Translate

||| Tentang Aku |||

Foto saya
Jenaris, Kajang Selangor, Malaysia
¤¤ Penyair nan tidak akan berhenti memaparkan sesuatu. Berkata benar biar pahit sekali pun. Kata kata biarlah membawa makna. Makna jangan berbau hina.¤¤

Perlu Baca

masalah tanah pusaka Md Sesh masih tidak selesai Klik Label: Pusaka Mengambil hak milik orang lain tanpa mengikut panduan Islam adalah HARAM; akta tanah yang dipinda oleh manusia hanya perangkap NERAKA bagi mereka yang tamak akan harta dunia

16 Jun 2009

AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR (Agama)

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada 13 Januari 2007

Soal:

Apa sebenarnya yang dimaksud dengan amar makruf nahi mungkar? Apa pula yang dimaksud dengan mengubah kemungkaran (taghyîr al-munkar)?

Jawab:

Amar makruf nahi mungkar merupakan salah satu ciri yang hanya dijumpai pada kaum Muslim; tidak ada pada umat-umat lain. Bahkan keistimewaan umat Islam justru dicirikan dengan adanya sifat amar makruf nahi mungkar. Banyak ayat yang menyebut tentang amar makruf nahi mungkar dan menggandengkannya dengan sifat-sifat kaum Muslim. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 110).

Menurut mufasir al-Qasimi, sifat tersebut (yakni amar makruf nahi mungkar, pen.) menjadi keutamaan yang Allah berikan kepada umat Islam, dan tidak diberikan kepada umat-umat lain (Al-Qasimi, Mukhtashar Min Mahâsini at-Ta‘wîl, hlm. 64, Dar an-Nafa’is).

Yang disebut dengan makruf menurut timbangan syariat Islam adalah setiap itikad (keyakinan), perbuatan (amal), perkataan (qawl), atau isyarat yang telah diakui oleh as-Syâri‘ Yang Mahabijaksana dan diperintahkan sebagai bentuk kewajiban (wujûb) maupun dorongan (nadb). (Dr. Muhammad Abdul Qadir Abu Faris, Amar Ma‘ruf Nahi Munkar, hlm. 19, Darul Furqan).

Dengan demikian, beriman kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya; pada Hari Akhir, syurga dan neraka, dan lain-lain dianggap sebagai perkara yang makruf dan diperintahkan, serta terkait dengan itikad (keyakinan/keimanan). Pelaksanaan shalat, shaum, zakat, haji, sedekah, berjihad fi sabilillah dan sejenisnya; tercakup di dalam perbuatan-perbuatan (amal) yang makruf. Mengucapkan kata-kata yang haq, memerintahkan untuk menjalankan kewajiban agama, dan melarang terjerumus dalam hal-hal yang diharamkan; juga tergolong pada perkara yang makruf.

Jadi, makruf disini berarti al-khayr (kebaikan). Oleh karena itu, amar makruf berarti perintah atau dorongan untuk menjalankan perkara-perkara yang makruf (kebaikan), yang dituntut atau didorong oleh akidah dan syariat Islam.

Sebaliknya, yang dinamakan dengan mungkar menurut timbangan syariat Islam adalah setiap itikad (keyakinan/keimanan), perbuatan (amal), ucapan (qawl) yang diingkari oleh as-Syâri‘ Yang Mahabijaksana dan harus dijauhi (Abu Faris, ibid, hlm. 20, Darul Furqan).

Dengan demikian, syirik kepada Allah, percaya pada ramalan bintang dan dukun, menyandarkan nasib pada mantera-mantera dan paranormal, dan sejenisnya, adalah keyakinan yang mungkar. Begitu pula minum-minuman keras (khamar), berzina, mencuri, ghîbah, berdusta, bersaksi palsu, tajassus (memata-matai) seorang Muslim, korupsi, suap, meminta bantuan militer kepada negara kafir untuk memerangi sekelompok umat Islam, tunduk pada dominasi negara-negara kafir, menelantarkan urusan rakyat, mengambil harta milik masyarakat (milik umum) tanpa legislasi syariat, menjalankan hukum thâghût (selain hukum Islam), dan sejenisnya; termasuk tindakan-tindakan mungkar.

