal kita. Tak kira dari kalangan mana sekalipun. Bukan sekadar orang Melayu kita yang menggunakan amalan ilmu sihir ini, bangsa lain seperti Siam, Orang Asli & banyak bangsa lagi yang memang masih kuta berhubung dengan perkara ghaib ini.

Tentunya gangguan tidur akan terusan menghantui mawi, biarpun dia dapat melegakan dirinya dengan bacaan Al Quran. Terkadang saya terfikir, sememangnya gangguan syaitan, perkara ghaib itu kita boleh mengabaikan, tetapi bagaimana dengan gangguan emosi, stress, trauma, kecewa & perkara lain yang membuatkan kita tidak boleh tidur.

Seperti kini, aku sering juga mengikut perkembangan peminat Mawi yang terlalu fanatik mengkritik Ina bekas tunangan Mawi. Tentunya Ina tak ada masa nak membaca kritikan mereka sebab dia kini telah menyibukkan diri dengan dunia barunya tanpa Mawi. Tetapi semuanya tahu bagaimana dia begitu tertekan ketika ditinggalnya Mawi. Bagaimana tentunya tidurnya Ina bagaikan igauan.


tentunya tidurnya Ina bagaikan igauan...

Yang telah terbukti oleh kenyataan, orang perempuan ini cepat kecewa, cepat jatuh cinta & mereka juga cepat dapat melupakan. Memang itu yang dikatakan semua termasuk dalam skrip drama Jepun. Konna Koi no Hanashi Maka bila namanya perempuan tidak hairan mereka mudah melupakan kekasihnya ataupun suaminya dengan sedikit kesilapan sekalipun. Itu yang terjadi dengan Ina, kalau dulu dia mengatakan payah melupakan Mawi lantaran itu adalah cinta pertamanya. Jangan terkejut nanti dia akan kejinjang pelamin dengan kadar segera. Sebabnya seperti kata orang, hidup kena diteruskan. takkan nak bengkak mata kecewa. Sampai bila. Orang yang kita sayang lagi cintai tentunya telah bahagia dengan cintanya yang baru. Itulah cinta insani.

Cinta sejati semuanya tahu milik siapa!. Dia yang satu. Tidak perlulah kita menggarapkan syurga sebagai balasan, syurga itu adalah ketentuan dia; cinta kita kepada Allah Azzawajalla amat manis jika sungguh & qudus menyintainya. Tapi rasa nikmat & ketenangan yang kita sememangnya akan dirasai di dunia lagi.

Agar Mawi dapat mengatasi gangguan ini & lambaga itu tidak akan menganggu tidurnya lagi.

Mawi amal ayat al-Quran

Oleh Nazarali Saeril

Arwah ayah cadangkan sebagai pendinding

KUALA LUMPUR: Juara Akademi Fantasia 3 (AF3), Mawi, yang tidak tahan diganggu makhluk halus pernah merujuk kejadian itu kepada arwah ayahnya, Ani Ahmad, sebelum diberikan beberapa potong ayat suci al-Quran untuk diamalkan sebagai `pendinding’.

“Hampir dua tahun tidur saya diganggu pelbagai gangguan makhluk halus sehingga saya rasa tertekan.

“Akhirnya, saya menceritakan perkara itu kepada arwah ayah untuk mendapatkan nasihat dan dia mencadangkan kepada saya beberapa ayat suci al-Quran untuk diamalkan,” katanya kepada Harian Metro di sini, semalam.

Menurut Mawi, ayat suci itu menjadi amalan seharian khasnya sebelum tidur atau ketika hendak ke lokasi tertentu bagi membuat persembahan dan sebagainya.

Hasil amalan berkenaan, gangguan itu semakin berkurangan dan kini dia mengaku sudah boleh tidur lena seperti sebelum bergelar artis.

“Saya tidak mahu menuduh ada pihak tidak puas hati dan melakukan sesuatu melalui perkara ghaib terhadap saya.

“Bagaimanapun, saya bersyukur gangguan itu semakin berkurangan dan tidak seteruk dulu selepas saya mengamalkan bacaan ayat suci al-Quran yang dicadangkan arwah ayah,” katanya.

Sementara itu, mengulas laporan muka depan Harian Metro semalam mengenai gangguan makhluk halus terhadap Mawi, Pegawai Agama Istana Negara, Datuk Abu Hasan Din Al-Hafiz, berkata kejadian seperti itu bukan saja menimpa individu seperti Mawi, tetapi kepada ramai orang lain.

“Ada pelbagai sebab menjadikan seseorang itu diganggu makhluk halus, tetapi boleh dihindarkan jika mengamalkan ayat suci tertentu.

