iDAN
07 Februari 2015
Bolehkah atau Sujud Di Atas Sajadah?
Assalamualaikum
Apakah sah menaruh dahi di atas sajadah ketika kita sujud dalam solat kita ...??
Kesaksian Sahabat tentang bagaimana sujudnya Rasulullah SAW:
1. Al-Wâil bin Hajar berkata: "Aku melihat Rasulullâh Saw, apabila beliau bersujud, beliau meletakkan dahi dan hidungnya di atas tanah".
2. Ibnu 'Abbâs berkata: "Sesungguhnya Nabi Saw pernah melakukan sujud di atas batu".
3. 'Âisya berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullâh Saw menyandarkan wajahnya (dahinya) ketika shalât dengan sesuatu apa pun, selain di atas batu atau tanah, ketika beliau melakukan sujud".
Dengan riwayat ketiga ini, jelaslah bagi kita dengan kesaksian istri beliau sendiri bahwa sesungguhnya beliau melakukan sujud di atas tanah dan menyandarkan dahi beliau yang mulia di atas tanah.
4. Abû Sa'îd al-Khudrî berkata: "Aku melihat Rasulullâh Saw pada dahinya terdapat bekas-bekas tanah dan air".
5. Abu Hurairah berkata: "Aku melihat Rasullah Saw melakukan sujud pada hari turun hujan dan pada dahi beliau terdapat bekas-bekas tanah".
Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan nama Imâm Syâfi'î di dalam kitabnya yang terkenal yaitu al-Umm, beliau mengatakan bahwa: "Apabila seseorang sujud dan dahinya sama sekali tidak menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap tidak sah. Tetapi jika seseorang sujud dan bagian dahinya menyentuh tanah, maka sujudnya dianggap cukup dan sah, Insya Allâh".
Awal mula bid’ah Sajadah masuk Masjid :
1. Al-Ghazâlî dalam kitabnya Ihyâ 'Ulumûddîn berkata: "Sesungguhnya ketika itu perbuatan menghampari masjid Nabawi dengan bawari atau tikar dianggap sebagai perbuatan bid'ah dan ada yang mengatakan bahwa hal itu dilakukan oleh Hajjâj bin Yusuf. Sebelum itu orang-orang tidak menempatkan sesuatu penghalang antara dahi-dahi mereka dengan tanah ketika mereka sujud".
2. Qatâdah berkata bahwa ia melakukan sujud kemudian kedua matanya tertusuk oleh bagian tikar itu hingga ia menjadi buta, ia berkata: "Semoga Allâh melaknat Hajjâj. Ia telah membuat bid'ah dengan menghampari masjid ini dengan Bawari (sejenis tikar)".
3. 'Umar bin 'Abdul 'Azîz pernah menulis surat kepada 'Udaî bin Artâh. Ia berkata: "Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah mengerjakan sunnahnya Hajjâj. Aku nasihatkan janganlah engkau mengerjakan sunnah tersebut karena sesungguhnya ia salât tidak pada waktunya. Ia pun mengambil zakât bukan dari orang yang berhaq diambil zakâtnya dan ketika ia melakukan hal itu, ia telah membuat kerosakan".
Kapan Sajadah dikenal (secara umum)
Masjid-masjid hingga pada zaman khalîfah yang empat tetap tidak dihampari dengan permadani, bukan pula karena mereka tidak punya ide dan keinginan untuk itu.
Akan tetapi karena hal itu dilarang oleh syari'at Islâm dan tidak boleh sujud ketika salat kecuali di atas tanah secara langsung. Dan demi menjaga syariat Islâm serta menganggap bahwa sujud di atas karpet atau permadani itu adalah termasuk bid'ah.
Oleh karena itu, ketika terik panas para sahabat Nabi Saw - sebagaimana dalam riwayat-riwayat – menggengam batu-batu kecil agar menjadi dingin dan mereka jadikan sebagai alas sujud. As-Sakhâwi berkata: "Sesungguhnya masjid-masjid sampai pada tahun 131 Hijriah atau 132 Hijriah masih tetap menggunakan tanah atau batu-batu kecil".
Sehubungan dengan masalah sajadah dapat kita ketahui secara jelas dengan merujuk pada ensiklopedia Islâm (di dalam kitab itu disebutkan bahwa: "Istilah sajadah tidak ditemukan di dalam kitab suci Al-Qur'ân dan hadits-hadits yang sahih. Kata sajadah ini dapat dijumpai satu abad setelah penulisan hadits-hadits tersebut".
Ibnu Batutah mengatakan di dalam kitabnya Rihlah Ibnu Batutah berkata: "Orang-orang pinggiran kota Kairo Mesir telah terbiasa keluar rumah mereka untuk pergi melakukan shalât Jum'at. Para pembantu mereka biasanya membawakan sajadah dan menghamparinya untuk keperluan salât mereka. Sajadah mereka itu terbuat dari pelepah-pelepah daun korma".
Dia menambahkan: "Penduduk kota Mekkah pada masa ini (pada masanya Ibnu Batutah) melakukan solat di Masjid Jâmi' dengan menggunakan sajadah. Kaum muslimin yang pulang haji banyak membawa sajadah buatan Eropa yang bergambar (ada yang bergambar salib) dan mereka tidak memperhatikan gambar tersebut. Sajadah masuk ke Mesir dengan jalan impor dari Asia untuk dipakai salat oleh orang-orang kaya, di dalam sajadah itu terdapat gambar mihrab yang mengarah ke kiblat.
Syaikh Murtadâ Az-Zubaîdî di dalam kitabnya Ittihaful Muttaqin berkata: "Musallî hendaknya tidak melakukan solat di atas sajadah atau permadani yang bergambar dan dihiasi dengan beragam gambar yang menarik. Karena hal itu membuat si musâlli tidak khusyu' di dalam solatnya, karena perhatiannya akan tertuju pada warna-warni sajadah itu. Kita telah tertimpa bencana dengan permadani-permadani Romawi itu yang kini digelar di masjid-masjid dan rumah-rumah yang dipakai untuk shalât, sehingga kebiasaan bid'ah itu telah membuat orang yang melakukan salat di tempat lainnya dianggap tidak sah dan kurang sopan". Lâ Hawla wa lâ Quwwata îllâ Billâh.