Jadi, mungkar di sini berarti as-syarr (keburukan). Oleh karena itu, nahi mungkar berarti perintah untuk menjauhi perkara-perkara yang mungkar (keburukan), yang dihindari oleh akidah dan syariat Islam. Amar makruf nahi mungkar diwajibkan oleh syariat Islam. (Lihat: QS Ali Imran [3]: 104).

Adapun taghyîr al-munkar (mengubah kemungkaran) adalah juga diwajibkan atas setiap Muslim. Hanya saja, caranya telah ditentukan oleh Rasulullah saw. Beliau bersabda:

«مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَاِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ،
وَ ذَلِكَ اَضْعَفُ اْلإِمَانِ»

Siapa saja di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan lisannya; jika tidak mampu, hendaklah dengan hatinya. Akan tetapi, yang demikian itu adalah selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

Menurut Qadli Iyadh, hadis itu terkait dengan sifat-sifat seseorang tatkala mengubah kemungkaran. Orang yang hendak mengubah kemungkaran berhak mengubahnya dengan berbagai cara yang dapat melenyapkan kemungkaran tersebut, baik melalui perkataan maupun perbuatan (tangan). Jika seseorang memiliki dugaan kuat (yakni jika diubah dengan tangan akan muncul kemungkaran yang lebih besar lagi, seperti menyebabkan risiko akan dibunuh atau orang lain bakal terbunuh karena perbuatannya), cukuplah mengubah kemungkaran itu dilakukan dengan lisan; diberi nasihat dan peringatan. Jika ia merasa khawatir bahwa ucapannya itu bisa berakibat pada risiko yang sama, cukuplah diingkari dengan hati. Itulah maksud hadis tersebut (An-Nawawi, Syarh Shahîh Muslim, jilid II/25).

Berdasarkan hal ini, seseorang yang mampu mengubah kemungkaran. Yang dimaksud dengan mengubah kemungkaran melalui hati adalah menasihati pelaku kemungkaran, kemudian (jika hal itu dilakukan, atau tidak mampu dilakukan karena adanya risiko kemungkaran yang lebih besar) memutuskan hubungannya dengan kemungkaran dan pelakunya melalui tindakan: tidak duduk bersama-sama pelaku yang tengah melaksanakan kezaliman atau tindakan mungkar; tidak minum-minum (khamar) bersama-sama; tidak makan-makan (makanan yang haram) secara bersama-sama dengan pelaku, tidak melayani/memfasilitasi dan mendorong mereka melakukan kemungkaran; dan sebagainya.

Dari paparan tersebut tampak bahwa pihak yang paling bertanggung jawab dalam melakukan amar makruf nahi mungkar dan mampu mengubah kemungkaran dengan tangan (kekuatan) adalah pemerintah atau negara. Negara memiliki seluruh pranata yang memungkinkannya bisa menjalankan amar makruf nahi mungkar dan melenyapkan kemungkaran dengan tangan (kekuatan)-nya seketika.

Masalahnya, di tengah-tengah kaum Muslim saat ini pemerintah atau negara telah berubah menjadi dâr al-kufr, syariat Islam diganti dengan sistem hukum thâghût, sekularisme dijadikan dasar negara, kedaulatan bukan di tangan Allah Swt. melainkan manusia (yaitu rakyat), kekufuran merajalela di seluruh lapisan, dari dasar hingga ke cabang-cabangnya, ideolologi kufur (seperti Komunisme, Kapitalisme-Demokrasi dan semacamnya) merajalela dan menjadi panutan kaum Muslim, bahkan dibelanya mati-matian. Ertinya, negara telah menjadi pelaku atau pemelihara kemungkaran itu sendiri. Lalu apa yang harus kita lakukan?

Jawabannya, bahwa kaum Muslim saat ini harus terlibat dalam proses taghyîr al-munkar secara global dan inqilâbî (revolusioner). Caranya adalah dengan mengembalikan lagi sistem hukum Islam melalui eksistensi negara yang mendasarkan diri, menjaga, melaksanakan dan mempropagandakan akidah dan syariat Islam; yaitu melalui Negara Khilafah yang merujuk pada manhaj Nabi saw. Tentu saja, semua itu harus melalui tahapan/metode yang dilandasi oleh perjalanan Rasulullah saw. membangun Negara Madinah, bukan berdasarkan metode lain.