“Sebaik-baiknya, potongan ayat suci berkenaan pula perlulah dijadikan amalan seharian dan bukannya ketika diganggu makhluk halus dan sebagainya,” katanya ketika dihubungi, di sini, semalam.

Bagaimanapun, beliau meminta mereka yang diganggu bertemu ahli agama mendapatkan nasihat.

Beliau turut meminta mangsa tidak bertemu bomoh dan sebagainya kerana dibimbangi mereka menggunakan amalan lain yang bertentangan dengan Islam dalam rawatan berkenaan.

“Lebih baik bertemu dengan ahli agama untuk mendapatkan pandangan atau ayat suci tertentu yang boleh dijadikan pendinding serta keberkatan Allah s.w.t.

“Jika bertemu pihak salah, mungkin menjadi bertambah buruk kerana amalan perubatannya tidak selari kemahuan agama,” katanya.

http://www.hmetro.com.my/



WorlD!!!
pEnGaiLSeJaTi | Posted on 18.1.2007 at 3:47 AM
semoga Mawi tabah menghadapi segala dugaan dan rintangan seperti mana penyair idaNRadzi...

09 Januari 2007

Pautan Hati 2 ... Mertua ( Delima Merkah )

Mertua

" Sepanjang siang dia tak sembahyang, apakah bini aku ini orang yang taat sembahyang..? atau memang dia uzur " Desah hati Jamil.

Juriah telah lena dengan bantal peluknya. Jamil melayan angan-angannya. Hari tercabar juga dengan ayatan Juriah. Malam ini bukan malam pertama kita terusan berulang-ulang ayat itu. Dia memandang ke luar tingkap. Jendela hatinya terusik dengan lintukan pepohon malinjo yang bagaikan melambai di celahan pepohon kantan. Dia terdengar kembali suara akan burung jampuk kian dekat bersama kugiran yang dipimpin oleh cengkerik. Jelas dari pepohon rambutan jampuk melontar suaranya.

Setelah kian leka dengan kugiran unggas tersebut. Terasa pula mengantuknya Jamil. Dia terus menutup tingkap & merebahkan badan di sisi isterinya Juriah. Menatap siling kosong sekosongnya hatinya di malam pertama. Dia teringat pesanan Juriah & segera mencapai telefon bimbitnya, menghidupkan jam randik di telefon bimbitnya. 5:15 pagi.

" Harap-harap aku boleh bangun awal, jika kesiangan apa pula kata keluarga mertuaku "

Tidak berapa lama Jamil berbaring, mengering ke kiri & ke kanan sambil mengira jaruman hujan yang masih turun; Juriah bagaikan tidur mati membelakangi. Selang beberapa minit Jamil terus berdengkur kepenatan.

" Juriah... Juriah bangun, bangun cepat nanti segan pula kalau ada orang nak gunakan bilik air, abg nak ke surau ni... "

Semasa Jamil menghidupkan enjin Iswara hitam yang dipinjamnya dari abangnya Jamal. Dia nampak lampu bilik air dinyalakan tentunya Juriah yang tengah mandi. Kedengaran bunyi pinggan mangkuk di dapur berlaga. Tentunya ada keluar mertua dia yang telah bangun memasak untuk sarapan pagi tentunya.



Jamil meredah kabus pagi, memancutkan air di cermin depan Iswara hitam beberapa kali & menghidupkan viper. Entah jam berapa baru hujan benar-benar teduh malam tadi. Sejuk amat cuaca Kampung Tasik Naga, Banting ini. Kampung Tasik Naga itu sebenarnya adalah kampung kembar Kampung Sungai Buaya. Awal dia bangun untuk ke surau. Sebelum berbunyi jam randik dari telefon bimbitnya dia sudah terjaga. Bercelaru sebenarnya fikirannya. Dia dapat mengatasi pak mertuanya Wak Suratman atau abg iparnya Paiman tentunya untuk segera ke surau. Tak tahulah apakah keluarga mertua dia rajin ke surau. Serba salah dia hendak pelawa, takut silap pelawa menyinggung hati pula. Bab sembahyang ke surau zaman sekarang memang satu yang sensetif. Dia sendiri perasan kampungnya Desa Pinggiran Teluk pun amatlah payah untuk dipenuhkan dua shaf jika sembahyang subuh.

Jamil bersalaman dengan beberapa orang jemaah yang memang tak kenal & dia sembahyang sunat hajat sementara menanti azan. Dalam sembahyang, dalam sujud dalam doanya tampak wajah Juriah yang payah senyum. Nampak bayangan Juriah yang berselimut dengan bantal peluknya. Dia memohon kehadrat Ilahi agar jodohnya dipanjangkan.