Kuat dugaan bahwa semua ini adalah akibat ulah dan perbuatan orang-orang Barat – semoga Allah mengutuk mereka – yang telah memasukkan sesuatu ke dalam kalangan kaum muslimin sedang mereka lalai dan lengah dari tipu daya musuh-musuh tersebut. Lebih aneh lagi, aku (syaikh Murtada.. pen) pernah melihat di sebuah masjid yang berhamparkan permadani, namun permadani itu memiliki gambar salib. Hal inilah yang membuatku semakin terkejut. Aku yakin bahwa semua ini adalah perbuatan dan tipu-daya orang-orang Nasrani".
Jadi jelaslah bahwa meletakkan dahi di atas tanah ketika solat merupakan kewajiban yang tidak bisa ditawar-tawar ketika tidak ada halangan. Dan sujud di dalam syari'at Islâm tidaklah sah dan tidak dapat dinamakan sujud apabila dahinya itu tidak menyentuh tanah secara langsung.
LALU BAGAIMANA DENGAN SUJUD-SUJUD YANG SELAMA INI SAYA LAKUKAN SEBAB KITA SELALU MEMAKAI SAJADAH.?
Wassalam,
Muhammad Furqan, Kemayoran, Jakarta
JAWABAN
Wa'alaikum salam wr.wb.
Terima kasih ustadz Furqan atas pertanyaannya. Jazakumullah khairal jazaa. Selintas apabila kita memperhatikan hadits-hadits dan argument di atas nampak seolah membenarkan anggapan itu bahwa sujud harus di atas tanah, tidak boleh dihalangi oleh penghalang lainnya, termasuk sajadah atau tikar.
Namun, tentu untuk menetapkan sebuah hukum kita tidak boleh hanya melihat satu pihak atau beberapa hadits saja. Kita harus berupaya membaca semua hadits yang berkaitan dengan itu, termasuk bantuan pendapat para ulama akan hal itu, kemudian mengkajinya dengan bantuan ilmu Ushul Fiqih atau Qawaid Fiqhiyyah. Baru, dari sana kita dapat mengeluarkan sebuah hokum, yang hemat saya, lebih objektif dan lebih mewakili.
Hemat saya, sujud atau solat dengan menggunakan sajadah, tikar atau sejenisnya merupakan sesuatu yang diperbolehkan. Dan solatnya tentu sah. Bahkan, pendapat ini sudah merupakan kesepakatan seluruh para ulama (Ijma'), sebagaimana dituturkan oleh Imam Nawawi dalam Syarah nya terhadap Shahih Muslim (5/163), sebagaimana akan saya kutipkan di bawah nanti. Dan saya hanya dapat mengurut dada, ketika dikatakan di atas bahwa sujud yang dahinya tidak menempel ke tanah, maka solatnya tidak sah, semoga Allah memberikan petunjuk kepada kita semua, amin.
Hemat saya, solat di atas sajadah atau di atas tanah, keduanya sah-sah saja. Termasuk juga sujud yang langsung menempelkan dahinya ke tanah, dengan sujud yang menempelkannya pada sajadah, tikar, permadani, karpet, juga sah-sah saja. Inti sesungguhnya, hemat saya, bukan masalah tanah atau sajadahnya, akan tetapi suci tidaknya tempat solat atau tempat sujud dimaksud. Jika tanah atau sajadah tersebut suci, tentu solatnya pun sah, dan jika ada najisnya, maka solatnya menjadi tidak sah.
Dalil akan bolehnya sujud di atas karpet atau sajadah, sangatlah banyak. Saya akan mengetengahkan di antaranya saja:
Dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari Muslim disebutkan di bawah ini:
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ قَالَ: سَمِعْتُ خَالَتِي مَيْمُونَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا كَانَتْ تَكُونُ حَائِضًا لَا تُصَلِّي، وَهِيَ مُفْتَرِشَةٌ بِحِذَاءِ مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى خُمْرَتِهِ، إِذَا سَجَدَ أَصَابَنِي بَعْضُ ثَوْبِهِ. [رواه البخاري (326) ومسلم (513
Artinya: "Abdullah bin Syaddad berkata: "Saya mendengar bibiku, Maimunah, isteri Rasulullah saw, bahwasannya suatu saat ia dalam keadaan haid, sehingga ia tidak solat. Ia kemudian duduk di halaman masjid Rasulullah saw, sementara Rasulullah saw sedang melakukan solat di atas sajadahnya. Jika beliau sujud, sebagian baju beliau mengenai kepada saya" (HR. Bukhari, hadits nomor 326 dan Muslim, hadits nomor 513)
Ibnu Hajar al-Asqalany dalam kitabnya, Fathul Bari (1/430) mengatakan: "Kata al-Khumrah—dengan membaca dhammah huruf kha' nya, dan membaca sukun huruf mim nya--, menurut Athabary adalah tikar kecil (sejadah) yang dibuat dari pelapah kurma. Dinamakan demikian, karena alat tersebut dapat menutup muka dan kedua telapak tangan dari panas atau dinginnya tanah. Jika alat tersebut besar, maka disebut dengan hasher (tikar besar).
Pendapat tersebut juga sesuai dengan pendapatnya al-Azhary dalam Tahdzîb nya, dan sahabatnya yang bernama Abu Ubaid al-Harawy serta para ulama setelahnya.
Dalam kitab an-Nihâyah ditambahkan: 'Dinamakan khamrah (tikar kecil), apabila ukurannya seperti itu'. Ia juga berkata: 'Dinamakan khamrah, karena jahitannya (atau anyamannya) tertutup dengan pelapahnya'. Al-Khattabi juga berkata: 'Khamrah dalam istilah sekarang adalah sajadah yang biasa dipakai sebagai tempat sujud bagi orang yang solat'.
Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para ulama sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar di atas, Imam Nawawi juga menguatkannya. Bahkan, dalam Syarah nya terhadap Shahih Muslim (5/163), Imam Nawawi membuat satu bab berjudul: 'Bab bolehnya solat berjamaah di atas kendaraan, serta bolehnya solat di atas tikar, sajadah dan baju'.
Masih di tempat yang sama, Imam Nawawi—yang merupakan pioneer dalam Madzhab Syafi'i—ketika menjelaskan salah satu hadits, ia berkata: "Hadits tersebut juga menjadi dalil bolehnya solat di atas tikar atau semua bahan yang tumbuh di atas tanah. Dan hal ini sudah merupakan kesepakatan (ijma') seluruh ulama.