Jika di tengah-tengah kaum Muslim tidak terbersit upaya untuk mengubahnya, bahkan dengan hati sekalipun (membiarkan dan tidak peduli dengan kondisi kaum Muslim saat ini yang didominasi oleh kekufuran), bererti iman dalam dirinya telah sirna, dan kemungkaran akan menyelimuti seluruh umat manusia. Pada akhirnya, pintu azab Allah yang sangat pedih akan terbuka. Rasulullah saw. bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلاَ
يُسْتَجَابُ لَكُمْ»

Demi jiwaku yang ada dalam genggamannya, kalian memerintahkah kemakrufan dan mencegah kemungkaran atau Allah akan menimpakan azab atas kalian, kemudian kalian berdoa kepada-Nya, lalu doa kalian tidak akan dikabulkan. (HR at-Tirmidzi).

[AF]


Entri ini dituliskan pada 13 Januari 2007 pada 6:53 am dan disimpan dalam Dakwah. Anda bisa mengikuti setiap tanggapan atas artikel ini melalui RSS 2.0 pengumpan. Anda bisa tinggalkan tanggapan, atau lacak tautan dari situsmu sendiri.
Satu Tanggapan ke “AMAR MAKRUF NAHI MUNGKAR”

1.
latiaf berkata
18 Februari 2007 pada 8:17 pm

Bismilahirrahamanirahim
Dalam menegakan amal makruf nahi mungkar…sering terjadi kekerasan dan penzaliman dari pemerintah kepada golongan lain dengan kekerasan,dengan undang2,dengan membubarkan atau dengan mengusir…
Seperti sering kita saksikan di negara2 Arab,di mana gol.islam minoritas(syiah Sufi dll) dianggap ajaran sesat dan kemudian dilarang dan dizalimi.

Kalau kita lihat di Indonesia, ada golongan islam yang melempari restaurant yang berbuka bulan puasa…MUI mengharamkan Ahmadiha Jil dll

Apakah begini dlm menegakkan Syariat islam yang anti kekerasan itu, anti diskriminasi?

Akibat yang paling buruk sekarang ini adalah di mana gol.Syiah dan Sunni Radikal saling bunuh membunuh karena berbeda agama. Sedangkan mereka semuanya adalah bersaudara seiman(QS.49:10-11).

Jadi melihat kepada Hadist di atas tadi, golongan yang kuat menggunakan Hadist itu sebagai justify untuk menghantam gol.islam lain2nya.

Sesunguhnya ajaran islam yang dibawa oleh Rasul adalah ajaran islam yang berkasih sayang. Musuh sendiri pun haruslah dicintai dan kasihi asal mereka tidak memerangi Agama dan Rasul.seperti ayat dibawah ini.

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (yahudi,Nasrani,Ahmadiah dll) yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. (QS.60:8)

Kemudian Rasul menjelaskan ayat di atas;

Kamu belum lagi beriman kepada Ku, kalau kamu belum mencintai tetangga kamu(baik islam maupun non islam) HR Muslim

Jelaslah bagi kita bahwa ulama2 yang berkuasa tidak dibenarkan menzalimi, diskriminasi terhadap gol.islam yang berbeda pendapat dan berbeda aqidah, berbeda agama, walaupun anti Tuhan sekali pun. Ulama2 haruslah berlaku adil, tolerensi dan anti diskriminasi.

Demikian respond saya terhadap:cara menegakan amal makruf nahi mungkar.Semoga bermanfaat

wassalamu’alaikaum wr wb

Balas

iDAN :

Aku terpanggil untuk mendalami akan masalah Amar Makruf Nahi Mungkar ini setelah aku bertukar pendapat dengan seorang pelayar dunia maya yang menyarankan agar kita berdoa sahaja dalam masalah jiran kita yang telah belasan tahun masih terusan melakukan kemungkaran.

Bukan setakad jiran yang tidak bersolat Jumaat, malahan terkadang kita terjumpa akan keratan nombor ekor di tong sampah milik kita. Terkadang juga kita nampak tin minuman keras bersepahan di depan rumah kita.