Jamil memerhati kot ada seorang dua keluarga mertuanya bersama di subuh tersebut tapi nampaknya tiada. Juriah ada lima beradik, seorang kakak Julia, Abang Paiman, Juriah anak ke tiga & ada dua lagi adik Juriah, Junaidah & yang bungsu Rosman. Jamil mencongak umur Abang Paiman, kalau emak Juriah kawin umur 18 tahun mesti umur Abang Paiman masih sekitar 30 awal, dia anak ke dua, Kakak Julia yang sulung. Juriah pernah kata emaknya baru nak masuk 55 tahun.

Selepas sembahyang subuh sewaktu bersalaman barulah Jamil perasan ayah mertuanya. Yang lain memang tak ada, mesti terlalu penat.

10:36 Mlm 1/09/2007

Capaian Berkait

Pautan Hati 3

Pautan Awal

Posted on 9.1.2007 at 10:40 PM

Pautan Hati (Delima Merkah)

Inai merah di jari Juriah nampak amat berseri di suluhi lampu tidur. Rumah kampung separuh bawah serta separuh bertiang tinggi & berdinding papan basah disirami embun jantan. Tengah malam tadi hujan lebat, membuatkan cuaca amat dingin. Sekarangpun terdengar bunyi jaringan hujan sebesar jarum berjatuhan di atap zin rumah keluarga Jamil.

Jamil tidak dapat melelapkan mata, sejak awal detik menyambut malam pertama dia.

“ Juriah abg tahu, abg bukannya pilihan hati Juriah, keluarga yang menemukan kita..” Jamil duduk di gigi katil, bilik pengantin yang serba serbi berona jingga. Jamil memperlahan putaran kipas angin yang tak tahu berhenti tergeling-geling teramat laju.

“ Abang sendiri tak percaya jodoh kita boleh diketemukan, abg berterima kasih kerana Juriah dapat menerima abang.” Juriah tak memandang pun wajah Jamil, terlentang memandang siling, bagaikan mengira jarum hujan yang jatuh di dada zin. Bunyi cengkerik amat indah mendendang laguan keroncong malam sesekali ada suara katak jantan bagaikan mengejek cengkerik, jampuk pula mengiyakan. Juriah bagaikan leka mendengar kugiran malam itu berbanding suara hati Jamil suaminya.

“ Juriah, abang tahu kita masih saling tak kenal & masih memerlukan masa untuk kira saling memahami hati sesama kita.” Jamil pergi ke arah tingkap & membuka enselnya. Mencapai 555 di meja solek & menyalakannya. Mencapai bangku di meja solek duduk rapat dengan tingkap.

Angin basah menampar pipinya. Dia perasan kerancakan kugiran yang tak diundang itu terganggu sikit. Jampuk lari entah ke mana. Tentu Juriah tercari-cari suara jampuk.Padan muka Juriah, Jamil tersenyum. Juriah mengiring ke arah Jamil. Memandang tepat ke wajah Jamil dalam samar neon lampu tidur. Mata galaknya payah berkelip. Tepat memandang wajah Jamil yang nampak lebar & asyik senyum. Rambut Juriah yang ketak-ketak sengaja tidak disikatnya. Bibirnya agak lebar masih melekat gincu; Jamil perasan dia tidak solat sejak siang tadi. Benarkah dia dalam keadaan selamat ponteng solat. Manalah Jamil nak selidik semua rahsia perempuan begitu.

“ Abang… bolehkah Ju cakap sesuatu.” Jamil teruja, terhenti menyedut 555 dia.

“ Entah berapa lama aku berbual seorang diri baru sekarang kau faham apa yang aku cakap.” Keluh suara rimas dari dalam lorong hati Jamil.

“ Sejak tadi abang tunggu Juriah bersuara, cakaplah apa dia.”

“ Beri Ju masa untuk dapat menerima abang.”

“ Maksud Juriah?.”

“ Malam ini bukan malam pertama kita.”

“ Kenapa pula?. Bila pula malam pertama kita.” Macam ayat gelojoh saja si Jamil ini.

“ Lambat laun abang Jamil kita akan faham. Ju penat sangat ni bang, nanti dekat subuh abg kejutkan Ju iyer. ” Tak senyum pun. Juriah mengering ke arah pintu bilik, memeluk bantal panjang. Jamil macam kanak-kanak kehilangan gula-gula, melihat isterinya yang amat pelik tapi memang menggoda dia.



Dekat subuh kejutkan Ju… Jamil tersenyum membaling puntung 555 ke luar tingkap menyalakan lagi sebatang. Menyedutnya meriah. Leka dengan kugiran Sang Cengkerik@Katak, suara jampuk sayup-sayup kedengaran. Layan kugiran lainlah itu.

“ Apalah maksud ayat biniku ini, mungkin dia mahu sembahyang subuh kot.”

- Bersambung

Pautan Hati 2