Adapun riwayat dari Umar bin Abdul Aziz (yang mengatakan bahwa ia membawa tanah lalu disimpan di atas sajadahnya, lalu ia sujud di atasnya=pent) yang seolah bersebrangan dengan hadits ini, perlu dipahami sebagai anjuran untuk bersikap tawadhu, di antaranya dengan jalan sujud langsung mengenai tanah.
Hadits ini juga mengandung pengertian lainnya bahwa pada hokum asalnya, baju, amparan, tikar, atau yang sejenisnya adalah suci, sampai ada bukti akurat bahwa ia terkena najis'.
Hadits lainnya yang menjadi dalil bolehnya solat atau sujud di atas sajadah, tikar dan sejenisnya adalah:
عنْ جَابِرٍ قال : حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ.قَالَ : وَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ مُتَوَشِّحًا بِهِ. [رواه مسلم (519).
Artinya: "Jabir berkata: "Abu Said al-Khudry pernah masuk ke rumah Rasulullah saw. Abu Sa'id berkata: "Aku melihat Rasulullah saw sedang solat di atas tikar, tempat beliau bersujud di atasnya. Abu Said berkata kembali: "Saya melihat Rasulullah saw solat dalam satu baju yang menyelimutinya" (HR. Muslim).
Berkaitan dengan hadits di atas, Imam Nawawi dalam Syarah nya terhadap Shahhih Muslim (4/233, 234) menuturkan: "Matan hadits yang berbunyi: 'Aku melihat Rasulullah saw sedang solat di atas tikar, tempat beliau bersujud di atasnya', menjadi dalil bolehnya solat di atas sesuatu yang dapat menghalangi antara orang yang solat tersebut dengan tanah. Baik sesuatu tersebut berupa baju, tikar, wol, rambut atau selain dari itu, dan baik alas tersebut terbuat dari sesuatu yang tumbuh di atas tanah ataupun tidak.
Adapun jika alas solat tersebut terbuat dari sesuatu yang tumbuh di atas tanah, maka tidak makruh solat di atasnya. Adapun solat di atas alas yang terbuat bukan dari sesuatu yang tumbuh di atas tanah seperti permadani atau bulu, maka seluruh ulama sepakat (Ijma'), solat di atasnya tetap sah.
Hanya saja, jika ia solat langsung di atas tanah, tentu lebih utama, kecuali karena suatu keperluan mendesak, seperti karena tanah tersebut panas atau dingin atau sejenisnya. Hal ini karena rahasia penting dari solat adalah rasa tawadhu dan kepasrahan, dan Allah tentu lebih mengetahui".
Demikian juga dengan hadits di bawah ini:
عن أنس بن مالك قال: كنَّا نُصلِّي مع النَّبي صلى الله عليه وسلم فَيَضعُ أحدُنا طرفَ الثوبِ من شدَّة الحرِّ في مكان السجود. [رواه البخاري ومسلم
Artinya: "Anas bin Malik berkata: "Kami solat bersama Rasulullah saw, dan setiap kami meletakkan ujung baju di tempat sujud, karena sangat panas" (HR. Bukhari (hadits nomor 378) dan Muslim (hadits nomor 620).
Imam Bukhari menyimpan hadits di atas dalam bab yang diberinya judul: "Bab: Sujud di atas baju karena sangat panas".
Imam Hasan berkata: "Para sahabat sujud di atas sorban dan penutup kepala, sedangkan kedua tangannya berada di tangan bajunya".
Demikian di antara hadits shahih yang menjadi dalil sah dan bolehnya solat atau sujud di atas sajadah atau sejenisnya.
Kemudian, perlu juga saya sampaikan, bahwa dalil-dalil yang diutarakan dalam pertanyaan di atas, bukan sebagai batasan bahwa sujud itu harus nempel langsung ke tanah, dan jika tidak, maka solatnya tidak sah. Ini hemat saya, tidak tepat.
Dalam penetapan sebuah hukum, kita tidak boleh terjebak hanya dengan melihat satu atau beberapa hadits lain. Tapi kita perlu melihat banyak hadits lainnya, sehingga keputusan hokum yang dihasilkan tidak terkesan literal.
Dalil-dalil yang disampaikan dalam pertanyaan misalnya, memang ada hadits yang mengatakan hal itu. Namun, dalam hadits lainnya, masih dari rawi di atas, justru sebaliknya, melihat Rasulullah saw solat di atas sajadah. Berikut saya kutipkan hadits-hadits dimaksud.
Di atas disampaikan bahwa Sayyidah Aisyah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak menyandarkan dahinya selain dengan batu atau tanah. Namun, dalam hadits lain, masih dari Sayyidah Aisyah, Rasulullah saw solat dan sujud di atas tikar atau amparan, dan beliau ketika sujud tidak langsung mengena tanah, akan tetapi mengena tikar atau penghalang dimaksud. Ini artinya bahwa, hadits yang disampaikan dalam pertanyaan, bukan sebagai batasan, hanya saja menjelaskan bahwa Rasulullah saw terkadang sujud langsung mengena tanah, dan terkadang memakai tikar atau amparan.
Hadits dimaksud adalah sebagai berikut:
عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهِيَ مُعْتَرِضَةٌ فِيمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى فِرَاشِ أَهْلِهِ اعْتِرَاضَ الْجِنَازَةِ } وَفِي لَفْظٍ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ عُرْوَةَ " { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَعَائِشَةُ مُعْتَرِضَةٌ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْقِبْلَةِ عَلَى الْفِرَاشِ الَّذِي يَنَامَانِ عَلَيْهِ } [أخرجه البخاري
Artinya: "Dari Aisyah, adalah Rasulullah saw beliau pernah solat di atas kasur (tikar, ampar) keluarganya, sedangkan Aisyah terlentang seperti mayat, di antara Rasulullah saw dan arah kiblat". Dalam riwayat dari 'Irak dari Urwah, bahwasannya Rasulullah saw solat di atas kasur yang biasa dipakai tidur oleh Rasulullah dan Aisyah, sementara Aisyah terlentang di antara beliau dengan kiblat" (HR. Bukhari).