Belum lagi masalah aurat keluarga & menantunya. Apakah dengan sekadar doa yang tentunya amat lemah akan iman kita; sedangkan segala kemungkaran ini terusan berlaku sejak berbelasan tahun.

Bersuara bermakna akan pastinya memutuskan talian kejiranan; bertindak dengan tangan belum tentu kita yang menang. Sikap samsengnya bukanlah menakutkan sangat tetapi buat kita tambah meluat & jadi benci dengan keangkohannya.

Takutnya nanti akan bala yang bakal menimpa kita. Bala dari kemungkaran yang kita lakukan bukan kena terhadap kita semata; bala sebenarnya akan berlaku terhadap semua anggota masyarakat yang sekadar mengamalkan doa semata. Ini kerap berlaku tanpa kita sedari; sesungguhnya selagi kita beriman sememangnya kita akan terasa rugi jika kelilling kita tidak pun ada cahaya atau nur dari keimaman kita.

Agama menyarankan kita manjaga hak kejiranan

DAN HAK-HAK JIRAN MENURUT PANDANGAN ISLAM Feb 2, '08 5:32 AM
for everyone

Muslim yang bertimbang rasa dan menyedari serta memahami hukum-hukum agama, adalah merupakan manusia yang paling baik hubungannya terhadap jiran-jirannya. Mereka akan sentiasa mencurahkan segala bakti demi kebaikan jiran mereka yang merupakan manusia yang paling mereka kasihi.

Islam banyak mewasiatkan umatnya agar kita sentiasa menjaga dan memelihara hubungan dengan jiran. Menyedari betapa tingginya kedudukan jiran di dalam Islam dan peranannya dalam kehidupan kemanusiaan, Allah SWT berfirman dalam al-Quran;

Maksudnya;

“ Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah terhadap kedua ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin yang terdekat dan tatangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat dan ibnu as-sabil. “

(Surah an-Nisa’ : ayat 36)

(Dekat dan jauh di dalam ayat di atas dikaitkan dengan tempat, hubungan kekeluargaan dan perbedaan agama antara yang muslim dengan yang bukan muslim)

Rasulullah SAW juga sering memperingatkan kita dalam banyak hadisnya supaya kita sentiasa menjaga hubungan baik dengan jiran dan sentiasa berbakti serta memuliakan mereka. Antara pesanan baginda ialah;

“ Sentiasalah Jibrail berwasiat kepadaku mengenai jiran, sehingga aku menyangka bahawa sesungguhnya dia (jiran) layak untuk diwarisi ( mendapatkan harta pusaka).”

(Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)

Bagaimana dengan jiran kita yang hanya namanya sahaja Islam. Tetapi melanggar semua hukum-hakam. Tidakkah kita akan terasa amat ruginya kita terusan berbakti kepada orang yang telah tertutup hatinya; dari sudut sembahyang Jumaat pun telah jelas. Tiap kali kita apergi sembahyang Jumaat sekeluarga mereka langsung tidak hiraukan sembahyang Jumaat; apakah kita terusan berbakti kepada mereka lantaran mengandaikan selagi mereka tidak memerangi agama kita. Sedangkan mereka bukan syirik hanya mereka yang menzalimi diri sendiri & mengetepikan tuntutan agama atau beramal; beriman. Sedangkan jiranlah cermin bagi anak-anak kita untuk membesar. Tanpa jiran di manalah letaknya masyarakat.

Apakah hukum solat Jumaat?

Solat Jumaat adalah suatu kewajipan yang ditetapkan agama. Ia bukan sahaja dilakukan oleh Rasulullah s.a.w bahkan ia juga telah disebut di dalam Al-Qur’an.

Jika seorang lelaki Islam tidak melakukannya, maka ia dianggap sebagai dosa besar.

Malah, hukum menunaikan solat Jumaat lebih ditekankan dibandingkan dengan solat lima waktu oleh Rasulullah s.a.w yang telah bersabda bahawa mereka yang tidak melakukan solat Jumaat selama 3 kali berturut-turut bukanlah seorang Islam.