Demikian juga dengan hadits dari Abu Sa'id al-Khudri yang disampaikan dalam pertanyaan. Ternyata banyak hadits dari Abu Sa'id al-Khudry sendiri yang menjelaskan akan bolehnya solat dan sujud di atas sajadah atau sejenisnya. Hadits dimaksud adalah:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الخدري : أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَرَأَيْته يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ [رواه مسلم
Artinya:"Dari Abu Said al-Khudry, bahwasannya ia masuk ke Rasulullah saw. Abu Said berkata kembali: "Saya melihat Rasulullah saw solat di atas tikar dan beliau sujud di atasnya' (HR. Muslim).
Demikian juga dengan riwayat Ibnu Abbas. Dalam riwayat lain disebutkan:
وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى بِسَاطٍ [رَوَاهُ أَحْمَد وَابْنُ ماجه
Artinya: "Dari Ibnu Abbas, bahwasannya Rasulullah saw solat di atas tikar" (HR. Ahmad dan Ibn Majah).
Dari sini semua nampak, sekali lagi, bahwa hadits-hadits yang diutarakan dalam pertanyaan, bukan sebagai batasan, bahwa sujud harus terkena dengan tanah langsung, akan tetapi sebagai pilihan, dan penjelasan, bahwa boleh juga kita sujud langsung di atas tanah (bahkan, sebagian ulama, termasuk Ibnu Tamiyyah berpendapat solat atau sujud langsung di atas tanah lebih baik dari pada di atas sajadah dan sejenisnya). Hadits di atas juga sekaligus menjadi dalil bolehnya solat atau sujud di atas sajadah atau sejenisnya.
Ibnu Qudamah dalam al-Mughni (3/234) mengatakan: "Tidak mengapa solat di atas tikar, permadani yang terbuat dari wol, rambut, bulu, atau baju yang terbuat dari kapas, kain atau semua benda suci lainnya. Hal ini karena Umar pernah solat di atas hamparan, Ibnu Abbas solat di atas permadani, Zaid bin Tsabit, dan Jabir solat di atas tikar, Ali, Ibnu Abbas, Ibnu Mas'ud dan Anas solat di atas tikar yang ditenun. Pendapat ini adalah pendapatnya seluruh ulama. Hanya saja, ada satu riwayat yang dinisbahkan kepada Jabir bahwasannya ia membenci (memakruhkan) solat di atas tikar yang terbuat dari hewan, dan dianjurkan solat di atas tikar yang terbuat dari tanaman".
Sedangkan ucapan Imam Syafi'i yang disampaikan oleh penanya di atas, bukan sebagai pendapat tidak bolehnya solat di atas karpet atau sajadah. Ucapan Imam Syafi'i di atas adalah pendapat bahwa ketika sujud, jangan sampai ada penghalang antara dahi dengan tempat sujudnya, baik tempat sujudnya itu tanah atau karpet. Karena itu, dalam madzhab Syafi'i, orang yang ketika sujudnya ada penghalang antara dahi dan tempat sujudnya, maka solatnya dinilai tidak sah. Sedangkan menurut jumhur ulama hanya makruh saja.
Karena itulah Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Fatawa (22/174) nya mengatakan: 'Tidak ada perbedaan di kalangan para ulama tentang bolehnya solat dan sujud di atas tikar (karpet atau permadani) jika alas tersebut berasal dari tanah (tanamann yang tumbuh di atas tanah), seperti tikar dan sejenisnya.
Para ulama berbeda pendapat tentang makruh tidaknya solat di atas tikar yang terbuat bukan dari yang tumbuh di atas tanah, seperti dari kulit hewan, bulu wol dan sejenisnya. Sebagian besar ulama memberikan keringanan juga (membolehkan juga) untuk semua itu. Dan ini merupakan madzhabnya para ahli hadits, seperti Imam Syafi'i, Imam Ahamd, dan juga madzhabnya ulama Kufah, seperti Abu Hanifah dan lainnya.
Mereka, di antaranya, berdalil dengan hadits dari Aisyah tentang solatnya Rasulullah di atas firâsy (kasur atau tikar). Dan kata firâsy (tikar) tersebut terbuat bukan dari yang berasal dari tanah, akan tetapi dari kulit dan dari wol".
Demikian, semoga jelas, wallahu a'lam bis shawab.
Wassalam
30 Januari 2015
Jika Unifi kasi Wireless Internet Modem...
Pada maklumat awal aku telah tersilap tafsir pakej Unifi ni. Hatta memang aku berminat nak ambil pakej Unifi ni. Angkohnya tafsiran aku tersilap atas penerangan anak buah TMnet yang begitu ghairah nak ramai pelanggang. Mungkin ada komisyen berasingan jika dapat pujuk pelanggang Streamyx ambil pakej Unifi ini. Cara dia promosi produk macamlah semua orang mampu berbelanja bessar nak pakai pakej Unifi ini.
2. Setahu aku Unifi ni adalah pakej 3 dalam satu. Pertama dapat akses internet ada pelbagai kelajuan. 5, 10 dan 20 megabit sesaat (Mbps). Banding. Streamyx jika ikut perjanjian hitam putih aku di rumah cuma 1 Mbps. Siapa tak teruja. Kedua ada TV kabel. Sebenarnya selain Astro memang TMnet dapat lesen untuk buat sewa rancangan TV. Ada beberapa syarikat lagi kerajaan telah luluskan lesen tapi senyap sepi tak dapat menyaingi Astro. Ketiga pakej Unifi ni dapat talian telefon percuma. Jika dail talian tetap ke talian tetap ianya berbuallah 24 jam tanpa kadar bayaran. Jika talian tu dail ke hp seminit kena cas 9 sen.
3. Terkini
pihak Unifi telah mengembangkan perkhidmatan dengan talian internet di
luar rumah atau wireless. Tapi hanya di tempat yang ada pelekat atau
sticker Unifi TMnet. Seperti di KFC hentian rehat R & R restoran
tersohor. Perkara baru ini yang aku tertarik asalnya. Ingatkan TMnet
kasi Wireless Internet Modem. Silap tafsiran. Jika memang kasi
Wireless Internet Modem mahu tutup Broadband Maxis. Aku setuju pada
asalnya ingatkan Wireless Internet Modem ini ujud. Di mana-mana jua
boleh akses internet melalui Unifi. Sebab masa anak buah TMnet promot
aku katanya boleh guna di mana-mana luar rumah. Mungkin aku tak perasan
dia sebut di tempat yang ada pelekat TMnet ni. Isk kanjai.
3i. Patutnya aku dah guna Unifi esok. Tapi minta maaflah tidak lagi; terpaksa aku batalkan sebab memang Mila ada melanggan Maxis Broadband. Dia dah rapat dengan wsapp di luar rumah. Ingatkan boleh hentikan melanggan Maxis jika memang Wireless Internet Modem ini ujud dalam pakej Unifi. Berapa banyak nak guna duit semata-mata nak rapat dengan ICT ini. Patutnya TMnet dapat fikirkan ini untuk satu keluarga hanya cukup menyewa satu pakej seperti Unifi sahaja. Huh.
3i. Patutnya aku dah guna Unifi esok. Tapi minta maaflah tidak lagi; terpaksa aku batalkan sebab memang Mila ada melanggan Maxis Broadband. Dia dah rapat dengan wsapp di luar rumah. Ingatkan boleh hentikan melanggan Maxis jika memang Wireless Internet Modem ini ujud dalam pakej Unifi. Berapa banyak nak guna duit semata-mata nak rapat dengan ICT ini. Patutnya TMnet dapat fikirkan ini untuk satu keluarga hanya cukup menyewa satu pakej seperti Unifi sahaja. Huh.
19 Januari 2015
Melihat Ke Dalam Diri Warga Emas
Melihat Ke Dalam Diri Warga Emas
Rencana
Oleh Melati Mohd Ariff
KUALA LUMPUR, 3 Julai (Bernama) Sesekali pernahkah kita merenung wajah ayah dan ibu yang semakin dimamah usia, dahi dan pipi yang dilakari garisan-garisan halus, terbayangkah bagaimana pula wajah kita tatkala mencapai usia seperti mereka?
Apabila kesabaran bertukar kemarahan melayan kerenah datuk atau nenek yang kembali keanak-anakan, terdetikkah di hati rasa belas dan kasihan?
Menjadi tua mungkin menakutkan bagi sesetengah orang sehinggakan sanggup berbelanja besar untuk "kekal muda" antaranya menjalani pembedahan plastik yang dikatakan dapat mengembalikan kecantikan paras dan wajah.
Ada juga yang mengambil pelbagai jenis makanan tambahan serta suntikan untuk "awet muda".
Apa yang pasti, usia "senja" pasti datang dan kita tidak dapat lari daripada realiti itu sekiranya ditakdirkan umur kita panjang.
TAKRIF USIA EMAS
Kementerian Kesihatan Malaysia mentakrifkan warga usia emas sebagai mereka yang berumur 60 tahun ke atas.
Kadar itu lebih rendah berbanding Pertubuhan Kesihatan Sedunia (WHO) iaitu 65 tahun.
"Takrif umur warga emas Malaysia rendah sedikit kerana kita mahu merangkumkan jumlah yang lebih. Ini juga dasar keprihatinan kerajaan," demikian menurut pakar psikiatri Hospital Permai Johor Bahru, Dr Norazam Harun dalam temubual dengan Bernama baru-baru ini.
Menurut beliau, bilangan warga emas juga semakin meningkat jumlah dan peratusannya.
Peratus warga emas di Malaysia meningkat daripada 5.7 peratus (1990) kepada 6.3 peratus atau lebih kurang 1.4 juta orang pada 2000.
"Bagi 2020, sasaran Malaysia menjadi negara maju, diunjurkan terdapat tiga juta warga usia emas iaitu kira-kira 10 peratus daripada anggaran 32 juta penduduk," jelas Dr Norazam.
Di peringkat global pula, katanya, perangkaan 2002 menunjukkan terdapat 635 juta warga emas berusia 65 tahun di seluruh dunia iaitu sekitar 10 peratus daripada penduduk dunia.
Menjelang 2050, bilangan warga emas dijangka meningkat kepada kira-kira 30 peratus daripada jumlah penduduk dunia.
Menurut beliau, daripada segi jumlah, terdapat lebih ramai warga emas di negara sedang membangun seperti China (230 juta), India (142 juta), Indonesia (29 juta), Brazil (27 juta) dan Pakistan (18 juta) sedangkan kemudahan dan keperluan untuk warga emas tidak diberikan penekanan di negara membangun berbanding di negara maju.
JANGKA HAYAT TURUT MENINGKAT
Dalam masa yang sama, Dr Norazam memberitahu jangka hayat juga meningkat kerana tahap kesihatan yang lebih baik khususnya di negara-negara maju.
Secara puratanya di Malaysia, jangka hayat untuk lelaki meningkat daripada 65 tahun (1990) kepada 70 tahun (2000) sementara untuk perempuan daripada 68 (1990) kepada 76 (2000).
"Bukan sahaja kadar jangka hayat meningkat, jumlahnya juga bertambah. Inilah kebimbangan kesan 'baby boomers' di mana kadar kelahiran bayi meningkat dengan ketara terutamanya di Amerika Syarikat selepas tamat Perang Dunia ke-2.
"Mereka yang lahir pada masa itu jika masih hidup, kini termasuk di dalam kategori warga emas. Melihat kepada peningkatan yang ketara ini, WHO memberikan tumpuan kepada golongan ini dan merancang bagaimana hendak menangani masalah kesihatan dan yang berkaitan di kalangan mereka terutamanya di Amerika Syarikat dan secara umumnya di seluruh dunia," kata Dr Norazam.
MENGAPA JADI TUA DAN KESANNYA
Meskipun penuaan satu proses semula jadi, mengapa manusia menjadi tua masih dilihat sebagai misteri kehidupan yang kompleks. Peningkatan usia juga disertai penurunan fungsi sistem badan.
"Ada beberapa teori mengapa manusia menjadi tua. Yang pertama berkait dengan faktor genetik iaitu sesuatu yang sudah diprogramkan. Sebagai contoh berapa kali sel akan membiak dan menggantikan sel yang lama telah dikodkan dalam program genetik. Katakan diprogramkan untuk 60 tahun, apabila sampai usia 60 tahun, graf aktivitinya mula menurun. Ini tak boleh diubah," kata Dr Norazam.
Untuk teori kedua, seseorang itu menjadi tua, mungkin disebabkan kesan toksin di dalam persekitaran atau pemakanan.
Toksin yang terdapat secara semulajadi di dalam bentuk radikal/ion bebas atau yang dihasilkan bahan kimia, contohnya rokok menyebabkan kematian sel lebih awal daripada kematian secara semulajadi. Ini seterusnya menyebabkan proses penuaan berlaku dengan lebih cepat.