Disini Rasulullah bermaksud untuk menerangkan betapa pentingnya solat Jumaat dan betapa besarnya dosanya jika tidak melakukannya. Lelaki Islam yang tidak dapat menunaikannya haruslah menggantikannya dengan solat Zuhur. Akan tetapi, ia hanya diterima jika ia kerana sebab-sebab berikut; jika terlalu sakit, jika terpaksa jaga orang yang sakit tenat, jika terdapat ribut taufan yang besar atau jika dalam keadaan bermusafir.

Berapakah jumlah jemaah yang harus ada untuk menunaikan solat Jumaat dan adakah ia hanya bolah dilakukan di dalam Masjid sahaja?

Menurut ke-empat-empat mazhab, jumlah jemaah bagi menunaikan solat Jumaat adalah seperti berikut:

Menurut mazhab Syafi’i dan Hambali, jumlah jemaah terendah adalah 40, tidak termasuk imam. Mazhab Maliki pula adalah 12, tidak termasuk imam, Bagi mazhab Hanafi pula, jumlahnya adalah 3, tidak termasuk imam.

Solat Jumaat boleh dilakukan dimana-mana, selagi mana jumlah tersebut
Apakah keuzuran daripada mendirikan solat jumaat?

Solat Jumaat adalah wajib bagi kaum lelaki. Bagi mereka yang meninggalkan solat Jumaat tiga kali berturut-turut dengan sengaja, hati mereka akan ditutup oleh Allah s.w.t. Keuzuran bagi meninggalkan solat Jumaat adalah sama seperti keuzuran yang diberikan bagi meninggalkan mana-mana ibadat wajib yang tidak mampu dilakukan.

Antaranya adalah pitam, gila, sakit terlantar sehingga tidak mampu bangun dan tiada yang dapat membawanya ke masjid, tugas yang terpaksa dilaksanakan yang mana ia menjaga keselamatan negara, tertahan (samada di penjara atau di tengah jalan) dan keadaan cuaca yang menghalang sama sekali pergi ke masjid.

Apa yang harus dilakukan lelaki yang tidak dapat menunaikan solat Jumaat atas sebab-sebab tertentu?
Umat Islam perlu berusaha sedaya upaya agar dibenarkan melakukan solat, termasuk solat Jumaat. Jika tugas menghalang, dan tugas tersebut penting dan genting bagi maslahat masyarakat, seperti polis, bomba dan sebagainya, atau maslahat keluarga yang ditanggungnya, maka ia tidak berdosa. Dan perlu melakukan solat Zuhur, tetapi selepas orang selesai melakukan solat Jumaat, sebagai penghormatan kepada solat Jumaat tersebut.

Bolehkah seorang muslimah menunaikan solat Zuhur pada hari Jumaat sejurus selepas azan berkumandang atau haruskah dia tunggu selepas selesainya Solat Jumaat dan khutbahnya?

Mereka yang tidak menunaikan solat Jumaat seperti wanita dan mereka yang uzur tidak perlu menunggu sehingga selesainya solat Jumaat untuk melakukan solat Zuhur. Solat Zuhur boleh dilakukan sejurus selepas azan berkumandang.

Fasik sengaja tinggal solat Jumaat
Posted by: nurjeehan in Soal Jawab Agama

Utusan Malaysia
23 Mar 2007

Soalan

Apa yg difahamkan, bahawa kita tidak boleh meninggalkan sembahyang Jumaat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa keuzuran, tetapi apakah hukumnya seseorang yang meninggalkan sembahyang Jumaat sekali sekala tanpa keuzuran?

Jawapan:

Solat Jumaat adalah fardu ain, wajib ditunaikan oleh setiap yang mukalaf, melainkan orang yang uzur syarie seperti sakit, musafir, hujan lebat sehingga terputus jalan dan sebagainya.

Namun meninggalkan solat Jumaat tanpa sebarang keuzuran adalah berdosa besar, kerana meninggalkan kefarduan yang telah ditetapkan oleh Allah s.w.t. di dalam al-Quran, seperti firman-Nya yang bermaksud: Wahai orang-orang yang beriman! Apabila diserukan azan untuk mengerjakan solat pada hari Jumaat, maka segeralah kamu pergi (ke masjid) untuk mengingati Allah (dengan mengerjakan solat Jumaat) dan tinggalkanlah berjual-beli. (al-Jumuah: 9).