DUA PERUBAHAN
Dr Norazam memberitahu, usia yang meningkat tua menyebabkan perubahan fizikal dan psikologikal.
Perubahan fizikal, katanya membabitkan perubahan dari segi luaran dan dalaman, antaranya kulit semakin mengendur, penglihatan tidak jelas (50 peratus warga emas mengalami masalah penglihatan) dan pendengaran agak kurang (34 peratus di kalangan warga emas).
Warga emas juga mengalami penghazaman yang lambat, sembelit akibat kurang penyerapan air, degup jantung yang tidak berapa kuat dan menyebabkan cepat penat selain paru-paru yang tidak boleh mengembang sepenuhnya yang menghalang seseorang warga usia emas melakukan aktiviti lasak.
Otot warga emas juga akan menjadi semakin lemah dan mudah diserang artritis atau sakit sendi (30 peratus warga emas mengalami masalah kesukaran dalam pergerakan).
PERUBAHAN FIZIKAL
Bagaimanapun, jelas Dr Norazam, perubahan fizikal ini berbeza daripada seorang individu kepada seorang individu lain.
"Ada orang berusia lebih 80 tahun tetapi lebih sihat dan tampak lebih muda berbanding yang berusia 65 tahun. Ini mungkin kerana faktor genetik, faktor pemakanan dan faktor keaktifan hidup orang itu sewaktu muda.
"Orang yang aktif semasa muda dan meneruskan aktivitinya selepas bersara, kadar untuk dia mengalami penyakit berkaitan penuaan kurang kerana mereka lebih sihat. Begitu juga orang yang menggunakan fikiran secara kritikal, mengkaji, meneliti, menganalisis. Kalau dia membaca, bukan setakat baca tetapi baca secara aktif. Orang yang membaca atau belajar secara aktif, contohnya seseorang yang tugasnya melibatkan kajian dan menggunakan otak, otak orang ini lambat dimakan usia," jelas Dr Norazam.
Beliau kemudiannya memberi contoh orang yang bekerja, kemudiannya bersara dan tidak lagi berbuat apa-apa.
Orang berkenaan, katanya, yang hidup terasing akan dilanda kebosanan dan diserang pelbagai penyakit selain kemurungan.
"Kalau dia masih mengekalkan keaktifannya selepas bersara, jumpa dengan kawan-kawan baru dan buat aktiviti-aktiviti baru, dia mampu bertahan lebih lama.
"Ini kerana dia masih menggunakan otak dia seperti sebelum dia bersara. Sebagai contoh seorang yang minat belajar walaupun telah bersara, inilah yang menjadikan dia kekal aktif dan melambatkan dia untuk mendapat penyakit," jelas Dr Norazam.
PERUBAHAN PSIKOLOGIKAL
Mengulas mengenai perubahan psikologikal pula, beliau berkata ia membabitkan pandangan diri sendiri dan pandangan orang lain.
Kebiasaannya, kata Dr Norazam, apabila seseorang itu sudah meningkat usianya seperti apabila dia bersara, dia menganggap inilah masanya untuk berehat setelah berpuluh-puluh tahun bekerja.
"Sikap begini biasanya mengundang penyakit. Sesetengah orang sering berkata alah dah tua tak payah nak belajar lagi atau alah dah tua tak payah nak pergi kursus lagi, sebenarnya itu satu kesilapan. Belajar itu satu proses sepanjang hayat," tambah beliau.
Dr Norazam juga menyentuh tentang faktor pandangan orang lain yang turut menyumbang kepada perubahan psikologikal warga emas.
Dalam hal ini, beliau bercakap mengenai mentaliti anak-anak yang beranggapan ayah atau ibu yang sudah tua tidak lagi perlu berbuat apa-apa.
Anak-anak melakukan semua kerja. Ibu yang dahulunya pandai memasak apabila sudah tua, tidak diberi peluang memasak lagi. Mungkin anak-anak merasa masakan ibu tidak lagi sesedap dahulu atau tidak mahu ibu berbuat sepah di dapur.
Sikap tidak mahu menyusahkan ibu ayah lantas anak-anak membuat semua kerja sebenarnya mendatangkan lebih banyak mudarat daripada kebaikan dalam jangka masa panjang.
"Sebenarnya jika ibu digalakkan memasak dan dia boleh melakukannya dan kemudian kita memuji masakannya, hatinya akan menjadi lebih gembira.
"Anak-anak sering berkata emak tak payah jalan-jalan lagi, tak payah keluar-keluar lagi, duduk diam-diam sahaja. Sebagai contoh emak ayah yang datang dari kampung dan duduk dengan anak-anaknya di bandar, tak buat apa-apa akhirnya mereka menjadi bosan dan balik semula ke kampung," katanya.
PROSES KEMURUNGAN
Warga emas juga, tambahnya tidak terkecuali daripada kemurungan.
"Kemurungan ini ada dua waktu puncak. Yang pertama, awal dewasa dan kedua, di kalangan warga emas. Mereka bukan sahaja menjadi murung apabila berlaku kematian orang yang disayangi malah apabila mengingatkan hari kematiannya yang semakin hampir.
"Semakin dia mengenangkan apa yang telah dilakukannya semasa usia mudanya, mungkin dia banyak melakukan perkara-perkara yang tak wajar, dia menjadi semakin takut sehingga menyebabkan dia didatangi perasaan cemas dan diburu perasaan bersalah," jelasnya.
Satu lagi fenomena yang kerap kali berlaku ialah 'Empty-nest Syndrome'. Anak-anak yang telah dewasa dan bersedia meninggalkan keluarga kerana faktor pekerjaan ataupun telah mempunyai keluarga sendiri setelah berkahwin.
Warga emas terdedah kepada kesunyian serta kebosanan dan mengalami masalah penyesuaian terutama bagi mereka yang terlalu bergantung kepada anak-anak mereka.
LIMA PENYAKIT
Warga emas sering dikaitkan dengan lima jenis penyakit iaitu angin ahmar, sakit jantung sama ada serangan jantung atau lemah jantung, sakit paru-paru, sakit sendi dan jangkitan.
Selain itu, menurut Dr Norazam, terdapat lima keadaan atau lima "i" yang katanya boleh menunjukkan penyakit-penyakit lain yang menjejaskan kesihatan dan kesejahteraan hidup warga emas.