Daripada malik bin Safwan berkata telah bersabda Rasulullah s.a.w.: “Barangsiapa yang meninggalkan solat Jumuah tiga tanpa sebarang keuzuran dan tanpa sebarang alasan yang kukuh maka Allah memateri (menutup) pintu hatinya. (Imam Malik,jld:1,hlm:334, no.hadis:227).

Dalam riwayat yang lain Rasulullah s.a.w. ada bersabda yang bermaksud: “Barang siapa meninggalkan solat Jumaat tiga kali berturut-turut tiga dengan sengaja kerana malas menunaikannya lalu Allah akan menutup pintu hatinya.(al-Tirmizi, jld:3, hlm:327, no.hadis:460, Ibn Majah, jld:3, hlm:440, no.hadis: 1115).

Berdasarkan kepada nas-nas di atas jelas bahawa Allah memfardukan solat Jumaat ke atas setiap mukalaf supaya menunaikannya. Meninggalkan solat Jumaat dengan sengaja tanpa sebarang sebab adalah berdosa besar.

Sekiranya seseorang itu meninggalkannya dengan sengaja kerana malas maka dihukum sebagai fasik. Sekiranya dia mengingkari kefarduan Jumaat yang sudah dimaklumi umum maka dia dihukum terkeluar daripada Islam.

Hukum Meninggalkan Solat

Solat salah satu daripada rukun Islam yang lima, yang diwajibkan ke atas setiap muslim dan muslimat yang mukallaf (baligh dan berakal). Kefarduan ini telah disepakati ulama’ (ijma’) dan dikira sebagai (ما يُعْلـَمْ مِنَ الدِّينِ بالضَرُورَة) perkara asas agama yang diketahui oleh setiap muslim. Sesiapa yang mengingkari kewajibannya menjadi kafir dan murtad, kekal dalam neraka; kerana kefarduannya disandarkan kepada nas yang jelas dan qathi’e (tidak dapat ditokok tambah) daripada Al-Quran, As-Sunnah dan Ijma’.

Sesiapa yang meninggalkan solat kerana malas, bermudah-mudah atau sengaja tanpa menafikan kewajibannya tergolong dikalangan orang yang fasiq dan berdosa besar yang wajib ke atasnya beberapa perkara:-

1. Bertaubat, beristighfar serta menyesal di atas perbuatannya.
2. Mengqada’kan solat yang ditinggalkannya.
3. Dijatuhkan ke atasnya hukuman had.

Hukuman Had ke atas orang yang meninggalkan solat

Ulama’ mazhab berbeza pendapat pada bentuk hukuman yang dikenakan ke atas orang yang meninggalkan solat, setelah mereka bersepakat pada keharamannya dan besarnya dosa peninggalnya berdasarkan ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis yang sahih.

* Mazhab Hanafi: Peninggal solat dihukum fasik dan wajib dipenjarakan dan dirotan dengan kuat sampai keluar darah, sehinggalah dia kembali solat dan bertaubat atau mati di dalam penjara. Dia tidak dibunuh kecuali mengingkari kewajipan solat atau mempersendakannya.

* Jumhur ulama’ daripada mazhab Maliki dan Syafie: Orang yang meninggalkan solat dengan sengaja dihukum bunuh walau pun meninggalkan satu fardhu sahaja. Disuruh agar bertaubat selama tiga hari, jika enggan dijatuhkan hukuman had dengan dipenggal kepalanya. Selepas dibunuh, dimandikan dan disembahyangkan ke atasnya serta ditanam di tanah perkuburan orang Islam kerana dia tidak dikira kafir. Ini juga adalah pendapat yang rajih pada mazhab Hanbali sebagaimana dikatakan oleh Ibn Qudamah dalam Al-Mughni .

Hukum Mengqada’kan Solat

Sesiapa yang meninggalkan solat kerana terlupa atau sengaja (dan berdosa jika sengaja), wajib mengqada’kannya. Dalilnya, sabda Nabi S.A.W.:

( إذا رقد أحدكم عن الصلاة، أو غفل عنها، فليصلها إذا ذكرها ))(
Maksudnya: Jika tidur salah seorang daripada kamu daripada solat, atau melupainya, hendaklah dia menunaikannya apabila sedar atau teringat.