"Pertama, tidak bergerak (Immobility) mungkin disebabkan sakit sendi, sakit jantung atau serangan angin ahmar. Kedua, 'Instability' yang bermaksud keadaan diri yang tidak stabil, contohnya bila bangun menjadi pening dan menyebabkan jatuh atau pandangan kabur. Ketiga, 'Intellectual impairment' yakni daya fikir yang berkurangan.
"Keempat, 'Incontinent', iaitu tidak dapat mengawal/menahan untuk membuang air kecil atau air besar. Kelima, 'Iatrogenic' atau masalah ubat-ubatan sama ada kesan ubat itu sendiri atau kesan tindakan ubat sesama ubat yang lain. Mungkin bila makan ubat yang tak sesuai, jadi pening kepala atau menjadikan dia terlalu letih dan tidur sahaja. Ini akan menimbulkan masalah persepsi di kalangan anak-anak atau pasangan yang dengan cepat melabelkan 'malas' kepada mereka. Walhal puncanya ialah ubat," jelas Dr Norazam.
PERLU TERIMA KENYATAAN
Setiap yang muda akan menjadi tua, setiap yang bernyawa akan mati dan setiap yang sihat akan merasai sakit. Itulah kehidupan!
Namun, biarlah kita menjalani kehidupan kita, dalam apa juga usia, dengan tahap kesihatan yang baik dan hidup yang lebih berkualiti.
Persediaan juga perlu dibuat daripada segi mental dan fizikal dalam menghadapi kehidupan usia "senja".
"Kesihatan yang baik, kewangan yang mencukupi, tempat tinggal yang selesa dan selamat, pemakanan yang berkhasiat perlu diberikan perhatian sebelum tiba usia tua.
"Persediaan perlu dibuat sewaktu sihat dan di kala muda lagi ibarat perupamaan sediakan payung sebelum hujan kerana jika hujan sudah turun, segala-galanya mungkin sudah terlambat," kata Dr Norazam.
Beliau berpendapat, didikan kepada anak-anak untuk memberikan kasih sayang yang tidak berbelah-bagi kepada kedua ibu bapa perlu dipupuk sejak kecil lagi dan secara konsisten.
Katanya, anak-anak perlu dididik untuk menghormati kedua ibu bapa dan bertanggungjawab untuk menjaga kedua-duanya sepertimana ibu bapa menjaga mereka semasa kecil.
Kesemua anak juga, tambah beliau, perlu bekerjasama, bantu-membantu dan bermuafakat untuk penjagaan ibu dan ayah apabila kedua-duanya uzur.
"Pengorbanan untuk menjaga kedua-dua orang tua perlu dilakukan sewaktu mereka masih hidup dan sekiranya kita berbuat baik kepada orang tua kita, nescaya anak-anak kita akan menjadikan kita sebagai contoh untuk mereka teladani. Ini adalah putaran alam kehidupan.
"Sekiranya kita tidak dapat menjaga kedua orang tua kita dengan sempurna, ada eloknya dan tidak salah mendapatkan pembantu rumah khusus untuk menjaga mereka atau mendapatkan penjagaan bagi mereka di tempat yang lebih baik," kata beliau.
Langkah demikian, katanya lebih ihsan daripada orang tua yang uzur terbiar bersendirian dan mengundang pelbagai masalah keselamatan dan kesihatan.
"Penderaan ke atas warga emas secara langsung atau tidak secara langsung atau tidak disedari perlu dielakkan. Konsep keluarga penyayang perlu diterapkan kepada semua ahli keluarga termasuk datuk dan nenek," kata Dr Norazam.
-- BERNAMA
12 Januari 2015
BR1M 4.0 2015
BR1M
1.0 & 2.0 saja sy dapat. Tahun lalu kononnya tiada maklumat isteri
dalam permohonan hahaha agaknya isteri sy tu disyaki orang Endon kut...
top-top bila sy buat aduan di BPA baru ni pihak LHDN dapat pula trace
kononnya isteri sy tu Jutawan Jenaris... pulak cam mana pula dapat no hp
isteri sy ni... alahai misslah BR1M 3.0 sebab isteri orang Endon tahun
ini isteri disyaki seorang jutawan... hatta BR1M 4.0 ni masih blur.
Pesara macam sy ni hanya menerima seadanya sahaja dah buat komplen bab beristeri dengan jutawan ni... sama kes anak buah si Nasuha tahun lalu konon dia kahwin dengan Datin ada moto besar yang mewah di jalan raya maka ditolaklah BR1M 3.0 ... macam-macam alasan LHDH ni.
Tak ada rezekilah tu.
Pesara macam sy ni hanya menerima seadanya sahaja dah buat komplen bab beristeri dengan jutawan ni... sama kes anak buah si Nasuha tahun lalu konon dia kahwin dengan Datin ada moto besar yang mewah di jalan raya maka ditolaklah BR1M 3.0 ... macam-macam alasan LHDH ni.
Tak ada rezekilah tu.
05 Januari 2015
Acha sudah Tiada
Ini adalah catatan terakhir di FB Acha rakanku di SMI Ipoh yang telah tiada. Pegi mengadap Ilahi
Happy New Year 2015
—
berasa berterima kasih bersama Nur Hidayah dan 4 others di Dataran MERDEKA,Kuala Lumpur.
—
- Anda dan 22 yang lain menyukai ini.
- Muhamad Nasiruddin Bin Yahya Lakukan perubahan pada diri kearah kebaikan.
- Nur Hidayah Ya Allah Bantu ku mempertingkatkan keimanan Ku terhadap Mu.Amin
- Muhamad Nasiruddin Bin Yahya Aminnn naaaakkk
- Lina Alin Selamat Tahun Baru abg Nasir
- Muhamad Nasiruddin Bin Yahya Selamat tahun Baru Lina Alin yg budiman.Muhamad Nasiruddin Bin Yahya Luqman Julkaya cuti ker kalau tak mai ler rumah paksu
- Luqman Julkaya Muhamad Nasiruddin Bin Yahya ada exam jumaat nie, nak study sikit, kalau ada masa abg singgah~
- Mono Lee Aca. HNY. Take care.
- Muhamad Nasiruddin Bin Yahya Same to you my dearest friend Mono Lee
- Mono Lee You are not my friend Aca but my brother. Friends melambak tapi belakang lain. Thanks for accepting me as what I am.
- Muhamad Nasiruddin Bin Yahya What a happiest note for joyful new year that I received from warm hearted person Mono Lee
16 Disember 2014
NEUTRAL
Jangan sebab berbeda fahaman politik hubungan jadi hambar. Apa bedanya jika seseorang itu orang BN atau orang PR atau parti bebas sekali pun. Itu adalah hak masing-masing dalam memilih pemimpin. Dalam pilihan raya dalam politik demokrasi.
2. Jangan sebab rakan kita orang kuat PAS dibenci oleh rakan kita orang kuat UMNO. Takkan tak boleh berbual mesra duduk makan semeja. Apakah jika sudah jadi VVIP duduk di parlimen mahu baling-baling bangku. Penumbuk penampar berbalah bermasam muka. Giler ke apa hah?.
3. Jangan sebab bukan satu parti mahu kita jadi seorang hilang jati
diri. Nak benci DS Anwar apa kena mengena dengan rakan kita yang
memihak dia. Nak benci PM Najib kenapa pula nak benci pengikutnya.
3a. Jika sudah benci sangat rakan tak sealiran parti. Jom kita buat macam zaman koboi sewa pistol kat samseng kita beradu tembak. Siapa cepat cekap tembak dia selamat; bunuh saja rakan kita yang tak sealiran parti. Jangan lagi intai rakan kita yang lain parti. Atau tangkap semua pemimpin parti pembangkang sumbat semua dalam penjara sampai mati supaya tak siapa tentang akta awak yang songsang itu. Berpeluk-peluklah dengan rakan sealiran parti sahaja.
5. Amat bodoh & amat naif sebab parti kita nak bermasam muka tak mesra tak bersapa. Apa jika awak tu jadi PM nak duduk seorang di parlimen tu cakap seorang-seorang diri ; habiskan semua harta negara sampai pecah perut boroi awak tu makan duit rakyat jelata.
Atau awak jadi Ketua Pembangkang cakap pang-pang seorang-orang semua orang salah tapi semua orang gelakkan awak sampai kering air liur awak tu tak siapa endah cakap awak. Tak dapat nak pinda apa akta sekali pun. Padan Muka.
Cis!.
3a. Jika sudah benci sangat rakan tak sealiran parti. Jom kita buat macam zaman koboi sewa pistol kat samseng kita beradu tembak. Siapa cepat cekap tembak dia selamat; bunuh saja rakan kita yang tak sealiran parti. Jangan lagi intai rakan kita yang lain parti. Atau tangkap semua pemimpin parti pembangkang sumbat semua dalam penjara sampai mati supaya tak siapa tentang akta awak yang songsang itu. Berpeluk-peluklah dengan rakan sealiran parti sahaja.
5. Amat bodoh & amat naif sebab parti kita nak bermasam muka tak mesra tak bersapa. Apa jika awak tu jadi PM nak duduk seorang di parlimen tu cakap seorang-seorang diri ; habiskan semua harta negara sampai pecah perut boroi awak tu makan duit rakyat jelata.
Atau awak jadi Ketua Pembangkang cakap pang-pang seorang-orang semua orang salah tapi semua orang gelakkan awak sampai kering air liur awak tu tak siapa endah cakap awak. Tak dapat nak pinda apa akta sekali pun. Padan Muka.
Cis!.
15 Disember 2014
Kenapa Isteri-isteri Nabi Muhammad Dilarang Menikah Lagi Setelah Beliau Wafat?
Pertanyaan di atas kerap terlontar oleh kaum bukan Muslim pula oleh
kaum Muslim sendiri. Hal ini di dasari atas keingin tauhan, di karenakan
sifat manusia adalah selalu ingin tahu. Memang ini sebuah pertanyaan
menarik untuk dijawab. Baiklah saya akan mencoba menjawab berdasarkan
Al Quran, kenapa Isteri-isteri nabi Muhammad saw dilarang kawin lagi
setelah beliau (saw) wafat.
Maka lihat surat al-Ahzab (33):6:
6. Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri
mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu bagi mereka (Wa ajzwajuhun umahatukum).
Adalah hal yang sudah diketahui bersama bahwa haram hukumnya menikahi
ibu sendiri dan hal ini pun teredaksi dalam al-Quran, seperti di dalam
surat An Nisaa:23:
23. Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; (hurimat alaykum ummahatukum)
Namun jika kemudian pertanyaannya diteruskan, namun Surah An Nisa :23
diperuntukan kepada ibu kandung kita bukan ibu berdasarkan iman. Perlu
anda ketahui bahwa dalam konsepsi Islam persaudaran yang sebenarnya
adalah berdasarkan jalinan Iman. Begitupun yang terjadi di dalam kasus nabi Nuh as.
Al Anbiyaa’ 21:76: “Dan (ingatlah kisah) Nuh, sebelum itu ketika dia
berdoa, dan Kami memperkenankan doanya, lalu Kami selamatkan dia beserta
keluarganya (wa ahlahuu ) dari bencana yang besar”
Hud: 42. “Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang
laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di
tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami
dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”
43. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang
dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang
melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha
Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka
jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Hud : 45. “Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: “Ya
Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji
Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.
Allah berfirman: ” (Qolla Ya Nuhuu inahu laysaa min ahlikaa) Hai Nuh,
sesungguhnya dia (anak nabi Nuh as) bukanlah termasuk keluargamu,
sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu
janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui
(hakekat)nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu
jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.”
Dari Surat al-Anbiya dan Hud di atas kita di informasikan bahwa anak
nabi Nuh as tidak lagi dipandang sebagai anak kandungnya di mata Allah
SWT (Ya Nuhuu inahu laysaa min ahlikaa).
Dan ada baiknya pula kita melihat surat Al Hujurat :10:
Innamal Mu’minuna ihwatun (bahwa sesungguhnya kaum mu’minun adalah bersaudara).
Jadi dari kronologis sejumlah ayat di atas jelas sudah perihal atau
sebab-musabab isteri-isteri nabi saw tidak menikah lagi setelah wafat
beliau (saw) di karenakan alasan bahwa mereka adalah ibu-ibu kaum
Mukminun. Dan adalah haram hukumnya menikahi ibu-ibu kita.
Wallahu a’llam Bissawab
Langgan:
Catatan (Atom)