(( من نسي صلاة فليصلها إذا ذكرها، لا كفارة لها إلا ذلك ))
Maksudnya: Sesiapa yang terlupa satu sembahyang, hendaklah menunaikannya apabila dia teringatnya; tiada kaffarah baginya kecuali yang tersebut (iaitu tidak perlu membayar kaffarah yang lain, memadai dengan menggantikan solat tersebut).

Banyak lagi hadis-hadis lain yang membawa maksud yang sama iaitu wajib mengqada’kan solat yang ditinggalkan. Pada zahir hadis tidak menyebut tentang hukum orang yang sengaja meninggalkan solat, adakah wajib mengqada’kannya atau tidak. Maka disinilah ulama’ memainkan peranan mereka untuk mengeluarkan hukum daripada nas tersebut. Mengikut kaedah Qias, orang yang meninggalkan solat kerana uzur seperti terlupa atau tertidur, wajib mengqada’kannya berdalilkan nas tersebut; maka kewajipan ini terlebih dahulu kena kepada orang yang meninggalkan solat secara sengaja. Jika tidak, jadilah maksiat itu (meninggal solat dengan sengaja) membawa kepada kesenangan (tidak qada’). Ini bertentangan dengan ruh syariat yang adil.

Janganlah kita terpengaruh dengan dakwaan sesetengah pihak yang mengatakan tidak wajib mengqada’kan solat yang telah ditinggalkan kerana cukup dengan Istighfar dan taubat sahaja. Ini kerana jumhur ulama’ daripada mazhab yang empat Hanafi, Maliki, Syafie dan Hanbali mewajibkan qada’ solat secara umumnya . Dikecualikan daripada Qada’ beberapa golongan:

1. kanak-kanak yang belum baligh, tidak wajib menggantikan solatnya yang terdahulu selepas baligh.
2. orang kafir yang memeluk Islam (muallaf) tidak wajib menggantikan solatnya semasa kufurnya.
3. perempuan yang haid
4. perempuan yang nifas (keluar darah akibat beranak)
5. orang gila, mabuk dan pengsan yang bukan dengan sebab yang disengajakan seperti minum arak dll.
Selain daripada mereka, samada tidur, sakit, murtad yang kembali memeluk Islam, [pengsan, gila dan mabuk yang disengajakan] wajib ke atas mereka qada’.

*Tidur tidak boleh disamakan (qias) dengan pengsan iaitu tidak perlu menggantikan solat kerana perbuatan tidur dilakukan dengan sengaja dan kehendak diri, ia berlainan dengan pengsan yang tidak disengajakan. Dalilnya seseorang itu mampu menidurkan dirinya tapi tidak mampu menjadikan dirinya pengsan dengan sendiri dan apabila seseorang itu pengsan, kadang-kadang tidak akan sedar walaupun dikejut dengan kuat. Apabila seseorang memakan ubat untuk pengsan contohnya, maka apabila sedar dia diwajibkan juga mengqada’kan solat yang tertinggal kerana dia sengaja membuat dirinya pengsan.

Jika seseorang daripada lima golongan di atas hilang uzur mereka dan masih tinggal waktu yang mencukupi walau Takbiratul Ihram, wajib baginya menggantikan solat tersebut begitu juga solat yang sebelumnya jika boleh dijama’kan. Hukum ini menyeluruh kepada yang bermusafir dan bermukim.

Contoh: Jika seorang perempuan suci dari haidnya pada akhir waktu Asar, wajib baginya mengqada’kan solat Asar dan Zohor yang sebelumnya. Begitulah juga perihalnya jika suci pada waktu Isyak, wajib mengqada’kan Maghrib dan Isyak.

Jika seseorang perempuan masuk waktu solat dalam keadaan suci, kemudian datang haidnya sebelum sempat dia solat pada waktu itu, dan waktu yang suci itu mencukupi untuk solat; wajib ke atasnya mengqada’kan solat tersebut apabila suci kelak kerana kelalaiannya dan tidak bersegera menunaikan solat selepas masuk waktunya.

*Disunatkan mengqada’ solat secara tertib solat yang ditinggalkan seperti Subuh sebelum Zohor dan begitulah seterusnya. Dan hendaklah seseorang itu mendahulukan solat yang tertinggal daripada solat waktu tersebut kecuali kerana takut luput waktu solat tersebut.

Bagi orang yang tidak tahu berapa kalikah tertinggal solat hendaklah dia melaksanakan qada’ solat tersebut sehingga dia yakin bahawa dia telah menghabiskan solat yang ditinggalkannya .

Hukum menangguhkan solat

Apabila masuknya waktu solat, wajib seseorang itu melakukan salah satu daripada dua perkara:-

1. terus mendirikan solat, itulah yang paling afdhal atau
2. azam untuk menunaikan solat dalam waktunya.
Jika tidak melakukan salah satu daripada perkara yang disebut di atas, sesungguhnya berdosalah dia. Ini dinamakan azam yang khas. Dan wajib bagi seseorang itu selepas baligh menyimpan azam yang umum untuk melakukan segala suruhan Allah dan meniggalkan segala laranganNya .

Haram hukumnya menangguhkan solat sehingga tidak sempat menunaikan solat dengan segala syarat dan rukunnya di dalam waktunya. Sesuatu solat itu dikira sebagai tunai (أداء) jika sempat mendapat satu rakaat daripadanya (selesai daripada sujud yang kedua). Apabila tidak mendapat walaupun satu rakaat, solat itu dinamakan Qada’. Tetapi dosa bukannya berkaitan dengan tunai atau qada’, seseorang itu telah dikira berdosa walaupun sempat mendapat satu rakaat di dalam waktu.

Tidur daripada Solat

Tidur yang dimaafkan sehingga keluar solat daripada waktunya:-
1. tidur yang bukan disengajakan (tertidur)
2. seseorang yang lupa bukan daripada perkara yang dilarang (contoh perkara yang dibenarkan: terlupa kerana sebab belajar atau kerja; contoh perkara yang dilarang: setiap perkara yang dilarang walaupun makruh seperti bermain catur dan lain-lain).

Tidak makruh tidur sebelum masuknya waktu solat. Ada yang bependapat makruh tidur sebelum waktu Isyak dan haram sebelum Jumaat.

Dibolehkan tetapi makruh tidur selepas masuk waktu solat dan sebelum menunaikannya dengan dua syarat:-
1. Jika seseorang yakin dapat bangun dengan sendiri atau bantuan yang lain
(loceng atau kawan).
2. Dan berbaki daripada waktu kadar yang mencukupi untuk bersuci dan solat.
Jika tidak menepati syarat tersebut, baginya dua dosa:-
1. Dosa meninggalkan solat pada waktunya.
2. Dosa tidur.

Jika seseorang itu yakin dapat bangun dalam waktu solat, tetapi apabila terjaga nyatalah telah luput waktu solat itu, dia tidak dikira berdosa kerana meninggalkan solat. Dia hanya berdosa kerana sebab tidurnya itu, dan dosanya tidak terhapus kecuali dengan istighfar dan taubat.

Jelas di sini, jika seseorang lelaki Islam itu sengaja meninggalkan sembahyang Jumaat yang wajib bagi lelaki sebanyak tiga kali. Hukumnya akan berkait dengan mereka yang sengaja meninggalkan solat lima waktu. Bagi * Jumhur ulama’ daripada mazhab Maliki dan Syafie: Orang yang meninggalkan solat dengan sengaja dihukum bunuh walau pun meninggalkan satu fardhu sahaja. Disuruh agar bertaubat selama tiga hari, jika enggan dijatuhkan hukuman had dengan dipenggal kepalanya.

Sembahyang lima waktu pastinya sukar kita kesan, kerana mungkin jiran kita sembahyang sendirian; tetapi sembahyang Jumaat nampak & nyata dia tidak pergi ke masjid. Maka itu aku berbalah dengan si pelayar dunia maya tadi; apakah masih afdal kita mendoakan jiran yang ibaratkan telah jadi jenazah atau bangkai bernyawa. Tidak nanti jadi doa Nabi Noh a.s yang kehilangan anak & isterinya di banjir yang diturunkan oleh Ilahi.

Tiada ulasan: